Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 71. Curhatan Intan


__ADS_3

Setelah lama berpikir Intan langsung menaiki tangga hingga dirinya sampai di depan kamera Lisa. Intan baru saja mau mengetuk pintu, namen dirinya mendengar isak tangis samar-samar dari dalam kamar membuat dirinya berpikir tentang Lisa dan Kaka sepupunya


" Apa yang kak Ardi katakan, kenapa tangisan Lisa sangat sedih, bahkan aku yang mendengar tangisan itu juga sangat sakit hatiku, apa lagi Lisa wanita baik-baik, apa yang terjadi? apa sebaiknya aku mengetuk pintu saja? siapa tau Lisa mau cerita padaku, karena kebanyakan orang butuh teman untuk curhat." Batin Intan


Intan memutuskan untuk mengetuk pintu


Tok-tok. Tok-tok


Lisa yang mendengar ketukan pintu dirinya langsung duduk di atas ranjang, lalu dirinya langsung menghapus air matanya dengan buru-buru, setelah selesai baru menjawab ketukan pintu


" Masuk saja."


Intan yang mendengar jawaban dari dalam, dirinya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dengan sedikit kuatir, hingga dirinya sampai di depan Lisa


" Lisa apa kau tidak apa-apa?"


Lisa menjawab hanya menggelengkan kepala. Intan lalu langsung memeluk Lisa masih dengan posisi berdiri. Lisa juga membalas pelukan Intan, memang dirinya sekarang sedang butuh seseorang untuk bersandar dan menenangkan pikiran karena sudah 2 hari hati dan pikiran dirinya benar-benar kacau, suami yang mengabaikannya, sedangkan dari Livino juga belum ada balasan hingga sekarang. Intan pun memutuskan untuk bertanya


" Lisa, ceritakan apa yang ada di dalam hatimu?, jangan kau pendam sendiri, walaupun mungkin aku tidak bisa mencari solusi, tapi setidaknya kau tidak memendamnya sendiri."


Lisa menjawab masih menggelengkan kepala sambil meneteskan air mata. Intan tau, mungkin Lisa belum bisa terbuka dengan dirinya karena Lisa dan dirinya baru saja kenal, apa lagi dirinya saat itu membuat hati Lisa terluka, tapi dirinya juga merasa sedih saat melihat Lisa menangis, ini pertama kalinya dirinya merasa sedih dengan kesedihan orang lain, karena dulu dirinya punya teman hanya untuk hura-hura, selain itu dirinya tidak ada yang di lakukan lagi. Setelah beberapa menit Intan dan Lisa melepaskan pelukannya


" Duduk'lah."


" Baik."


Intan langsung duduk di samping Lisa, sambil memandangi wajah Lisa yang penuh dengan air mata, entah kenapa perasaan dirinya sangat sakit saat melihat wajah Lisa penuh dengan air mata, pedahal dirinya dulu sangat membenci Lisa, mungkin karena Lisa itu wanita yang baik dan polos, atau apa dirinya juga tidak tau. Lalu Intan menghapus air mata yang ada di pipi Lisa


" Jangan sedih, bukan'kah kau menganggap aku keluarga, tapi kenapa tidak ingin cerita padaku?"


Intan selsai menghapus air mata di pipi Lisa, namen dengan cepat air mata itu menetes lagi di pipi Lisa. Setelah mendengar pertanyaan itu Lisa pun terpaksa membuka suara karena melihat Intan yang kuatir dan sedih pada dirinya


" Aku tidak tau apa yang harus aku ceritakan."


" Bagaimana tidak tau? bukan'kah kau sekarang sedang bertengkar dengan kak Ardi?"

__ADS_1


" Tidak, aku juga tidak tau apa salahku, dan kenapa kak Ardi menghindariku aku benar-benar tidak tau."


Intan menjadi bingung, bukan'kah Kaka sepupunya itu sangat mencintai istrinya, tapi kenapa istrinya saja tidak tau permasalahan mereka


" Mungkin ada sesuatu yang kau tidak ingat, hingga membuat kak Ardi marah?"


" Tidak, aku tidak lupa sesuatu apa pun."


" Baiklah, lebih baik tenangkan dirimu, jangan berpikir apa pun, mungkin kak Ardi sedang sibuk di kantor, dan mungkin juga itu bukan mengabaikanmu, tapi karena pusing banyak kerjaan yang harus kak Ardi urus."


