Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 38. Lapar


__ADS_3

Setelah selesai mandi Lisa langsung berjalan ke luar dari kamar mandi, dirinya melihat suaminya yang masih setia duduk di sofa


" Kaka cepet mandi!." Teriak Lisa


Ardi langsung menengok ke arah istrinya, dirinya hanya tersenyum, ini pertama kalinya istrinya teriak. Lisa menatap wajah suaminya dengan tatapan bingung, dirinya garuk-garuk kepala yang tidak gatal


" Sini sayang." Panggil Ardi sambil tersenyum


" Iya Kaka."


Lisa langsung berjalan menghampiri suaminya, setelah di depan suaminya. Ardi langsung menarik tangan istrinya hingga terduduk di pangkuan dirinya, mata Lisa dan mata Ardi saling beradu. Ardi mendekatkan wajahnya lalu dirinya langsung membisikkan sesuatu pada telinga istrinya


" Apa sudah siap, nanti malam?"


Ardi langsung menjauhkan lagi wajahnya. Lisa setelah mendengar perkataan suaminya, mata dirinya langsung membulat sempurna, tatapan Lisa kini berubah menjadi tatapan tajam yang tidak bisa di artikan pada suaminya. Ardi tetap tersenyum melihat istrinya yang menatap dirinya dengan tatapan tajam


" Aku sedang."


Ardi langsung memotong pembicaraan istrinya tanpa mau tau penjelasan istrinya


" Tidak ada kata sedang, tidak mau tau harus jadi."


" Kaka sana mandi."


Lisa langsung bangun dari pangkuan suaminya


" Asalkan harus jadi ya?"


" Tidak. Sana mandi."


Ardi langsung kecewa setelah mendengar perkataan istrinya. Lisa melihat suaminya yang kecewa


" Tidak tau apa kalau aku sedang datang bulan." Batin Lisa


" Sudah mandi sekarang sudah jam 06.00 sore."


" Baiklah aku mandi dulu."

__ADS_1


Ardi langsung berjalan ke dalam kamar mandi dengan raut wajah yang kecewa, setelah di dalam kamar mandi, dirinya langsung menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya


" Lisa, aku tidak ingin mendengar lagi alasan kau belum siap. Kenapa kau mengakui masih mencintaiku, atau agar aku bahagia, tapi tetap saja kenyataannya kau masih saja belum siap. Kau masih saja mencintai Livino. Aku akui, aku adalah orang ke tiga dalam hubungan kalian, harusnya aku sadar. Aku adalah orang yang merusak hubungan kalian." Batin Ardi


Ardi mandi terus saja berpikir tentang istrinya, tanpa mendengar penjelasan istrinya dulu, bahkan dirinya merasa kalau Lisa masih saja belum mencintai dirinya. Ardi selsai mandi, dirinya langsung berjalan ke luar dari kamar mandi. Ardi setelah melihat istrinya yang sedang memegang foto Livino, dirinya menghentikan langkah kakinya. Raut wajah Ardi semakin kecewa setelah melihat istrinya yang masih saja memegang foto pria lain


" Ternyata benar. Lisa masih saja mencintai Livino. Aku akui Livino tampan, perhatian, penyang dan baik, siapa yang tidak menyukai kepribadian Livino, termasuk aku yang mengagumi sikap Livino." Batin Ardi


Lisa masih belum menyadari kalau suaminya sudah selesai mandi, dirinya masih saja memegang foto dirinya bersama Livino sambil tersenyum


" Kak, ternyata perkataanmu memang benar, aku dan Ardi banyak sekalih kesalah pahaman di antara kita, tapi sekarang kesalah pahaman itu sudah selesai, aku sudah menerima Ardi seutuhnya, apa kau senang kak." Batin Lisa


Lisa langsung menaro foto itu lagi di atas meja, dirinya masih saja belum menyadari kalau suaminya sudah dari tadi melihat dirinya. Lisa melihat jam yang sudah menujukan pukul 18.37 WIB


" Lama sekalih. Aku sudah lapar, apa lagi kalau sedang datang bulan, aku selalu saja lapar, memang Kaka Ardi kalau mandi lama banget, sudah seperti wanita." Batin Lisa


Lisa memegang perutnya yang sudah lapar, bukan karena datang bulan saja, tapi dirinya memang belum makan dari tadi siang. Tadi siang terlalu banyak pasien, membuat dirinya tidak bisa istirahat, walaupun sudah jam istirahat, tapi dirinya tidak akan istirahat. Jika masih banyak pasien, dirinya selalu berpikir nyawa seseorang itu sangat berharga, meski dirinya terkenal dokter dingin, tapi bukan berarti dingin ke pasien, hanya saja dirinya tidak suka banyak bicara. Ardi yang melihat istrinya, memegang perutnya, dirinya langsung berjalan mendekati istrinya. Ardi mencoba bersikap biasa saja walaupun dirinya sangat kecewa setelah melihat istrinya masih saja menyimpan perasaan terhadap Livino. Lisa tersenyum setelah melihat suaminya sudah selesai mandi


" Apa sudah lapar sayang?"


