
Mey benar-benar sangat kecewa setelah mendengar perkataan anaknya, dirinya tidak menyangka anak yang dirinya sayangi dan tidak pernah dirinya marahi sekali pun, tapi kini mengatakan hal kasar pada dirinya. Mey berpikir apa salah dirinya hingga anaknya mengatakan hal itu, bukan'kah dirinya hanya mencoba menasahti, dirinya tidak ingin anaknya menjadi salah jalan, tapi nasehat itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi anaknya. Mirna hanya mendengarkan pertengkaran adik dan anak angkatnya, tapi dirinya juga tidak menyangka pada Intan yang baru saja mengucapkan kata-kata kasar pada ibu yang sudah membesarkannya. Mirna pikir Intan adalah Gadis baik-baik, tapi kini menurut dirinya Intan adalah mahluk mengerikan yang berubah menjadi manusia. Jika bukan mahluk mengerikan harus tahu bagaimana membalas kebaikan pada orang yang sudah membesarkan dirinya. Intan masih menatap ibunya dengan tatapan sinis, dirinya sekarang sangat benci pada ibu yang sudah membesarkan dirinya, apa lagi saat mendengar kalau dirinya hanya anak wanita simpanan, dirinya merasa di rendahkan oleh ibu yang sudah menyayangi dirinya selama 21 tahun ini. Mey pun mencoba menahan amarah dan kekecewaan karena bagaimanapun juga Intan adalah anak yang dirinya besarkan, apa lagi Intan sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi
" Nak, jaga bicaramu, jangan pernah mengucapkan kata itu karena aku adalah ibumu."
" Sudah aku bilang, aku tidak sudi memiliki ibu sepertimu!"
Mirna menatap Intan sambil terus berpikir tidak menyangka kalau Intan akan sejahat itu, hingga tidak mengakui ibu yang sudah membesarkan dirinya. Mey pun menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar karena mendengar jawaban dari anaknya itu, dirinya mencoba menahan amarahnya karena dirinya sangat menyayangi anaknya, lalu dirnya mencoba menasehatinya lagi
" Intan, jangan pernah berbicara seperti itu sayang, dan ceritakan semua permasalahan foto itu pada Tante."
" Tidak! Sudah aku bilang jangan pernah ikut campur dan satu lagi kau bukan ibu kandungku, aku tidak sudi mendengar nasehat darimu! Kau mengangkat aku anak karena kau tidak punya anak! Kau hanyalah seorang wanita mandul!"
Mey sudah benar-benar sangat marah saat mendengar perkataan anaknya, dirinya sudah mengepalkan kedua tangannya, wajah yang mulai merah karena ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan dirinya mandul, memang setelah keguguran dirinya tidak bisa lagi punya anak, tapi Rangga menerima kekurangan dirinya seutuhnya, dirinya memang sangat beruntung mengenal Rangga. Walaupun usia dirinya dengan Rangga berbeda 9 tahun, tapi Rangga selalu bersikap dewasa, bahkan hingga usia pernikahan yang ke 7 tahun ini, Rangga belum pernah menuntut apa pun dari dirinya dan belum pernah melontarkan kata-kata kasar pada dirinya karena memarahi saja belum pernah. Mey sudah tidak bisa lagi menahan emosi setelah mendengar hinaan dari anaknya, bukan hanya berkata kasar, tapi anaknya menghina dirinya
" Anak tidak tau diri!"
" Apa yang kau katakan tidak tau diri! Memangnya kenapa kalau aku tidak tau diri? bukan'kah yang aku katakan itu benar!"
__ADS_1
" Seharusnya aku tidak pernah membesarkan anak haram sepertimu! apa kau pikir sudah hebat karena sekarang kau sudah dewasa hah!"
" Aku sudah tidak membutuhkan wanita sepertimu karena aku sudah dewasa sekarang, dan jangan pernah ikut campur masalah aku, kau pasti pernah muda bukan?"
" Aku memang pernah muda, tapi aku bukan wanita murahan!"
