
Mobil itu sampai di bandara pak Rusdi langsung memarkirkan mobilnya, lalu ia turun untuk membukan pintu majikannya. Mirna dan Lisa turun, ternyata Intan sudah menunggu di depan. Pak Rusdi langsung mengambil koper yang di bawa Intan. Lalu Intan dan Mirna saling berpelukan
" Tante, Intan sangat rindu."
" Sama Tante juga Intan."
Setelah sekitar 1 menit Mirna dan Intan melepaskan pelukannya. Mata Intan membuat sempurna setelah melihat Gadis cantik yang ada di samping Tantenya
" Ya ampun, cantik sekali Gadis yang ada di samping Tante, apa dia istri kak Ardi, kenapa Tante menjodohkan dengan Gadis ini, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kak Ardi, apa kak Ardi menyukai Gadis ini atau tidak." Batin Intan yang terus menatap wajah Lisa dengan tatapan kagum dan benci
" Intan, ini istrinya kak Ardi."
" Oh, iya Tante."
Lalu Intan mengulurkan tangan untuk berkenalan. Lisa juga menjabat uluran tangan Intan
" Aku, Intan."
" Aku, Lisa."
Lalu mereka melepaskan jabatan tangan itu. Intan sudah mulai sedikit kesal melihat senyum di bibir Lisa yang sangat indah bagi dirinya
" Sial, istrinya kak Ardi, cantik, manis, dan senyuman yang menggoda, apa yakin kak Ardi tidak tertarik dengan Gadis ini, kenapa nama Gadis ini sama dengan mantan kekasih kak Ardi." Batin Intan
Ardi memang pernah cerita pada Intan kalau mantan kekasihnya bernama Lisa, tapi dirinya belum pernah melihat fotonya
" Ayo masuk mobil."
" Iya Tante."
Mirna, Lisa dan Intan langsung masuk ke dalam mobil. Pak Rusdi langsung melajukukan mobil itu untuk pulang. Di dalam mobil Intan terus saja menatap Lisa, karena Lisa duduk di depan bersama Pak Rusdi sedangkan Intan bersama Mirna di belakang
" Baru juga datang aku sudah kesal dengan Gadis ini, kenapa saingan aku sangat cantik." Batin Intan
Lisa yang mengingat perkataan suaminya yang tidak henti-henti menanyakan pada mamahnya membuat ia bertanya-tanya tentang Gadis bernama Intan
" Kenapa suamiku tidak suka dengan Gadis ini, tidak ada yang salah dalam penampilan Gadis ini ada apa sebenernya." Batin Lisa
" Intan bagaimana kabar mamahmu?"
" Baik-baik saja Tante."
" Syukurlah kalau baik-baik saja."
Setelah menempuh perjalanan 34 menit menit mobil itu sampai di pekarangan rumah. Lalu pak Rusdi langsung turun ia membukakan pintu mobil untuk majikannya. Mereka semua masuk ke dalam rumah di ikuti pak Rusdi sambil membawa koper hingga mereka sampai di ruang tamu
__ADS_1
" Istirahat apa mau mandi dulu Intan?"
" Nanti saja Tante, Intan ingin istirahat dulu."
" Baiklah, mau minum apa?"
" Air putih saja Tante."
Intan langsung duduk di sofa ruang tamu ia melihat sekelilingnya tidak ada yang berubah sama sekali. Lidia langsung menungkan air minum untuk Intan
" Minum dulu."
" Iya Tante."
" Mah, Lisa masuk kamar dulu."
" Iya sayang."
Lisa langsung menaiki tangga untuk ke kamar tanpa berpamitan dengan Intan, karena bagi dirinya Gadis itu tidak kenal hingga dirinya sampai di kamar, lalu ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang
...****************...
Ardi yang sudah ada di ruangan kerja, dirinya terus saja memikirkan Lisa karena dirinya takut Intan mejadi orang ke tiga, baru saja selesai masalah tentang Livino
" Jangan sampai rumah tangga aku hancur karena wanita itu, apa benar Intan karena ingin bekerja di rumah sakit Harapan, atau Intan ingin menghancurkan rumah tanggaku." Batin Ardi
Santi langsung membukakan pintu untuk Yoga
" Siang pak Yoga." Sapa Santi sambil membukukan badan
" Iya, siang juga."
