
Pagi hari Ardi bangun lebih dulu, setelah mandi lalu dirinya langsung ke meja makan, dirinya sedang menunggu BI Asih yang sedang menyiapkan bubur untuk istrinya. Tidak lama BI Asih membawa bubur dan air hangat di nampan hingga BI Asih sampai di meja makan
" Ini tuan muda."
" Iya."
Ardi langsung mengambil nampan yang di bawa BI Asih lalu dirinya langsung berjalan menaiki tangga hingga dirinya sampai di depan pintu, lalu dirinya membuka pintu. Ardi melihat istrinya yang sudah bersandar di kepala ranjang. Ardi lakgsung mendekati istrinya hingga dirinya sampai, lalu dirinya langsung meletakkan nampan itu di meja
" Sayang, kau sudah bangun, sarapan dulu ya?"
Lisa tidak menjawab pertanyaan suaminya, dirinya masih diam sambil menatap ke arah luar jendela. Ardi langsung duduk di atas ranjang sambil memandangi wajah istrinya yang sedang melihat ke luar jendela. Ardi langsung memegang dua bahu istrinya
" Sayang, jangan seperti ini."
Lisa masih tidak membuka suara, dan tatapan mata masih terus menatap keluar jendela. Ardi langsung berdiri lalu dirinya langsung menarik tirai itu agar istrinya tidak memandang ke luar terus, lalu dirinya langsung duduk di atas ranjang lagi
" Sayang."
Lisa langsung melihat pada wajah suaminya, dirinya hanya menatap wajah suaminya, hingga dirinya tertuju pada bibir bawah suaminya yang bengkak
" Kak, kau benar-benar melakukan itu bersama wanita itu kemarin?"
Ardi tidak mengerti maksud pertanyaan dari istrinya, lalu dirinya langsung bertanya bertanya balik
" Apa yang kau maksud sayang?"
" Apa kaka berhubungan badan dengan wanita itu!"
Ardi menghela nafas panjang setelah mendengar pertanyaan istrinya yang sedikit membentak, apa lagi dirinya juga tidak tau maksud dari istrinya itu
" Sayang, aku tidak memiliki hubungan dengan Rahma."
" Kau tidak memiliki hubungan, kau sesekali tersenyum padanya, kau masih bilang tidak punya hubungan?, kak kenapa harus aku yang kau salah'kan, bukan'kah Kaka yang tidak setia?"
" Sayang, sudah aku bilang, aku tidak memiliki hubungan dengan Rahma."
" Kau masih mau mengelak! Lihat bibirmu sampai bengkak kau bilang masih tidak memiliki hubungan?, kau benar-benar jahat."
Lisa langsung menetes air mata sambil memukul-mukul dada suaminya. Ardi langsung menarik istrinya dalam pelukannya. Lisa mencoba melepaskan pelukan suaminya
__ADS_1
" Kak, apa salahku kenapa kau tidak setia?"
" Sayang, apa kau tidak ingat semalam yang melakukan ini adalah kau?"
" Kaka, bohong mana mungkin aku melakukan itu, aku tidak akan berani melakukan itu, kau mau mencoba membohongiku karena aku mabuk?"
" Aku tidak membohongimu, yang mencium dan menggigit bibirku semalem kau, aku tidak akan pernah melakukan itu pada wanita yang tidak pernah aku cintai sayang."
" Tapi aku tidak percaya itu, kau jahat. Hisk..hiks.."
" Apa kau perlu bukti? jika perlu bukti kau tanyakan pada Intan, siapa yang melakukan ini padaku."
" Intan?"
" Iya sayang, Intan juga tau kalau yang menciumku adalah dirimu."
" Apa aku menciumnya di depan Intan, ah sangat memalukan, kenapa aku bisa melakukan itu."
" Tidak sayang, kau melakukannya tidak di depan Intan, tapi di kamar, tapi Intan tau karena aku semalam memarahi Intan."
