
Ardi dan Lisa tidur hingga 2 jam lamanya. Ardi bangunan lebih dulu, dirinya langsung menatap wajah istrinya yang masih tidur pulas. Ardi langsung berdiri lalu berjalan ke tempat meja rias istrinya, dirinya masih penasaran tentang gantungan tas yang selalu di bawa istrinya. Ardi mengambil gantungan tas istrinya, karena penasaran, istrinya setiap berganti tas, tapi gantung itu selalu di pindahkan oleh istrinya, gantungan itu hanya berbentuk kotak kecil, yang terbuat dari kain dan ada kancing. Ardi membuka kancing gantung itu, dirinya melihat Lisa bersama Livino di usia 8 tahun
" Jadi, Lisa selalu membawa gantung ini, karena ada foto Livino." Batin Ardi
Ardi langsung menutup lalu mengacing lagi, dirinya langsung berjalan mendekati istrinya. Ardi duduk di atas ranjang, dirinya menatap wajah istrinya yang masih tidur pulas
" Lisa, apa aku bisa menggantikan Livino di hatimu, aku tau Livino orang yang sangat baik. Livino mau mengalah agar rumah tangga kita tetap utuh, aku tidak pernah tau, kalau Livino memiliki sifat yang sangat baik, mungkin itu kenapa kau sangat mencintai Livino." Batin Ardi
Ardi terus saja menatap wajah istrinya yang sedang tidur pulas. Setelah sekitar 43 menit Lisa terbangun dari tidurnya, dirinya masih berbaring. Lisa melihat suaminya yang sedang menatap dirinya
" Apa yang Kaka lihat? Tanya Lisa sambil mengusap pipinya memakai kedua tangan dirinya
" Tidak ada ko sayang."
Ardi merapihkan rambut istrinya yang berantakan. Lisa langsung duduk lalu dirinya menatap mata suaminya, dirinya menemukan sesuatu yang tidak bisa suaminya ungkapkan, jadi dirinya memutuskan bertanya
" Apa ada sesuatu yang akan Kaka tanyakan?"
" Tidak ada sayang, lebih baik mandi sekarang sudah sore."
" Iya kak."
Lisa bukannya bangun, tapi dirinya memudurkan tubuhnya untuk menyadarkan kepalanya, di kepala ranjang
" Sayang, sekarang sudah jam 05.00. apa mau aku antar?"
Lisa tidak menjawab pertanyaan suaminya, dirinya langsung berdiri lalu lari ke dalam kamar mandi
Bruk..
Lisa menutup pintu dengan kencang lalu langsung mengunci pintunya. Ardi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya
" Suruh siapa, sudah sore masih saja susah mandi." Batin Ardi
Lisa langsung menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya sambil tersenyum berpikir tentang suaminya
" Dasar mesum, kenapa Ardi hari ini mesum sekali, menyebalkan, tapi nikmat." Batin Lisa
__ADS_1
Lisa mandi masih terus tersenyum, dirinya terus saja membayangkan yang telah suaminya lakukan pada dirinya, hingga dirinya selesai mandi, tapi senyuman itu masih saja ada. Lisa keluar kamar mandi dengan rambut basah yang di biarkan terui dirinya langsung duduk di meja rias. Ardi langsung mendekati istrinya lalu dirinya di samping istrinya
" Sayang apa mau aku bantu keringkan rambutmu?"
" Tidak perlu kak."
Ardi masih berdiri, dirinya terus menatap Lisa yang sedang mengeringkan rambutnya, tapi dirinya tertuju pada bibir seksi istrinya rambut yang basah membuat dirinya memikirkan hal kotor. Ardi menelan air liurnya sendiri
" Apa yang aku pikirkan, Ardi ingat jangan memikirkan hal yang mesum." Batin Ardi yang memperingatkan diri sendiri
Setelah Lisa selsai. Lisa langsung berdiri lalu membalikkan badannya pada suaminya, dirinya menatap mata suaminya yang penuh heran, karena suaminya terus saja menatapnya
" Kenapa Kaka menatapku seperti itu?"
" Tidak ada sayang."
" Apa ada yang Kaka ingin tanyakan?"
