Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 152. Memaafkan


__ADS_3

Setelah menyuruh supirnya untuk tidur, Ardi juga langsung masuk ke dalam kamar Ria, ia sekarang sudah duduk di atas ranjang, di samping istrinya, sambil menatap wajah istrinya, yang tertidur pulas dan masih ada bekas sisa air mata, lalu ia langsung mengecup kening istrinya sekilas, setelah itu, ia langsung minta maaf pada istrinya dengan lirih sambil mengelus lembut pucuk kepala istrinya


" Sayang, aku minta maaf, selalu membuat hatimu terluka, aku akan berusaha, menjadi suamimu yang lebih baik lagi, tolong maafkan aku."


Setelah itu, ia langsung membaringkan tubuhnya masih sambil menatap wajah istrinya. Lisa yang mendengar ucapan lirih dari suaminya, ia mendengar ucapan tersebut, tapi ia pikir, ucapan itu hanyalah mimpi, ia tidak membuka mata sama sekali, tapi ia menjadi berpikir tentang suaminya


" Apa yang aku dengar itu nyata, atau aku sekarang sedang ada di alam mimpi, mungkin iya, aku sedang mimpi, karena kalau tidak mimpi, mana mungkin kak Ardi bisa menemukan aku di rumah ini, apa dia pergi ke rumah mamah, atau dia tidak pergi karena ucapanku, yang mengatakan jangan mengikutiku lagi, kak, aku tidak pernah sedikitpun untuk marah, tapi aku sangat kecewa, saat kau tidak percaya padaku, aku tidak minta untuk selalu di perhatikan, tidak minta untuk selalu di pedulikan, aku hanya butuh kepercayaan, apa kau belum puas, selalu membuat hatiku hancur, seperti menjadi ribuan abu, hingga kau selalu membuat aku terluka, aku tidak tau, harus dengan cara apa lagi, agar kau mengerti perasaanku, perasaan yang selalu mencintaimu, dan sudah jelas-jelas bukti cintaku itu sudah aku perlihatkan, tapi kau, hanya masalah kecil saja hingga menjadi besar, kau mengatakan hal yang sama seperti mamah, kau memang sangat egois kak, aku sangat kecewa padamu kak." batin Lisa


Setelah lama berpikir, Lisa pun mencoba untuk bangun, karena ia merasa di sampingnya bukan sahabatnya, aroma tubuh di sampingnya, seperti milik suaminya, lalu ia langsung membuka mata, setelah membuka mata, ternyata benar yang di sampingnya adalah suaminya. Lisa langsung duduk. Ardi yang melihat istrinya duduk, ia pun langsung duduk, lalu ia langsung minta maaf pada istrinya


" Sayang, tolong maafkan aku, aku janji akan menjadi suami yang lebih baik lagi."


Lisa yang mendengar ucapan minta maaf dari suaminya, ia tidak menjawab ucapan suaminya, melainkan ia langsung bertanya pada suaminya


" Darimana kau tau aku di sini?, apa Ria menelponmu?"


" Tidak, aku tau dari cctv sayang. Aku sangat kuatir, apa lagi kau juga tidak ada di rumah mamah."

__ADS_1


" Benarkah?"


Ardi yang mendengar pertanyaan dari istrinya, ia tidak menjawab ucapan dari istrinya lagi, ia langsung memeluk istrinya dengan erat, ia memang sangat takut istrinya terjadi apa-apa, lalu ia langsung berbicara pada istrinya


" Tolong jangan seperti ini lagi sayang, dan aku minta maaf, atas ucapanku, mulai dari sekarang, aku akan lebih perhatian lagi padamu."


Lisa yang mendengar ucapan suaminya, ia mulai luluh, walaupun ia tidak membalas pelukan dari suaminya, lalu ia langsung menjawab ucapan dari suaminya


" Kak, aku tidak butuh perhatianmu, aku tau, kau sangat sibuk, aku hanya butuh, kau memberiku kepercayaan, dan aku juga tidak ingin tinggal satu rumah dengan ibu mertuaku."


" Baiklah sayang, kita beli rumah, tapi sebelum mendapatkan rumah, kita tinggal di rumah mamah dulu, apa tidak apa-apa?"