" Iya kaka. Aku sangat lapar, tadi siang aku tidak makan."


" Kenapa tidak makan, harus makan, kau seorang dokter, harus bisa menjaga kesehatan sendiri agar bisa terus menolong pasienmu."


" Iya Kaka, tapi karena banyak pasien, jadi aku tidak bisa makan siang, karena nyawa lebih penting dari pada makan."


Ardi terdiam setelah mendengar perkataan istrinya, memang tugas seorang dokter harus menolong pasien, dirinya sangat beruntung memiliki istri seperti Lisa, wanita dingin tapi perhatian. Ardi tau, istrinya tidak pernah peduli dengan apa pun, tapi istrinya sangat peduli terhadap nyawa orang lain, dirinya sekarang bahagia, memang dirinya tau kalau istrinya ingin menjadi dokter karena ingin seperti Livino, tapi ke inginan istrinya tidak sia-sia, walaupun sekarang masih dokter umum, tapi bagi Ardi sudah sangat bersyukur


" Kaka, ko diam, ayo makan."


" Iya sayang, tapi harus kasih sesuatu dulu, baru kita makan." Jawab Ardi sambil tersenyum


" Dasar suami mesum."


Lisa langsung berdiri lalu mencium pipi suaminya sekilas, dirinya langsung melangkahkan kakinya ke luar kamar sambil tersenyum. Ardi juga ikut tersenyum sambil mengikuti istrinya yang lebih dulu jalan keluar kamar . Bi Ira yang melihat nona muda dan tuan mudanya keluar dirinya langsung menyapa


" Malam nona muda, malam tuan muda." Sapa Bi Ira sambil membungkukkan badan

__ADS_1


Lisa menjawab hanya dengan anggukan kepala sambil tersenyum


" Malam juga Bi." Jawab Ardi


Lisa lalu menuruni tangga masih di ikuti suaminya


" Malam mah" Sapa Lisa dan Ardi berbarengan


" Malam juga anak mamah dan menatu mamah yang cantik." Jawab Mirna sambil tersenyum


" Ayah kemana mah?"


" Ayah ada kerjaan mendadak sayang."


" Kenapa tidak suruh Ardi saja mah, ini sudah malam, apa lagi ayah belum mendapatkan asisten baru."


" Tidak apa-apa sayang, kau juga capek."


Lisa langsung duduk, dirinya sudah tidak peduli dengan suami dan mertuanya yang sedang berbicara, dirinya sudah lapar. Lisa langsung mengambil nasi dan lauk lalu dirinya makan tanpa mengambilkan makanan untuk suaminya. Lisa makan seperti biasa, selalu menunduk. Ardi hanya tersenyum melihat istrinya, termasuk Mirna hanya tersenyum melihat tingkah menantunya


" Apa Ardi habis melakukan sesuatu pada Lisa, kenapa Lisa makan tidak seperti biasanya." Batin Mirna


Mirna dan Ardi juga ikut makan, tapi keduanya masih saja memandangi Lisa yang asik makan tanpa peduli sekelilingnya


" Lisa, kau bener-bener lapar ternyata, tapi kalau sudah lapar ternyata sangat imut." Batin Ardi


Setelah sisa makanan itu sedikit lagi. Lisa baru sadar kalau suami dan mertuanya terus saja memperhatikan dirinya, lalu dirinya langsung membuka suara


" Maaf mah, Lisa sangat lapar, tadi siang tidak sempat makan."


" Tidak apa-apa sayang, tidak perlu malu, kau sudah menikah dengan Ardi sudah hampir 1 bulan, dan anggap mamah seperti mamah sendiri."


" Iya mah, terimakasih."


" Iya sayang, sudah lanjutkan makannya."


" Baik mah."

__ADS_1


Lisa melanjutkan makan lagi. Ardi dan Mirna masih saja terus tersenyum, melihat Lisa yang mengunyah makanan sangat cepat, membuat Ardi dan Mirna sangat bahagia, karena Lisa sudah tidak malu pada Mirna dan Ardi


__ADS_2