
Santi memberhentikan mobilnya di depan rumah sakit Harapan. Santi akan turun untuk membuka pintu mobil, rapi Ardi langsung bersuara
" Santi, saya saja yang buka pintu."
" Baik pak CEO."
Ardi mencium bibir istrinya sekilas, lalu dirinya langsung turun membuka pintu untuk istrinya
" Mereka benar-benar menganggap aku, seperti obat nyamuk,pak CEO mencium bibir istrinya tanpa rasa malu. Aku tau mereka sudah sah, tapi aku yang ada di sini sangat malu." Batin Santi
Ardi membuka pintu istrinya. Lisa keluar dari mobil sambil tersenyum. Ardi lalu mencium kening istrinya sekilas
" Sayang, hati-hati, ingat harus tenang, agar tidak melakukan kesalahan, sebagai dokter resikomu sangat besar." Ucap Ardi sambil membelai rambut istrinya
" Iya kak." Jawab Lisa sambil tersenyum manis di bibirnya
" Aku, pergi ke kantor dulu ya sayang."
" Iya kak hati-hati."
" Iya sayang."
Ardi langsung masuk mobil lalu langsung pergi dari tempat itu. Lisa masuk ke dalam rumah sakit sambil terus tersenyum. Ria datang berbarengan dirinya dari tadi menatap ke mesraan sahabatnya, dirinya langsung mengepalkan tangan, walaupun dirinya sudah tau, alasan Ardi memutuskan Lisa, dan alasan Ardi tidak pulang ke Indonesia 1 tahun yang lalu, tapi dirinya tetap menujukan sikap tidak suka pada Ardi, dirinya sangat benci dengan Ardi, karena hampir saja membuat Lisa hampir gila, tapi Ria sangat bersyukur dengan hadirnya Livino, walaupun Ria tidak tau ada hubungan apa sahabatnya dengan Livino, tapi bagi dirinya selama sahabatnya bisa tersenyum dan mau berbicara, itu sudah cukup
" Selamat pagi dokter Lisa." Sapa Maya
" Iya sus." Jawab Lisa sambil tersenyum
__ADS_1
Lisa langsung masuk ke ruangan dirinya lalu memakai baju dokternya. Ria buru-buru melangkahkan kakinya masuk ke ruang Lisa. Ria langsung menarik Lisa duduk di kursi, dirinya mencoban menahan amarah. Walaupun ingin sekali dirinya marah pada sabatnya, tapi dirinya tetap menahan amarahnya
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Lisa
Lisa menatap bingung sahabatnya. Ria menarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan kasar, dirinya ingin sekali marah, dan mengatakan apa kau bodoh menerima Ardi dengan mudah, setelah apa yang kau alami selama 5 tahun ini, tapi dirinya mengurungkan niatnya, dirinya akan menanyakan perlahan. Ria tau, kalau Lisa memiliki trauma jika di bentak
" Apa kau sudah berbaikan sama Ardi?" Tanya Ria dengan menatap mata Lisa dengan tatapan tajam yang tidak bisa di artikan
" Iya." Jawab Lisa sambil tersenyum
" Apa kau sudah tidur bersama Ardi?"
" Iya."
Ria langsung mengepalkan tangan, setelah mendengar jawaban sahabatnya, dirinya ingin sekali, bilang apa kau bodoh, lagi-lagi Ria hanya bisa mengucapkan di batinnya
" Iya aku ingat, tapi Ardi sekarang suamiku."
" Apa kau tau, Livino pergi ke Paris itu karena apa?"
" Aku tau, dengan kak Livino menasehati aku untuk menjadi istri yang baik saja, itu menandakan kalau kak Livino pergi agar Ardi tidak salah paham terus."
Ria semakin kesal, ternyata Lisa tau, Livino pergi karena dirinya, tapi Lisa tidak merasakan ke sedihan dan sekarang bermesara-mesran sama pria yang sudah memutuskan hubungan tanpa ada rasa kasihan, Walaupun dirinya sudah jelas, sudah dengar penjelasan Ardi di saat dirinya di apartemen Livino, tapi tetap saja dirinya bener-bener membenci Ardi
" Apa kau tidak memiliki perasaan dengan Livino sedikit saja, Livino menjagamu, menenangkanmu, apa kau tidak melihat pengorbanan Livino, apa kau anggap Livino hanya pelampiasan, ingat Lisa, dia orang yang membuatmu ceriah lagi, di saat kedua orang tuamu dan aku sudah tidak bisa berbicara padamu, karena kau selalu diam tanpa ada suara, kau selalu tidak peduli selain dengan pasienmu, dan sekarang kau melupakan Livino begitu saja, di mana hati nuranimu Lisa?"
