
Ardi sampai di depan kamar hotel, masih dengan perasaan sedih, tadi supir ibunya sudah langsung ia suruh pulang. Ardi langsung masuk ke dalam kamar itu, ia melihat istrinya yang duduk termenung di sofa, entah apa yang istrinya pikiran, hingga kedatangannya saja tidak istrinya dengar. Ardi langsung meletakkan kopernya, lalu langsung mendekati istrinya, setelah sampai ia langsung bertanya pada istrinya
" Mommy, apa yang kau pikirkan?"
" Kaka, kenpa kau berjalan seperti kucing, kenpa aku tidak mendengar langkah kakimu."
Lisa langsung berdiri, ia langsung memeluk suaminya dengan erat, entah kenapa, ia memiliki perasaan yang tidak enak. Ardi juga membalas pelukan dari istrinya, lalu ia langsung bertanya lagi
" Mommy, apa yang kau pikirkan?"
" Aku tidak memikirkan apa-apa kak, hanya saja aku memiliki perasaan yang tidak enak."
" Mommy, sampai kapan kau memanggil dengan panggilan kakak, apa masih marah?"
" Tidak, pih."
Lisa memeluk suaminya sangat lama, bahkan hingga 26 menit, pelukan itu belum ia lepaskan. Ardi sudah merasa sangat capek, hingga 26 menit istrinya masih memeluknya dengan posisi berdiri, tapi ia hanya bisa diam, selama istrinya nyaman, ia tidak masalah dengan hal itu. Walaupun ia memang benar-benar sangat capek, lalu ia langsung berpikir tentang istrinya, karena tidak biasanya seperti ini
" Kenapa Lisa memiliki perasaan yang tidak enak, dan tidak biasanya Lisa memelukku sangat lama, apa Lisa sebenarnya menyembunyikan sesuatu dariku, ." batin Ardi
Setelah sekitar 30 menit, Lisa langsung melepaskan pelukannya, ia langsung menatap wajah suaminya sambil tersenyum, lalu ia langsung minta maaf pada suaminya karena memeluk suaminya terlalu lama
" Mommy minta maaf pih, karena memelukmu terlalu lama."
Ardi yang mendengar ucapan istrinya langsung tersenyum, sekarang istrinya memanggil diri sendiri dengan sebutan mommy, dan memanggil ia juga dengan sebutan papih, itu artinya, istrinya memang sudah tidak merah lagi, lalu ia langsung menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu, ia langsung merangkul bahu istrinya untuk mengajaknya duduk. Setelah duduk Ardi langsung membuka pembicaraan pada istrinya
" Mom, rumah seperti apa yang kau inginkan?"
" Rumah minimalis pih, kita tinggal hanya 3 orang, paling banyak juga 7 orang, jadi tidak perlu besar-besar pih, yang penting nyaman, dan mommy ingin sedikit jauh dari tetangga, kalau bisa di belakang rumahnya ada tanaman sayur-sayuran dan depan rumahnya ada tanaman bunga."
__ADS_1
" Baiklah, nanti papih usahakan."
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Lisa langsung menatap wajah suaminya sambil tersenyum. Ardi juga melakukan hal yang sama seperti istrinya, ia merasa sangat nyaman hanya berdua di ruangan itu, apa lagi melihat senyuman istrinya yang sangat ia rindukan, membuat ia sangat bahagia. Lisa langsung membuka pembicaraan
" Pih, apa kau tidak marah atas keinginanku?"
" Tidak mom, mana mungkin papih marah, papih juga bahagia, hanya berdua di sini, rasanya sangat nyaman."
Lisa langsung membaringkan tubuhnya di sofa, kepalanya di pangkuan suaminya, lalu kedua tangannya, memegang tangan kanan suaminya. Ardi langsung berbicara pada istrinya
" Mom, besok papih akan mencari rumah, jadi mommy diam di sini saja, semoga saja, besok langsung mendapatkan rumah yang cocok untuk kita."
" Iya, semoga saja pih, terus papih besok tidak pergi ke kantor lagi?"
" Tidak perlu di pikirkan, ada Yoga, hari ini Yoga sudah masuk ke kantor. Setelah papih dapat rumah yang cocok baru pergi ke kantor lagi."
" Iya mommy."
Ardi tiba-tiba ingat, kalau ia akan mengambil supir pribadi untuk istrinya, ia pun langsung berbicara pada istrinya
" Mom, setelah kita memiliki rumah, akan ada supir pribadi untuk mommy, apa mommy tidak keberatan?"