Intan menatap mata ibunya semakin sinis dan berpikir setelah mendengar perkataan ibunya bahwa ibunya bukan wanita murahan, apa dirinya sangat murah melakukan seperti itu?, bukan'kah dirinya juga belum pernah melakukan berhubungan badan dengan siapapun, apa lagi dirinya dari dulu hanya mencintai Ardi. Intan semakin benci pada ibunya setelah beberapa detik dirinya berpikir karena menurut dirinya ibunya itu sama saja merendahkan dirinya
" Aku bukan wanita murahan! Dan aku juga tidak pernah melakukan berhubungan badan dengan siapa pun! Kau tidak pantas mengatakan itu, dasar wanita tua, hidupmu itu sangat menyedihkan tidak bisa memiliki anak!"
Mirna sudah benar-benar ingin menampar mulut Intan yang sangat tidak sopan menurut dirinya, tapi dirinya urungkan karena dirinya sadar tidak seharusnya ikut campur pada masalah adiknya dan anak angkatnya, tapi dirinya benar-benar jiji pada wanita yang seperti Intan, dirinya bersyukur memiliki menantu seperti Lisa walaupun tidak suka menjawabz tapi setidaknya tidak mendengar perkataan kasar seperti Intan. Mirna baru ingat kalau anaknya mengatakan ingin pindah rumah karena ada Intan di rumah ini, akhirnya dirinya menemukan jawaban atas perkataan anaknya itu setelah tau sikap Intan yang menurut dirinya dulu wanita lembut dan penyayang, tapi ternyata sekarang menurut dirinya seperti mahluk yang sangat mengerikan
Mey setelah mendengar perkataan anaknya dirinya tidak menjawab perkataan anaknya lagi melainkan dirinya langsung melayangkan tamparan pada anaknya karena menurut dirinya anaknya itu tidak pantas mengatakan hal itu pada dirinya
Plak..
Sebuah tamparan itu mendarat di pipi Intan hingga Intan tersungkur ke lantai, ini pertama kalinya Mey melakukan kekerasan karena dari kecil hingga sekarang Mey belum pernah melakukan kekerasan pada siapapun. Setelah Intan tersungkur ke lantai perasaan Mey sangat sakit melihat pipi anaknya itu ada bekas tamparan karena bagaimana pun juga dirinya sudah menganggap Intan sebagai anaknya sendiri, tapi dirinya tidak membangunkan anaknya yang terduduk di lantai karena melihat anaknya yang menatap dirinya dengan tatapan sinis membuat dirinya hanya diam, lalu Intan pun bangun dengan pipi yang bengkak dan amarah yang memuncak
__ADS_1
" Wanita tua sialan! Kau berani sekali menamparku, aku ini bukan anakmu!"
Mey pikir Intan akan sadar setelah di tampar, tapi ternyata kata-kata Intan semakin tidak pantas untuk di dengar, lalu dirinya juga memutuskan untuk mengatakan hal kasar karena menurut dirinya dengan nada lembut juga percuma anaknya tidak memiliki hati nurani
" Jangan'kan menamparmu, membunuhmu juga aku berani! Jika saja membunuh itu tidak masuk penjara sudah aku bunuh!"
" Apa kau bilang mau membunuhku! Kau memang wanita tua jahat, pantas saja kau tidak di karunai anak karena kau wanita yang sangat jahat!"
" Tutup mulutmu! Sebelum kesabaranku habis."
" Memang apa yang akan kau lakukan jika kesabaranmu itu habis? apa kau akan membuangku? tidak masalah karena aku juga tidak sudi memiliki ibu sepertimu."
Mey tidak menjawab pertanyaan anaknya melainkan dirinya menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar, entah harus dengan cara apa agar anaknya itu tidak berbicara kasar pada dirinya. Mey pikir tamparan itu akan membuat anaknya sadar ternyata tidak, membuat Mey benar-benar sakit hati, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyetujui permintaan anaknya
" Baiklah, lakukan yang kau mau lakukan, jika kau tidak ingin menganggap aku sebagai seorang ibu lagi tidak masalah."
" Iya karena aku juga akan pergi dari kehidupanmu wanita tua!"
__ADS_1
" Coba saja kita lihat kau bisa melakukan apa jika tanpa aku. Aku akan memblokir semua kartu ATM yang kau gunakan karena semua itu milikiku! Kau tidak pantas menggunakan uangku!
" Aku tidak peduli dengan kartu ATM atau apapun karena aku bisa hidup tanpa semua itu."