Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB. 83


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sekarang Ardi, Lisa, Mirna dan Intan sudah ada di meja makan hanya Ardian yang belum pulang karena memiliki pekerjaan ke luar kota. Mirna dan Intan hanya tersenyum melihat Ardi yang penuh dengan tanda kepemilikan sedangkan leher Lisa di tutup pakai syal kecil, karena dirinya sangat malu kalau selalu di tatap terus oleh Intan dan ibu mertuanya, tapi tetap saja walaupun dirinya memakai syal kecil, ibu mertuanya dan Intan tersenyum. Intan juga tadi tidak jadi bertemu dengan Yoga karena tidak ada yang mengajari dirinya masak, kalau dirinya harus masak yang pernah dirinya bawa saat itu juga malu karena tidak mungkin itu-itu saja. Sekarang semuanya makan seperti biasa tidak ada pembicaraan, tapi di bibir mereka terpancar senyuman manis yang menghiasi di setiap kunyahan. Ardi dan Lisa selsai lebih dulu, lalu mereka langsung berdiri


" Mah, Intan,Ardi sama Lisa masuk kamar dulu."


" Iya sayang."


" Iya kak, langsung masuk kamar lalu langsung cepat buat keponakan, biar aku cepat di panggil Tante."


Wajah Lisa langsung merah setelah mendengar ucapan Intan


" Apaan sih."


" Tidak perlu malu Lisa, aku juga keluargamu, kenpa wajahmu sudah merah?"


" Ah tidak."


" Intan, tidak perlu menggoda istriku."


" Iya, kak."

__ADS_1


Mirna melihat percakapan mereka hanya tersenyum. Ardi dan Lisa langsung menaiki tangga hingga dirinya sampai di kamar. Ardi langsung ke kamar mandi sedangkan Lisa langsung duduk di meja rias, dirinya menatap wajahnya di pantulan cermin sambil memikirkan bagaimana nanti malam pertamanya, harus berbuat apa dirinya, bahkan dirinya juga sangat malu kalau memperlihatkan seluruh tubuhnya. Ardi setelah dari kamar mandi langsung mendekati istrinya di meja rias hingga dirinya sampai di samping istrinya, lalu dirinya langsung berbisik pada telinga istrinya


" Sayang, apa sudah siap?"


Lisa yang mendengar suara seksi suaminya membuat bulu kuduknya berdiri, entah apa yang harus dirinya lakukan, walaupun dirinya sangat liar pada suaminya tadi siang, tapi sekarang dirinya bingung dan takut membuat dirinya hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Ardi langsung memegang kedua bahu istrinya. Lisa yang di pegang bahunya oleh suaminya, dirinya langsung memutarkan badan menghadap suaminya, dirinya menatap wajah suaminya yang terlihat ceriah. Ardi langsung berjongkok di depan istrinya lalu langsung bertanya


" Apa kau masih meragukan sesuatu?"


Lisa hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ardi yang sudah mengetahui jawaban istrinya sedikit bahagia, tapi entah kenapa wajah istrinya sangat pucat sekarang, lalu dirinya memutuskan untuk bertanya lagi


" Apa sayang sakit?"


Lisa masih menjawab dengan gelengan kepala, membuat Ardi sedikit bingung, lalu dirinya bertanya lagi


Lisa langsung menjawab dengan anggukan kepala. Ardi lalu berdiri, dirinya langsung mengecup kening istrinya


" Tidak perlu takut, kita melakukannya pelan-pelan."


Lisa menjawab masih dengan anggukan kepala, entah kenapa mulut dirinya sekarang meresa tidak bisa berkata-kata, yang ada di pikiran dirinya sekarang takut dan malu, dirinya takut sakit karena dirinya pernah mendengar cerita sahabatnya saat kuliah, malu, dirinya sangat malu jika seluruh tubuhnya itu harus di lihat oleh orang lain selain dirinya, walaupun suaminya sudah meraba-raba, tapi itu hanya meraba-raba saja, tidak memperlihatkan seluruh tubuhnya. Jika dirinya menolak juga tidak mungkin, dirinya juga sama seperti suaminya, dirinya juga menginginkan rumah tangganya seperti orang tuanya. Ardi langsung mengangkat tubuh istrinya berjalan menuju ranjang hingga dirinya sampai di samping ranjang, lalu langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, setelah itu dirinya langsung melepaskan baju tidurnya hingga dirinya sekarang hanya memakan baju dalam. Wajah Lisa semakin pucat, rasanya mulai gemetar dan panas dingin, AC yang di hidupkan full itu tidak bisa menghilangkan panas yang dirinya rasakan sekarang. Ardi langsung naik ke atas ranjang. Lisa yang melihat suaminya naik ke atas ranjang dirinya langsung duduk. Ardi hanya tersenyum melihat istrinya yang sekarang, pedahal jelas-jelas tadi siang istrinya itu sangat liar, tapi saat malam pertama akan di mulai, wajah istrinya juga mendadak pucat, dan kering dingin. Ardi langsung membuka semua kancing baju istrinya, sekarang istrinya hanya memakai tangtop