Pipi Ria sudah merah, dirinya terus mencoba menahan emosinya, dirinya ingin sekalih marah dari tadi pada sahabatnya, tapi lagi-lagi Ria menahan emosinya
__ADS_1
" Kau bilang cinta, tentu aku mencintai Livino, saat SMA knp aku tidak bisa menerima Ardi, dan selalu menolak Ardi hingga 2 tahun lamanya karena aku sangat mencintai kak Livino saat itu."
Lisa langsung meneteskan air mata, dirinya sebenarnya tidak ingin membasah masa lalu bersama Livino, masa lalu bersama Livino adalah masa lalu yang ingin Lisa lupakan, karena percintaan itu harus kandas sebelum memulai, dirinya harus bisa menerima kenyataan kalau tidak bisa bersama Livin. Lisa menangis hingga sesesegukan. Ria yang melihat sahabatnya menangis sampai sesenggukan dirinya langsung memeluk sahabatnya, walaupun dirinya masih bertanya-tanya kenapa, tapi Ria diam tidak ingin bertanya lagi. Setelah 1 menit Ria lalu bertanya pada Lisa
" Apa aku salah mengatakan itu?"
Lisa menjawab hanya dengan gelengan kepala, dirinya merasakan sesak, dirinya ingin sekalih mengubur kenangan bersama Livino, bahkan dirinya menjadi wanita dingin karena Livino. Setelah tenang Lisa dan Ria melepaskan pelukannya. Lisa menatap mata sahabatnya, tapi tetap air mata Lisa masih saja menetes
" Apa Livino tidak pernah mencintaimu?" Tanya Ria dengan lirih
Lisa menjawab hanya dengan gelengan kepala, membuat Ria tidak paham, tidak pernah mencintai atau sangat mencintai Lisa, tapi dari sikap yang di tujukan Livino, Ria melihat perasaan cinta yang mendalam, tapi hingga saat ini, keduanya belum menjelaskan memiliki hubungan apa mereka, dan kemesraan mereka sebagai apa. Lisa menatap sahabatnya, mungkin ini saatnya dirinya menjelaskan siapa Livino, dan ada hubungan apa dirinya bersama Livino, walaupun dirinya tidak ingin menceritakan, tapi dirinya tidak ingin sahabatnya, memiliki salah paham pada dirinya
" Livino adalah orang yang sudah membuatku hidup hingga saat ini." Ucap Lisa
Ria makin tidak paham, apa maksud sahabatnya, setelah Lisa mengatakan membuat dirinya hidup hingga saat ini, dirinya semakin bertanya-tanya, apa Lisa sakit, atau ada hal lain, tapi Ria diam dirinya ingin sahabatnya menjelaskan secara detail, Ria tau, pikiran sahabatnya belum sepenuhnya tenang, untuk itu dirinya menunggu dengan sabar
" Ria duduklah, jangan terus berdiri, aku akan menceritakan, tentang masa lalu aku bersama kak Livino."
Ria menggeser kursi untuk duduk di depan sahabatnya, dirinya memegang kedua tangan Lisa, agar pikiran Lisa sedikit tenang, walaupun dirinya belum tau, tapi melihat sahabatnya menangis, itu menandakan masa lalu sahabatnya sangat rumit
"Aku sudah menceritakan tentang aku di culik dan berhasil kabur, tapi aku tidak pernah menceritakan tentang sehabis di culik."
" Iya Lisa."
" Setelah aku berhasil kabur, aku di kejar-kejar oleh preman itu, dan mengakibatkan aku kecelakaan, saat itu." Lisa diam sebentar untuk bernafas, air mata dirinya semakin deras
" Saat itu, Ayah kak Livino dan kak Livino yang membawa aku ke rumah sakit, aku kehabisan banyak darah, dan setok darah di rumah sakit sedang kosong, kak Livino juga dulu belum mengenal aku, karena hari itu dirinya baru pindah dari Paris, kebetulan darah kak Livino sama dengan darah aku, lalu kak Livino mendonorkan darahnya untuk aku, itu kenapa aku mengatakan dia orang yang membuatku hidup hingga saat ini."
__ADS_1