" Lisa, siapa yang ingin menanyakan sesuatu, aku hanya ingin cepat malam, agar bisa malam pertama." Batin Ardi
Lisa melirik jam yang ada di meja rias
" Sial, sekarang sudah jam 06.30. bagaimana nanti malam, apa aku harus melayaninya, tidak, tidak boleh Lisa, suamimu belum menjelaskan yang sebenarnya, kau tidak boleh tergoda rayuan manisnya, jika kau tergoda kau orang yang paling bodoh." Batin Lisa yang memperingatkan diri sendiri
" Sayang, apa kau sudah ingin punya anak?"
Tidak tau ada apa di pikiran Ardi, tiba-tiba dirinya menanyakan tentang anak pada istrinya
" Apa, anak, apa yang ada di pikirannya, kenapa Ardi bertanya seperti itu, untuk melayanimu saja aku belum tau, siap atau tidak, kau bahkan memikirkan anak." Batin Lisa
" Kenapa aku tiba-tiba menanyakan hal itu, Lisa pasti belum siap, bahkan dirinya tidak menjawab pertanyaanku." Batin Ardi
" Kak, aku belum siap, aku masih ingin menjadi dokter."
Wajah Ardi mulai kecewa, dugaan dirinya memang benar Lisa belum siap untuk memiliki anak, dirinya belum siap untuk melepaskan gelar sebagai dokter. Ardi tau, cita-cita Lisa yang ingin menjadi dokter, karena satu alasan, yang Ardi tidak pernah tau, alasan apa istrinya selalu ingin menjadi dokter, istrinya hanya bilang ingin menjadi dokter karena seseorang, tapi istrinya tidak pernah mengatakan, siapa nama orang itu. Lisa menatap mata suaminya, dirinya menemukan ke kecewaan di mata suaminya
" Kak, bukan hanya belum siap punya anak, tapi aku juga belum siap melayanimu, aku masih ragu dan takut, walaupun aku merasakan ke bahagiaan, tapi aku tetap takut, takut 5 tahun yang lalu akan terulang lagi." Batin Lisa
__ADS_1
Ardi tetap menanyakan apa alasan istrinya, karena dirinya belum pernah tau apa alasan istrinya yang selalu ingin menjadi dokter, dan kenapa belum siap. Ardi memegang kedua tangan istrinya
" Sayang, apa alasanmu ingin menjadi dokter, dan kenapa belum siap, sekarang kau sudah tidak muda lagi, tolong jelaskan?"
Lisa diam sebentar, dirinya jujur atau tidak, karena dirinya ingin menjadi dokter, ingin seperti Livino, tapi dirinya takut salah paham lagi. Ardi menatap mata istrinya, yang seperti memikirkan sesuatu
" Apa Lisa menjadi dokter karena Livino." Batin Ardi
Ardi bertanya lagi karena istrinya diam saja seperti memikirkan sesuatu
" Sayang, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
" Iya kak, aku memang ingin menjadi dokter saja, tidak ada alasan lain."
" Sayang, saat kita masih pacaran, kau ingin menjadi dokter karena seseorang, yang tidak pernah kau jelaskan, siapa orang itu."
" Sial, bahkan Ardi masih saja ingat kata-kataku." Batin Lisa
" Apa yang istriku sembunyikan, apa benar karena Livino." Batin Ardi
Lisa tidak ingin berbohong lagi, mau suaminya marah atau tidak yang penting dirinya sudah jujur
" Iya kak, aku memang ingin jadi dokter karena kak Livino, aku ingin seperti kak Livino, itu alasannya" Jawab Lisa sambil menundukkan kepala
Ardi tau, istrinya takut kalau dirinya marah. Ardi langsung menarik istrinya dalam pelukannya. Ardi juga tidak ingin marah karena istrinya sudah berusaha jujur, walaupun hati Ardi sedikit sakit, tapi istrinya dan Livino sudah kenal lebih dulu, terlebih lagi Ardi tau, Livino orang yang baik, bahkan Livino merelakan dirinya dengan Lisa, yang Ardi tau, Lisa adalah kekasih kecil Livino
" Sayang, tidak perlu takut, aku tidak akan marah." Ucap Ardi dengan lirih
Lisa menjawab hanya dengan anggukan kepala, dirinya masih di pelukan suaminya. Setelah beberapa menit Lisa dan Ardi melepaskan pelukannya
" Sayang, aku tidak akan marah, atau membentakmu, itu tidak akan pernah terjadi lagi, yang penting apa pun kau harus jujur, hanya itu yang aku minta."
" Iya kak, aku akan berusaha untuk jujur."
" Baiklah sayang, janji."
" Iya kak, tapi aku tidak bisa janji."
__ADS_1