Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 44. Menahan Amarah


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka duduk di sofa ruang tv. Mereka menonton film angry bird kesukaan Lisa. Intan mengerutkan keningnya melihat istrinya Ardi yang menurut dirinya seperti anak kecil, bagaimana mungkin dengan usia 23 tahun itu masih menyukai film kartun menurut Intan, sedangkan Mirna dan Ardi sudah biasa bagi mereka sudah tidak aneh karena ini bukan pertama kalinya. Lisa duduk sambil menyadarkan kepala dirinya di dada suaminya, entah apa yang ada di pikiran dirinya hari ini dirinya ingin memamerkan kemesraan pada orang lain, sebenarnya dirinya tidak bermaksud untuk membuat Intan cemburu. Ardi menonton film angry bird sambil membelai rambut istrinya yang memakai bando kelinci, dirinya ingin sekalih menarik telinga kelinci itu seperti anak-anak menurut dirinya, tapi takut istrinya marah jadi sesekali kadang ia maju mundurkan. Lisa mulai risih dengan tangan suaminya itu


" Apa sih kaka?"


" Tidak ada sayang."


Lisa langsung mengalihkan pandangan mata dirinya ia langsung menatap suaminya sambil mengerutkan keningnya. Ardi yang di tatapan oleh istrinya ia pun melihat wajah istrinya


" Ada apa sayang?"


" Tidak ada Kaka."


" Sayang, lebih baik kita masuk kamar, aku ada kerjaan."


" Baiklah Kaka."


" Mamah , Intan, aku sama Lisa masuk kamar dulu."


" Iya sayang."


" Iya kak Ardi."


Lisa bangun dari duduknya ia sudah melebarkan kedua tangannya. Ardi langsung menggendong istrinya menaiki tangga. Di ruang tv tinggal ada Mirna dan Intan


" Intan, dari tadi diam saja kenapa nak?"


" Tidak ada apa-apa Tante."


" Kau sudah punya kekasih belum?, apa kekasihmu bule juga?"


" Belum Tante."

__ADS_1


" Kirain Tante seperti ibumu yang seleranya sama bule-bule."


" Tidak Tante, aku lebih suka pria lokal."


" Iya, yang penting bisa bertanggung jawab dan sayang padamu."


" Iya Tante."


" Tante, aku ini menyukai anak Tante dari dulu, masa tidak paham-paham." Batin Intan


Intan menonton televisi dengan Mirna sambil tersenyum pahit, dari tadi sore dirinya terus saja di buat cemburu oleh istrinya Ardi dan Ardi, keduanya memamerkan kemesraan terus. Intan ingin sekalih menendang wanita yang sudah bermanja-manja pada orang yang dirinya cintai, memang dari di bandara ia sudah memiliki rasa benci pada istrinya Ardi, melihat wajah yang sangat cantik, lekuk tubuh yang sempurna, bahkan sekarang dirinya tidak di kasih satu kesempatan pun untuk memeluk Ardi. Ardi memang baru kembali dari Inggris saat akan menikah, tapi selama 5 tahun dirinya berusaha saat di Inggris tetapi hasilnya nihil, Ardi tidak bisa melihat perhatian dirinya dan kejujuran dirinya, Ardi selalu bilang hanya mencintai mantan kekasihnya, tapi sekarang bahkan Ardi sangat perhatian dengan istrinya, memanjakan istrinya membuat dirinya benar-benar marah


" Wanita sialan." Batin Intan


Mirna memandangi wajah Intan dengan sedikit bingung karena dari Ardi datang hingga sekarang Intan tidak banyak bicara, tidak seperti tadi siang, bahkan Intan seperti memiliki amarah yang Mirna juga tidak tau karena hal apa, tapi Mirna juga seorang wanita ia pun akhirnya berpikir kalau Intan menyukai Ardi, tapi dirinya menampik pikiran itu karena Intan dan Ardi adalah sepupu tidak mungkin menyukai sepupunya sendiri, dari pada terus saja sama-sama diam Mirna pun membuka pembicaraan


" Intan, kenapa diam saja nak, atau karena istrinya Ardi tidak banyak bicara pada Intan?"


" Tidak Tante, mungkin Lisa belum terbiasa."


" Iya Tante."


