
Intan sudah duduk di meja rias, sambil terus saja memandang wajahnya dari pantulan kaca. Tidak lama ada Lisa masuk ke dalam kamar itu. Lisa langsung mendekati Intan sambil tersenyum ceriah, ia tersenyum bahagia karena Intan akan menikah dengan Yoga, hingga ia sampai di samping Intan, lalu ia langsung berbicara pada Intan
" Intan, kenapa kau terus menatap dirimu dari pantulan kaca?"
Intan langsung menyampingkan tubuhnya, ia langsung menatap mata Lisa, ia melihat Lisa yang tersenyum ceriah, harusnya Lisa sedih, tapi entah kenapa Lisa sangat bahagia, lalu ia berpikir tentang Lisa
" Apa Lisa sedang bahagia karena pernikahanku, atau karena ada cerita lain." batin Intan
Setelah berpikir Intan langsung bertanya pada Lisa, tanpa menjawab pertanyaan Lisa tadi
" Lisa, kenapa kau terlihat bahagia?, apa kau tidak kasihan padaku?"
" Intan, sudahlah, kalian berdua memang sangat cocok."
Intan yang mendengar jawaban Lisa yang mengatakan kalian berdua sangat cocok, ia hanya mengerutkan keningnya, lalu ia langsung bertanya seperti apa calon suaminya
" Lisa, memangnya seperti apa calon suamiku?"
" Tentu saja seperti orang yang kau cintai, dia terlalu tampan."
" Bertanya denganmu tidak jelas, dasar bumil."
Lisa yang mendengar ucapan Intan ia hanya tersenyum, lalu ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu
" Intan, aku keluar dulu, ingat jangan memikirkan hal aneh-aneh, pria itu sangat tampan."
Setelan mengatakan itu Lisa langsung keluar dari kamar. Tidak lama Rangga dan Mey masuk ke dalam kamar rias, mereka berdua mendekati putrinya hingga mereka sampai di samping putrinya. Mey langsung bertanya pada putrinya
" Sayang, apa sudah siap?"
__ADS_1
" Sudah mah."
Intan menatap kedua orang tuanya, ia melihat mereka berdua sangat bahagia, entah kenapa semuanya sangat bahagia
" Kenapa mamah dan papah sangat bahagia, tadi yang terlihat bahagia adalah Lisa, kenapa mereka semua tidak ada satu pun yang mengerti perasaanku, terlebih lagi yang sangat terlihat bahagia adalah mamah, apa mamah tidak memikirkan perasaanku sedikit saja, apa mamah sangat menginginkan aku menikah dengan pria itu, hingga tidak sedikitpun memiliki kekuatiran tentang pria itu." batin Intan
Intan terus saja memikirkan tentang orang tuanya dan Lisa, hingga lamun itu buyar karena ibunya mengajaknya untuk turun
" Sayang, ini sudah waktunya, ayo kita turun nak."
Intan yang mendengar ucapan ibunya, ia hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia langsung memegang tangan kanan ibunya, ia langsung bertanya pada ibunya
" Mah, apa mamah benar-benar menginginkan aku menikah?"
Mey yang mendengar pertanyaan putrinya, ia hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum. Intan melihat ibunya benar-benar sangat bahagia, ia pikir setelah ia bertanya, ibunya akan mempertimbangkan ucapannya, tapi ternyata tidak sama sekali, lalu ia langsung melepaskan tangan ibunya perlahan, setelah itu ia langsung berdiri. Rangga langsung membelai rambut putrinya sambil berkata
Intan hanya menjawab ucapan ayahnya dengan menganggukkan kepalanya, ia sekarang mencoba menerima kenyataan itu, lalu ia ingat pada ucapan ibunya, yang mengatakan boleh menemui Yoga, ia pun langsung bertanya pada ibunya
" Mamah, apa aku boleh menemui Yoga?"
" Tentu saja boleh sayang, tapi sekarang sudah waktunya, kau akan menikah, jadi kau menikah dulu."