" Aku tau, aku memang bodoh, aku tidak bisa membantu apa-apa pada kak Ardi."


" Sudah, semuanya pasti baik-baik saja."


" Iya."


Intan juga sedikit bingung kenapa dirinya seolah-olah dirinya memiliki sifat dewasa, pedahal usia dirinya saja masih lebih muda dari Lisa, dan entah kenapa tiba-tiba mulutnya berbicara seperti itu. Lisa langsung menghapus air matanya, lalu dirinya memutuskan bertanya tentang Intan yang menangis saat pulang 2 hari yang lalu untuk menghilangkan pikiran yang sedang kacau


" Intan, boleh aku tanya sesuatu?"


" Tentu saja."


" Aku baru saja bertemu dengan Yoga saat itu."


" Alasan menangis kenapa?"


" Aku, itu, bolehkah kau ajari aku masak."


Intan langsung mengalihkan pembicaraan karena masih malu pada Lisa. Lisa mengerutkan keningnya saat jawaban Intan tidak sesuai, lalu dirinya memutuskan bertanya lagi


" Kenapa jawabnya sampai masak? bukan'kah membahas tentang menangis?"


Intan memutuskan untuk jujur. Walaupun dirinya sangat malu pada Lisa, tapi dirinya ingin belajar masak dari Lisa


" Saat itu aku bertemu dengan Yoga, aku tiba-tiba langsung memeluknya, pelukan itu begitu nyaman. Yoga menasehatiku seperti mamah, dan perasaan aku sangat menyesal telah menolaknya, hingga aku menangis, menangis karena aku baru menyadari kalau aku mencintai Yoga. Aku juga tidak tau, Yoga masih mencintaiku atau tidak, tapi aku ingin berjuang untuk mendapatkan hatinya, untuk itu aku minta bantuanmu untuk mengajari aku masak, aku ingin sepertimu, wanita yang hebat dalam semua hal. Kau bisa masak, baik perhatian dan penyayang, aku juga ingin sepertimu, untuk membuktikan kalau aku mencintainya setulus hatiku."

__ADS_1


" Jadi kau mencintai Yoga?"


" Iya, aku mencintainya dan sangat mencintainya."


" Tentu aku akan mengajarimu masak, yang penting kau harus tau lebih dulu, makanan apa yang Yoga sukai."


" Tentu saja aku tau, Lisa terimakasih kau sudah selalu baik padaku, aku minta kau juga kalau ada masalah harus terbuka denganku, aku juga sudah jujur padamu."


" Baiklah, aku pasti akan jujur padamu, tapi kali ini aku memang tidak tau kesalahan apa yang aku buat."


" Tidak apa-apa Lisa, aku yakin pasti kak Ardi sedang banyak kerjaan kau tidak perlu sedih, tidak perlu menangis."


" Iya Intan."


Intan dan Lisa langsung berpelukan. Intan merasa sekarang seperti benar-benar memiliki seorang sahabat, karena dulu dirinya hanya memiliki teman hura-hura saja, bahkan tidak ada cerita yang namanya cinta, bagi Intan dan teman-temannya dulu yang penting pergi ke club malam dan shopping-shopping saja. Setelah beberapa menit Lisa dan Intan melepaskan pelukannya. Intan dan Lisa saling bertatapan mata. Lisa merasa sedikit lega karena Intan mau cerita tentangnya, karena hanya cerita yang bisa membuat dirinya sedikit lupa akan apa yang terjadi dalam rumah tangganya


" Intan, terimakasih karena kau sudah mau jujur dengan isi hatimu, setidaknya aku bisa melupakan tentang hidupku yang sekarang."


" Lisa, tidak perlu berterimakasih. Jika kau butuh teman untuk berbicara, kau boleh cerita denganku, aku akan mendengarkan semuanya."


" Baiklah."


" Kapan kau akan belajar masak?"


" Kapan saja, selama kau tidak sibuk."


" Kapan aku sibuk, kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit?"


" Aku hari ini tidak ingin pergi ke rumah sakit. Aku ingin belajar masak untuk mendapatkan pujian hati."


" Iya. Tidak heran kalau kau mencintai Yoga, karena Yoga orang yang sangat baik dan dewasa."


" Iya itu kenapa aku sangat menyesal, tapi aku bersyukur karena Yoga masih belum memiliki kekasih, setidaknya aku akan berjuang untuknya."


" Baiklah, semangat."

__ADS_1


" Iya, terimakasih."


" Sama-sama."


__ADS_2