__ADS_1


" Kak."


" Iya sayang."


" Bisakah matikan lampu, aku malu."


" Kenpa harus malu?, aku adalah suamimu bukan orang lain, dan seluruh tubuhnmu juga milikku."


" Iya, tapi tetap saja aku malu, Kaka belum pernah melihat seluruh tubuh."


Ardi hanya menuruti permintaan istrinya karena tongkat dirinya sudah berdiri, dirinya tidak mau kalu harus menunggu lebih lama, walaupun dirinya tidak suka dengan kegelapan, bukan tidak suka melainkan dirinya memiliki rasa takut setiap ada di ruangan gelap, tapi sekarang dirinya melawan rasa takut itu karena sekarang di samping dirinya juga ada istrinya, setelah dirinya mematikan lampu, dirinya langsung memeluk istrinya


" Apa sudah siap sayang?"


Lisa hanya menjawab dengan menganggukkan kepala. Ardi langsung meraih dagu istrinya lalu dirinya mulai dari ciuman, sebenarnya tongkat yang di dalam celana sudah tidak tahan, tapi dirinya mengasih rangsangan dulu terhadap istrinya. Lisa yang awalnya takut, tapi sekarang mulai menikmati lumut*an lembut bibir suaminya. Ardi langsung membimbing istrinya untuk rebahan, lalu tangan kanan dirinya langsung menyelusup ke dalam tangtop sedangkan tangan kirinya mengusap lembut bagian sensitif istrinya masih di luar celana. Nafas Ardi dan Lisa Mulai membuaru, keduanya sangat menikmati permainan mereka. Ardi dengan perlahan-lahan membuka celana istrinya dengan tangan kirinya hingga sekarang istrinya hanya memakai tengtop dan celana d*lam, ciuman Ardi turun ke leher lalu terus turun hingga berhenti di gunung kembar istrinya, lalu dirinya langsung membuka tengtop dan bara istrinya, setelah itu dirinya langsung menghisap salah satu gunung kembar istrinya. Lisa yang merasa nikmat yang belum dirinya rasakan membuat dirinya lupa hal takut yang dirinya tadi rasakan. Ardi terus menghisap lembut sambil sesekali dirinya memberi tanda kepemilikan di dada istrinya, tangan kiri Ardi lalu menyusup masuk ke area sensitif istrinya, dirinya mengelus pelan. Lisa yang menikmati permainan suaminya dirinya hanya mendesah pelan. setelah lama bermain di gunung kembarnya, lalu dirinya langsung mencium di seluruh lekuk tubuh istrinya, dan tidak lupa dirinya memberi tanda kepemilikan di perut rata istrinya. Ardi yang merasa istrinya sudah tidak memiliki rasa takut lagi lalu dirinya langsung mendekati telinga istrinya


" Apa sudah siap sayang."


" Iya kak, tapi pelan-pelan kak."

__ADS_1


" Iya sayang."


Ardi langsung membuka celana dirinya, lalu langsung membuka celana dal*m istrinya, sekarang dirinya dan istrinya benar-benar sudah tidak memakai sehelai kain pun. Ardi langsung mengarahkan tongkatnya pada mahkota milik istrinya, dengan perlahan-lahan yang penting pasti. Lisa yang merasa ada benda tumpul mencoba masuk dirinya hanya meremas bantal dengan sekuat-kuatnya, keringkan dingin yang tadi hilang mendadak kembali seketika. Ardi juga melakukannya dengan sangat hati-hati, dirinya juga tidak mau kalau sampai istrinya merasakan sakit, hingga Ardi berhasil menembus mahkota milik istrinya, dirinya mulai memaju mundurkan dengan perlahan. Suara desahan Lisa sekarang sedikit keras karena dirinya benar-benar merasakan sakit dan menikmati permainan suaminya


__ADS_2