Setelah mendengar jawaban ibunya, ia hanya menghela nafas berat, lalu ia langsung menganggukkan kepalanya. Rangga dan Mey langsung menuntun putrinya. Intan langsung menundukkan kepalanya, ia tidak ingin melihat lurus, ia mencoba menahan air matanya, mungkin semua sudah takdir menurutnya. Mey yang melihat putrinya hanya menunduk, ia tau, kalau putrinya itu belum siap melihat siapa pria itu. Mereka terus saja berjalan hingga menuruni tangga. Yoga yang dari tadi memasang wajah sedih, ia melihat Intan di tangga, ia langsung tersenyum, tapi ia juga tidak tau, yang ia lihat itu mimpi atau nyata, bahkan ia tidak ingin berkedip, ia takut itu semua hanya imajinasinya, untuk itu ia menahan matanya untuk tidak berkedip. Mereka sampai di depan keluarga Yoga, tapi banyak orang yang menatapnya dengan tatapan aneh, karena tadi melihat Yoga yang sangat sedih, sedangkan sekarang melihat calon pengantin wanitanya yang terus saja menundukkan kepala. Setelah semua sudah berkumpul, pak pendeta pun memutuskan untuk bertanya pada Yoga
" apa sudah bisa di mulai?
Yoga diam membisu, ia tidak menjawab pertanyaan dari pak pendeta, ia terus saja menatap wajah wanita yang ia cintai. Herman yang melihat putranya hanya diam ia pun menjawab ucapan pak pendeta
" Sudah."
__ADS_1
" Baiklah."
" Yoga, bisakah kau berjanji selamanya akan baik pada Intan?, di dalam duka maupun senang, atau di dalam kepahitan. Kau bersedia selamanya di samping Intan?"
Yoga terus saja menatap wajah Intan sambil meneteskan air mata bahagia, ia tidak percaya kalau wanita yang ia nikahi adalah Intan. Intan juga setelah mendengar kata Yoga, ia mengangkat kepalanya, ia benar-benar melihat pria yang ia cintai, bahkan ia juga seperti mimpi bisa menikah dengan pria yang ia cintai hingga ia langsung meneteskan air mata bahagia. Yoga pun menjawab pertanyaan pak pendeta
" Saya bersedia."
" Intan, bisakah kau berjanji bahwa kau akan baik pada Yoga?, di dalam duka maupun senang, atau di dalam kepahitan. Kau bersedia di samping Yoga selamanya."
" Saya bersedia."
" Silahkan kalian memakai cincin."
Yoga langsung memakaikan cincin pada jari manis Intan masih sambil meneteskan air mata, lalu Intan juga langsung memakaikan cincin pada jari manis Yoga masih sambil meneteskan air mata. Setelah selesai memakaikan cincin, pak pendeta pun langsung menyuruh Yoga untuk mencium Intan
" Yoga, silahkan mencium Intan sebagai bukti kasih sayang yang tulus."
Yoga pun langsung mendekati wajah Intan, lalu ia langsung mencium bibir Intan sekilas. Suara gemuruh tepuk tangan di ruangan itu sangat keras, meski mereka semua bertanya-tanya, kenapa pengantin pria dan pengantin wanita terus saja menangis, mereka semua penasaran dengan pernikahan itu, apa lagi Aurel, ia sangat bingung melihat pria yang di sukai dan sekaligus atasannya itu. Intan langsung memeluk Yoga dengan erat sambil menangis sekencang-kencangnya, ia tidak peduli di ruangan itu banyak orang
" Hiks...hiks...hiks.. aku pikir yang akan menikah denganku bukan kau Yoga.. hiks..hiks.. aku sangat takut, aku pikir mamah sudah tidak menyayangiku lagi, karena mamah bilang akan menjodohkan aku dengan pria pilihan mamah, hiks... hiks.. Yoga, akhirnya kita bisa bersama, dan kau sekarang sudah jadi suamiku, aku sangat bahagia, ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku bisa menikah denganmu."
Yoga juga membalas pelukan itu dengan erat sambil membelai rambut wanita yang kini menjadi istrinya, ia juga masih meneteskan air mata, ia benar-benar sangat bahagia, lalu ia langsung menjawab ucapan wanita yang kini menjadi istrinya
" Iya sayang, aku juga tidak menyangka semua orang berbohong pada kita, kau jangan menangis lagi sayang, sudah cukup beberapa hari ini kita menangis."
" Iya, tapi aku sangat bahagia dan itu membuat aku menangis, hiks... hiks.."
" Iya sayang aku mengerti, aku juga sangat bahagia, tapi sekarang jangan menangis lagi."
__ADS_1