" Apa maksud Tante, apa Tante tau kalau aku sekarang memiliki kebencian pada wanita sialan itu." Batin Intan


" Apa yang Intan pikiran, Intan bukan Gadis pemarah, tapi sekarang sepertinya sedang menahan amarahnya." Batin Mirna


Mirna dan Intan pun hanya diam. Mirna juga bingung dirinya akan berbicara apa melihat Intan hanya diam saja


...****************...


Ardi sampai di dalam kamar dirinya langsung menurunkan istrinya di atas ranjang, lalu dirinya duduk di samping istrinya, ia menatap mata istrinya dengan tatapan bahagia, dan seperti mimpi melihat perubahan sikap istrinya. Lisa hanya menatap suaminya sambil tersenyum, yang awalnya saat akan menjemput Intan terus saja bertanya-tanya kenapa suaminya tidak menyukai Intan, bukan'kah mereka berdua sepupu, tapi sekarang lupa, karena dirinya sangat bahagia bisa bersama orang yang dirinya cintai. Keduanya terus saja saling pandang satu sama lain hingga Ardi ingat kalau dirinya masih memiliki pekerjaan untuk besok miteeng, lalu Ardi langsung berdiri

__ADS_1


" Sayang, kau tidur duluan, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan untuk besok."


" Tidak mau, aku mau menunggu Kaka sampai selsai."


" Sekarang sudah malam sayang, besok juga kau harus kerja."


" Tidak mau."


" Baiklah sayang, kalau begitu tunggu aku sampai selsai."


" Iya Kaka."


Ardi tidak ingin berdebat dengan istrinya karena akan membuang-buang waktu. Walaupun sekarang memang sudah menujukan pukul 22.00 WIB, dan dirinya merasa kasihan pada istrinya, tapi mau bagaimana lagi sekarang dirinya sangat sibuk dengan pekerjaan kantor. Ardi langsung berjalan ke ruang kerja di ikuti istrinya yang ada di samping dirinya sambil bergelayut manja di pergelangan tangan dirinya, hingga mereka sampai di ruang kerja. Lisa langsung melepaskan pegangan tangan, lalu Ardi langsung duduk ia langsung membuka laptop dan fokus pada kerjaan, sedangkan Lisa duduk di sofa sambil bola matanya terus saja melihat sekeliling ruangan itu. Walaupun dirinya menikah dengan Ardi sudah 1 bulan, tapi Lisa belum pernah masuk ke dalam ruangan kerja suaminya karena dulu dirinya sangat tidak peduli dengan suaminya itu. Lisa tidak menyangka di ruangan itu semua barang-barang milik dirinya saat masih mereka pacaran, dulu dirinya suka sekali beli patung-patung kecil dan boneka-boneka kecil untuk Ardi


" Memalukan, kenapa dulu aku sangat konyol, tapi aku tidak pernah menyangka kalau Kaka masih terus menyimpan barang-barang dariku, bahkan di susun rapih olehnya." Batin Lisa


Lisa melihat suaminya yang masih fokus pada kerjanya ia sesekali tersenyum sendiri, walaupun Ardi tidak melirik sama sekali pada dirinya, tapi dirinya terus saja memandangi wajah serius suaminya hingga dirinya lelah karena terus saja duduk. Lisa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, lalu dirinya melangkahkan kakinya mendekati suaminya hingga ia sampai di samping suaminya. Ardi melirik ke istrinya


" Sayang, apa kau sudah mau tidur?"


" Belum kak."


" Sekarang sudah malam sayang."


" Iya kak, tapi aku mau menunggu Kaka."


" Baiklah sayang."


Ardi fokus lagi pada kerjanya. Lisa yang merasa di abaikan dirinya langsung menyingkirkan tangan kanan suaminya lalu dirinya duduk di pangkuan suaminya. Ardi menatap istrinya sedikit bingung lalu ia memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu tanpa bicara ia fokus lagi dalam pekerjaanya. Lisa memutar otak agar suaminya itu tidak fokus pada pekerjaan karena dirinya masih sangat rindu dengan suaminya dan masih memikirkan pikiran mesum, lalu Lisa langsung membalikkan tubuhnya ia menatap wajah suaminya dan bibirnya. Lisa tanpa malu langsung mencium bibir suaminya sekilas. Ardi yang awalnya masih fokus dalam pekerjaan, tapi sekarang membuat dirinya juga menginginkan hal yang sama ia langsung menatap istrinya


" Sudah siap."

__ADS_1


" Siap apa kak."


" Malam pertama."


__ADS_2