Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 82. Munafik


__ADS_3

Lisa tidak peduli walaupun jawaban suaminya itu menolak, dirinya tetap saja menginginkan suaminya memiliki tanda kepemilikan, dirinya terus memaksa suaminya yang mencoba menghindari dirinya. Lisa yang belum mendapatkan keinginannya dirinya tidak peduli walaupun suaminya menolak terus bergerak ke kanan dan ke kiri, lalu dirinya langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh suaminya dan di dirinya


" Sekarang sudah sempit, sudah aku tutup selimut tidak bisa bergerak ke kanan dan kiri, maka siap-siap pembalasanku, anggap saja ini hukuman karena kau telah mengabaikan aku beberapa hari ini."


Ardi yang melihat kelakuan istrinya dan mendengarkan ucapan istrinya hanya tersenyum, tanpa menjawab ucapan istrinya, walaupun dirinya menolak untuk di beri tanda kepemilikan, tapi dirinya tetap saja tidak bisa menahan senyumannya karena kelakuan istrinya. Lisa langsung memulai aksinya, dirinya langsung mencium bibir suaminya sekilas lalu langsung turun ke leher suaminya, dirinya memberi beberapa tanda kepemilikan sambil tangannya meraba-raba perut rata suaminya. Ardi hanya diam, dirinya menikmati permainan istrinya hingga nafas dirinya benar-benar memburu. Lisa yang mendengar nafas suaminya membuat dirinya tersenyum, lalu dirinya menghentikan permainannya, lalu langsung berkata


" Munafik."


Ardi lagi-lagi tersenyum setiap mendengar ucapan istrinya yang menurut dirinya konyol. Setelah puas mengasih tanda kepemilikan. Lisa langsung menghentikan aksinya lalu dirinya langsung mengangkat kepalanya, dirinya memandangi wajah suaminya yang memejamkan mata, lalu dirinya mengingiat kelakuan dirinya tadi membuat dirinya sangat malu pada suaminya


" Kenapa kesannya aku yang memaksa."


Walaupun ucapan istrinya lirih, tapi masih bisa di dengar oleh suaminya. Ardi tau pasti istrinya sangat malu, lalu dirinya membuka mata. Ardi dan Lisa saling bertatap mata, masih di dalam selimut. Ardi langsung menarik tubuh istrinya lagi untuk rebahan di dada bidang miliknya. Lisa hanya menuruti suaminya, dirinya menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ardi tau istrinya sangat malu lalu dirinya langsung membuka pembicaraan


" Sayang, tidak perlu malu, kita sudah menikah dan apapun yang kau lakukan sekarang tidak salah, aku juga sangat menikmati permainanmu tadi."


" Jujur saja kak, kesannya jadi seperti wanita murahan, aku jadi malu sendiri."


" Tidak sayang, kenpa harus berbicara seperti itu, aku tidak menganggapmu seperti itu, bukan'kah semalam juga kau sudah memaksaku."


" Semalam beda kak, semalam aku mabuk dan bahkan aku juga marah padamu, karena melihat bibirmu yang bengkak, aku pikir wanita itu yang melakukannya."


" Aku, tidak akan melakukan itu dengan wanita lain sayang."


Ardi langsung mengecup kening istrinya sambil membelai rambut istrinya masih di dalam selimut. Lisa langsung membuka selimut, lalu rebahan di samping suaminya. Ardi langsung menindih istrinya lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh dirinya dan istrinya. Mereka saling bertatap mata


" Kenpa jadi mengikuti aku tadi."


Ardi tidak menjawab ucapan istrinya, lalu dirinya langsung mencium bibir istrinya, ciuman itu menjadi lumut*n. tangan kirinya Ardi langsung bermain di salah satu gunung kembarnya masih di luar baju. Lisa membalas ciuman suaminya sambil memejamkan mata karena dirinya merasakan nikmat setiap suaminya memainkan tangannya pada gunung kembarnya, dan dirinya mulai mendesah pelan. Ardi yang mendengar desahan istrinya, lalu tangan dirinya langsung masuk ke dalam baju istrinya, dirinya langsung memainkan gunung kembarnya di dalam baju, nafas keduanya mulai memburu. Ardi menghentikan ciumannya lalu dirinya menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata, dirinya hanya tersenyum saat melihat wajah istrinya, lalu dirinya langsung berbisik pada telinga istrinya


" Apa mau sekarang sayang?"