" Siapa pih?, apa papih sudah mengenalnya?"
" Belum mom, dia keponakannya BI Ira, pria itu dari kampung."
" Oh."
Ardi yang mendengar jawaban dari istrinya hanya menghela nafas berat, karena istrinya tidak menjawab iya, atau tidak, hanya menjawab dengan oh. Tiba-tiba Lisa kepikiran pada ibu mertuanya, lalu ia langsung bertanya pada suaminya
__ADS_1
" Pih, apa mamah tidak marah atas keputusan mommy?"
" Tidak mom, mana mungkin mamah marah, bahkan mamah sangat senang karena kita sudah baikan, jadi mommy tidak perlu memikirkan tentang mamah, lagian yang mommy ambil benar, kita tidak seharusnya tinggal terus satu rumah dengan orang tua, yang ada kita nanti tidak akan pernah bisa mandiri, apa lagi kita juga akan menambah satu keluarga baru, tentu kita harus belaja dari sekarang, bagaimana harus mengurus anak-anak kita nanti."
" Iya pih."
Ardi langsung membelai rambut istrinya, setelah ia mendengar pertanyaan dari istrinya, ia tau kalau istrinya tidak enak hati pada ibu mertuanya, membuat Ardi bersyukur, kalau ternyata istrinya memang tidak membenci ibunya, mungkin istrinya hanya memiliki kecewakan terhadap ibunya, bagaimana pun juga, dulu ibunya kenal lebih dulu pada istrinya, sebelum ia mengenal istrinya, tapi ibunya seolah-olah tidak percaya dengan ucapan istrinya, mungkin kalau itu terjadi dengan ia juga, ia sangat kecewa, apa lagi selama ini, istrinya sudah belajar menjadi menantu yang baik, tapi pada akhirnya ibu mertuanya tidak percaya dengan ucapannya. Lisa masih memegang tangan suaminya, sambil sesekali ia elus punggung tangan suaminya, apa lagi semenjak Yoga tidak masuk ke kantor, ia tidak pernah lagi tidur di pangkuan suaminya. Walaupun ia kadang-kadang ingin sekali bisa tidur di pangkuan suaminya, tapi ia sebisa mungkin untuk bisa mengerti posisi suaminya yang sedang sibuk. Setelah itu Lisa langsung mengelus perutnya memakai tangan kirinya sambil berbicara
" Sayang, apa kau nyaman berdua sama papih sekarang?, tentu nyaman, sekarang kita hanya bertiga saja sama papih."
Ardi yang mendengar ucapan istrinya, ia hanya tersenyum. Rasanya Ardi juga sangat bahagia, bahkan sepertinya tidak memiliki beban saat mendengar istrinya berbicara dengan janinnya. Walaupun jelas-jelas ia harus memikirkan pekerjaan kantor, tapi setelah melihat itu semua, rasanya lupa akan hal lain. Lisa langsung bertanya pada suaminya
" Pih, kau menginginkan anak kita wanita apa pria?"
" Mommy, mau anak kita wanita ataupun pria tidak masalah, yang penting mommy dan bayi kita selalu sehat, bagi papih itu sudah lebih dari cukup."
Ardi memang tidak peduli, mau bayi itu wanita ataupun pria, ia tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting menurut ia, ibu dan bayinya selalu sehat, itu sudah lebih dari cukup untuknya. Lisa yang mendengar jawaban dari suaminya hanya tersenyum, lalu ia langsung bertanya lagi tentang USG
" Pih, apa papih ingin mommy melakukan USG?"
" Tidak mom, kita tidak perlu melakukan USG, biarkan saja, yang penting mommy harus lebih menjaga kondisi tubuh, agar bayi kita tetap sehat."
" Memangnya kenapa tidak ingin melakukannya pih?"
" Kalau kita melakukan USG, kita sudah tidak penasaran lagi bayi kita wanita atau pria, kalau kita tidak melakukan USG, kita sangat penasaran, dan anggap saja sebuah kejutan untuk kita."
" Iya pih."
Lisa hanya bisa menuruti keinginan suaminya. Walaupun ia ingin sekali melakukan USG, ia ingin tau pengembangan bayi yang ada dalam kandungannya, tapi ia juga tidak ingin mengatakan itu pada suaminya, selama suaminya bahagia baginya sudah cukup
__ADS_1