" Aku tidak mau Kaka."


" Baiklah sayang, kita tinggal di hotel untuk sementara."


" Iya Kaka."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Lisa langsung membalas pelukan dari suaminya, ia juga sangat bahagia, karena suaminya akan pindah rumah, ia tidak ingin lagi melihat ibu mertuanya, kekecewaannya pada ibu mertuanya sangat dalam, ia sangat kecewa, bukan karena ucapan dari ibu mertuanya, tapi ia kecewa, karena ia dan ibu mertuanya, kenal lebih lama, dari pada kenal dengan suaminya, tapi ibu mertuanya, tidak percaya dengan ucapannya, membuat ia tidak ingin lagi untuk melihat wajah ibu mertuanya. Setelah beberapa menit, Ardi dan Lisa melepaskan pelukannya. Ardi langsung mencium kening istrinya sekilas, setelah itu ia langsung berbicara lagi pada istrinya


" Terimakasih sayang, kau sudah memaafkan aku, aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi, dan aku juga akan selalu ada waktu untukmu mulai dari sekarang."


" Iya kak."


Ardi langsung menyuruh istrinya untuk tidur lagi, karena sekarang masih sangat malam


" Sayang, kau tidurlah, besok kita pindah."


" Iya kak."


Lisa dan Ardi langsung merebahkan tubuhnya lagi. Lisa langsung menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, sambil tangannya memeluk tangan kanan suaminya, lalu ia langsung memejamkan mata hingga ia tertidur lagi. Ardi mengelus lembut pucuk kepala istrinya, ia tau, istrinya memang butuh ia lebih perhatian lagi, tapi ia bahkan bukan perhatian, malah mengecewakannya. Ardi bersyukur, istrinya sekarang sudah bisa memafkannya, dan sudah bersikap biasa saja. Walaupun istrinya tidak ingin lagi tinggal di rumah ibunya, tapi selama istrinya masih ingan bersamanya, baginya tidak masalah, memang sudah seharusnya, ia pindah rumah, karena sekarang akan menambah keluarga baru, dan mungkin saja istrinya itu seperti ucapan ayah mertuanya, istrinya butuh ketenangan, istrinya tidak menyukai terlalu banyak orang, lalu ia langsung minta maaf lagi pada istrinya yang sudah tertidur pulas


" Sayang, aku minta maaf, aku benar-benar sangat merasa bersalah, aku tidak pernah tau apa yang ada di dalam hatimu, aku tidak pernah tau, apa yang kau inginkan, maafkan aku, aku benar-benar sangat menyesal, aku tidak pernah bertanya kau ingin apa, apa kau tinggal di rumah itu nyaman, aku tidak pernah menanyakan itu, mulai dari sekarang, aku akan mencoba menjadi suamimu yang lebih baik lagi. Aku mencintaimu sayang."


Setelah minta maaf dengan lirih, Ardi langsung mencium pucuk kepala istrinya, sambil meneteskan air mata, ia sangat sedih, bahkan kata cinta itu, tidak pernah ia ucapan lagi pada istrinya, dan kata sayang itu, tidak pernah ia ucapkan lagi, apa lagi, semenjak Yoga tidak masuk ke kantor, ia sangat sibuk, tidak pernah sedikitpun ada waktu untuk istrinya, tapi ia tetap bersyukur, walaupun istrinya marah, tapi istrinya tidak pernah ada kata ingin cerai, ia sangat ingat dulu, istrinya selalu saja ingin cerai, tapi kali ini, istrinya hanya marah saja, memang kalau di pikir dengan jernih, siapa yang tidak kecewa, saat ibu mertuanya tidak percaya, dan mengatakan hal itu, hal yang tidak seharusnya di katakan, setelah itu, istrinya harus mendapatkan kata-kata yang sama dari ia, pasti hatinya sangat terluka. Setelah lelah membelai rambut istrinya, Ardi memutuskan untuk tidur, agar ia bisa bangun lebih dulu sebelum istrinya bangun, ia akan mencoba bangun lebih pagi, hingga Ardi juga ikut tertidur

__ADS_1


__ADS_2