Lisa yang mendengar pertanyaan suaminya membuat dirinya bertambah gairah, Karen suara suaminya terdengar sangat seksi di telinganya, tapi dirinya mengingat kejadian tadi pagi yang gagal membuat dirinya mengurungkan ke inginannya, lalu dirinya langsung membuka mata

__ADS_1


" Tidak kak, nanti malam saja, aku takut gagal lagi kalau siang, rasanya tidak enak, Karena sedang nanggung-nanggungnya di ganggu."


Ardi belum juga menjawab ucapan istrinya, tapi dirinya sudah mendengar ketukan pintu dari luar


Tok-tok


" Hahaha, sudah aku bilang tadi kak, pasti bakalan nanggung lagi jika siang."


" Hahaha, benar sayang, aku belum juga menjawab sudah ada orang yang mengetuk pintu."


" Awas aku akan buka pintu."


" Tidak perlu sayang, biar aku saja."


Ardi langsung membuka selimutnya lalu dirinya langsung berdiri. Ardi langsung merapihkan baju tidur dirinya, lalu langsung berjalan mendekat pintu hingga dirinya sampai di dekat pintu. Ardi langsung membuka pintu itu, ternyata di depan ada Intan


" Ada apa?"


Intan belum menjawab pertanyaan Kaka sepupunya, tapi dirinya langsung tertuju pada leher Kaka sepupunya yang ada banyak tanda kepemilikan, membuat Intan mengurungkan niatnya


Setelah menjawab pertanyaan Kaka sepupunya, Intan langsung buru-buru menuruni tangga, memang dirinya tadi mau meminta Lisa untuk mengajari dirinya masak lagi, tapi melihat tanda kepemilikan Kaka sepupunya membuat dirinya mengurungkan niatnya. Ardi hanya melihat Intan yang menuruni tangga


" Gadis aneh, kenpa dia tidak jadi berbicara, bahkan menyuruhku untuk melanjutkan, kenpa Intan seolah-olah tau yang sedang aku lakukan." batin Ardi


Ardi langsung menutup pintu lagi, lalu tidak lupa juga dirinya mengunci pintu, dirinya tidak ingin kalau nanti terpergok oleh orang tuanya, kesannya dirinya seperti sedang pacaran, jika terus saja terlihat oleh ibunya. Lalu dirinya langsung melangkahkan kakinya hingga sampai di ranjang lagi, dirinya langsung duduk di atas ranjang sambil menatap istrinya yang sedang telentang membuat dirinya ingin cepat malam


" Siapa kak?"


" Intan."


" Mau apa Intan kak?"


" Tidak tau sayang, Intan tidak bilang apa-apa."

__ADS_1


" Oh, mungkin mau menyuruhku untuk mengajari masak lagi."


" Iya, mungkin saja, tapi tiba-tiba Intan tidak jadi bilang."


" Jelas Intan tidak mau bilang, dengan keadaan Kaka yang banyak tanda kepemilikan, Intan juga sudah dewasa pasti dia paham."


Lisa hanya tersenyum manis. Ardi baru menyadari kalau dirinya memang tadi di kasih tanda kepemilikan oleh istrinya, akhirinya dirinya tau kenapa Intan mengatakan suruh melanjutkan


" Sayang."


" Iya kak."


" Kau jangan telentang seperti itu sayang, kau tidak tau dengan posisimu seperti itu, kesannya seperti sedang mengodaku."


Lisa yang mendengar ucapan suaminya, dirinya tidak menjawab ucapan suaminya, lalu dirinya langsung duduk sambil menyadarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya


" Sayang, kau mau memiliki anak pertama perempuan apa lelaki?"


" Aku mau dua-duanya."


" Maksudnya, bagaimana sayang?"


" Aku ingin memiliki anak kembar, lelaki dan perempuan, biar kita mengasuh anak saja di rumah."


" Kenpa memangnya sayang."


" Aku tidak suka dengan wanita yang Kaka temui kemarin, walaupun hanya perkerjaan, tapi tatapan matanya sepertinya suka pada kaka, apa lagi Kaka juga tersenyum padanya, membuat aku lebih tidak suka, kalau anaknya dua, kita mengasuh anaknya berdua, biar Kaka tidak melihat wanita lain."


Ardi tidak menjawab ucapan istrinya, dirinya hanya tersenyum saat mendengar ucapan istrinya. Lisa yang belum mendengar jawaban dari suaminya, lalu dirinya langsung bertanya


" Kenpa Kaka tidak menjawab?"


" Sayang, apa kau sedang cemburu?"

__ADS_1


" Tidak, mana mungkin aku cemburu."


Ardi hanya tersenyum saat mendengar jawaban istrinya yang tidak mengakui kalau istrinya sedang cemburu


__ADS_2