" Kak, yang salah aku bukan Intan."
" Iya aku tau."
" Sayang, sarapan dulu ya, aku suapin?"
" Aku tidak lapar kak."
" Sayang, tidak boleh seperti itu, sekarang sarapan dulu."
" Aku tidak mau sarapan sebelum kau menjelaskan siapa wanita itu!"
Ardi menghela nafas berat setelah mendengar ucapan istrinya, bukan'kah tadi sudah selesai, sekarang masih di permasalahan lagi
" Sayang, dia adalah Rahma Ex, dia anak dari Ex Grup, sekaligus penerus Ex Grup."
Lisa langsung memotong pembicaraan suaminya
" Iya, karena dia dan kau memiliki profesi yang sama, kau abaikan aku lalu kau bersamanya, aku memang bodoh tidak bisa membantumu, tapi aku sudah berusaha jadi istri yang baik untukmu!"
__ADS_1
" Sayang, perusahaan aku dengan perusahaannya itu sudah terikat kontrak kerja sama, sudah 4 tahun yang lalu, aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan wanita itu."
" Apa kau mencintaiku?"
Ardi menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan istrinya, jelas-jelas dirinya itu sangat mencintainya, jika tidak mencintainya mana mungkin rela akan melepaskan istrinya dengan pria lain. Lisa yang belum mendapatkan jawaban dari suaminya lalu langsung bertanya lagi
" Apa kau mencintaiku?"
" Jelas aku mencintaimu."
Deret....deret....
Tiba-tiba ponsel Lisa berbunyi, Ardi langsung berjalan mengambil ponsel istrinya yang ada di atas meja, lalu dirinya melihat nama yang ada di panggilan itu Livino. Ardi mulai kecewa setelah melihat yang menelepon istrinya itu adalah Livino. Ardi langsung mendekati istrinya lagi hingga dirinya sampai di samping ranjang. Ardi langsung mengasih ponsel istrinya
" Panggilan dari kekasihmu."
Setelah mendengar ucapan suaminya dirinya hanya mengerutkan keningnya, lalu dirinya mengambil ponsel itu. Lisa melihat nama Livino di layar ponselnya, lalu dirinya langsung melihat suaminya lagi. Ardi yang di lihat istrinya, dirinya langsung menyuruh istrinya mengangkat panggilan dari Livino
" Angkat saja, aku akan keluar dari kamar, kau tidak perlu kuatir, aku tidak akan mendengarkan pemibacaranmu dan aku juga tidak akan marah padamu."
Ardi yang akan melangkahkan kakinya, tapi Lisa langsung memegang tangan kiri suaminya lalu dirinya langsung mengangkat panggilan telpon dari Livino. Lisa membesarkan volume panggilannya
" Kaka, ada apa?"
" Kaka hanya mau mengabarimu, kalau papah sudah sadar dari kom'a."
" Om kenapa kak?"
" Bukan'kah Kaka sudah mengirim chat WhatsApp, kalau papah kecelakaan dan kau juga sudah membaca pesan itu, apa kau tidak apa-apa sayang?, sepertinya kau habis menangis?"
Setelah mendengar jawaban dari Livino, Lisa langsung menatap suaminya sambil tersenyum karena dirinya sekarang menemukan jawaban, kenapa suaminya itu marah pada dirinya dan terus saja menghindari dirinya, ternyata karena dirinya mendapatkan pesan dari Livino
" Tidak kak, aku baik-baik saja, aku juga minta maaf kak karena lupa tentang Om."
" Tidak apa-apa sayang, ingat pesan Kaka, jadi istri yang baik dan patuh pada suami, apa kau mengerti?"
" Iya kak, Lisa mengerti."
" Ya sudah kalau kau baik-baik saja Kaka tutup dulu telponnya sayang."
__ADS_1
" Iya kak."
Lisa dan Livino lalu mengakhiri panggilan telpon itu