Lalu ia masuk ke dalam ruangan ardi, dirinya melihat Ardi yang sedang melamun
" Apa jangan-jangan aku kesini bukan waktu yang tepat, bagaimana jika melontarkan pertanyaan pribadi lagi." Batin Yoga yang terus saja menatap sahabatnya
" Siang pak CEO, ini laporan yang di minta." Ucap Yoga sambil menyerahkan dokumen
Ardi tidak menjawab perkataan Yoga karena dirinya masih belum sadar dari lamun yang membuat dirinya memiliki rasa takut. Yoga memanggil Ardi lagi karena tidak ada Jawaban
" Pak CEO."
Lalu Ardi sadar dari lamunannya
" Iya."
__ADS_1
" Ini laporan yang pak CEO minta."
Ardi mengambil dokumen yang di serahkan Yoga ia meletakkan di atas meja lalu ia langsung berjalan ke sofa
" Yoga kesini dulu."
Yoga pun berjalan mendekati Ardi dirinya duduk di samping Ardi yang sudah mulai kesal, karena setiap ke ruangan pak CEO pasti akan ada sangkut paut dengan masalah rumah tangga pak CEO itu
" Yoga, ulet bulu sudah datang."
" Benarkah?"
" Iya, sekarang akan tinggal di rumahku, kau tau, ulet bulu menyukaiku bagaimana kalau berbicara yang membuat Lisa marah?"
" Ya ampun, tuh benarkan pasti masalah rumah tangga lagi, Ardi yang nikah kenapa aku yang di buat pusing." Batin Yoga
" Lalu pak CEO mau bagaimana?"
" Kenapa kau jadi bertanya balik, bukankah kau menyukai ulet bulu?"
" Aku sudah menyukainya sejak lama, tapi aku tidak ingin lagi berjuang untuk orang yang tidak pernah menghargai aku."
Wajah Yoga langsung murung ia sadar karena perjuangan dirinya tidak pernah di hargai oleh Intan, dirinya menyukai Intan dari Yoga kuliah di Inggris, sudah cukup selama 3 tahun dirinya berjuang untuk Gadis itu, tapi kini dirinya tidak ingin lagi berjuang untuk Gadis itu
" Yoga, bukankah kau yang menasahti aku suruh berjuang, dan sekarang kau menyerah?"
" Pak CEO."
" Ardi, aku ini sedang curhat masalah pribadi bukan kerjaan." Ucap Ardi yang memotong pembicaraan
" Baiklah Ardi, aku tidak ingin lagi berjuang untuk orang yang tidak pernah mencintai aku, apa lagi aku tau, Intan hanya mencintaimu aku tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama."
" Jika kau tidak ingin berjuang lalu bagaimana hubungan aku sama Lisa?"
" Ya ampun, Ardi menasehati aku agar berjuang, tapi ternyata takut rumah tangga dirinya hancur, Yoga nasibmu buruk banget punya sahabat yang hanya memanfaatkan keadaan." Batin Yoga
" Ardi, aku juga masih mencintai Intan, aku juga tidak ingin berjuang lagi, tapi aku akan usahakan agar hubungan kalian baik-baik saja, bagaimana pun juga kau adalah sahabatku, satu lagi itu Intan itu manusia bukan ulet bulu."
" Bagaimana wanita itu di bilang manusia jelas-jelas wanita sialan itu naik ke atas ranjangku tanpa sepengetahuan aku, apa masih di bilang manusia?"
" Terserah, yang jelas aku akan berusaha untuk mengejar intan lagi, selama aku bisa membantu, aku akan usahakan untuk membantu, tapi jika aku gagal, aku tidak ingin lagi berjuang untuk Intan."
"Baiklah Yoga, kau sahabat yang paling baik."
" Apa, Ardi bilang aku ini sahabat baik, kalau saja keluargaku bukan ayahnya yang membantu mana mungkin aku mau membantunya, apa lagi masalah Intan, aku sudah tidak ingin berjuang untuk Gadis itu lagi, tapi aku sadar ayah Ardi yang mengasih dana untuk modal orang tuaku, dan membiayai kuliah aku." Batin Yoga
__ADS_1
" Sama-sama, aku adalah sahabatmu."
Ardi tersenyum setelah mendengar perkataan dari sahabatnya yang mau membantu dirinya sedangkan Yoga tersenyum terpaksa karena sebenernya dirinya tidak ingin lagi berjuang untuk Gadis yang tidak pernah menghargai dirinya, tapi mau bagaimana lagi keluarga Ardi yang membantu keluarganya Yoga