Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 67. Kuatir


__ADS_3

Intan rasanya bahagia karena di perbolehkan tinggal di sini oleh ibunya. Tadi Mey juga sudah berangkat di antar oleh Mirna dan Intan sampai bandara hingga keduanya sudah sampai lagi di rumah, Intan dan Mirna memasuki rumah lalu mereka melihat Lisa yang masih melamun dari mereka berangkat hingga pulang, Lisa masih tetap dengan posisi yang sama. Mirna dan Intan langsung mendekati Lisa yang masih melamun sambil membawa ponsel baru karena tadi Ardi menyuruh ibunya untuk membelikan ponsel untuk istrinya, lalu Mirna dan Intan pun langsung duduk di samping Lisa. Lisa masih tetap tidak menyadari ada ibu mertuanya dan adik sepupunya karena perasaan dirinya memiliki perasaan kuatir pada Om Rian, entah perasaan apa Lisa juga tidak tau. Mirna yang masih melihat menantunya diam dirinya langsung memanggil menantunya


" Sayang, ada apa?"


Lisa melihat ke arah ibu mertuanya sambil tersenyum. " Mamah sudah pulang cepat sekali?"


" Iya sayang, mamah sudah 3 jam tadi keluar, kau kenapa sayang?"


" Tidak ada mah."


" Sayang, mamah beliin ponsel baru untukmu."


Mirna langsung mengasih ponselnya pada menantunya, lalu Lisa mengambil ponsel yang di serahkan ibu mertuanya


" Terimakasih mah, maaf ngerepotin."


" Tidak apa-apa sayang."


" Mah Lisa ke kamar dulu."


" Iya sayang."


Lisa langsung menaiki tangga sambil membawa ponsel dari ibu mertuanya dan di ikuti Intan yang kuatir pada Lisa, namen Intan berjalan perlahan sedangkan Lisa berjalan terburu-buru hingga dirinya sampai di kamar sedangkan Intan berdiri di depan pintu, dirinya ingin tau ada apa dengan Lisa yang sudah 3 jam melamun. Lisa lalu langsung mengambil kartu ponsel lamanya yang ponselnya dirinya banting. Lisa langsung memasang kartu itu ke dalam ponsel barunya, setelah selesai Lisa langsung menghubungi Om Rian karena dirinya merasa kuatir dari tadi siang. Lisa menelpon hingga 30 kali namen tidak ada jawaban sama sekali lalu dirinya memutuskan menelpon Livino, tapi tetap tidak ada jawaban dari Livino. Lisa benar-benar sangat kuatir, lalu dirinya memutuskan untuk mengirim pesan WhatsApp pada Livino, setelah selsai mengirim pesan Lisa langsung mengambil foto di dalam laci lalu setelah itu dirinya duduk di atas ranjang sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang sambil menatap foto dirinya bersama Livino, Om Rian dan Tante Livia


" Kak, apa kalian baik-baik saja?, perasaan apa ini, kenapa aku sangat kuatir pada Om Rian."


Intan yang dari luar pintu mendengar samar-samar mambuat dirinya penasaran. Intan dengan ragu-ragu membuka pintu kamar Lisa, ternyata kamar itu tidak di kunci, lalu dirinya langsung masuk ke dalam kamar. Intan melihat Lisa yang memegangi foto membuat dirinya penasaran lalu mendekati Lisa sambil bertanya


" Lisa kau kenapa?"

__ADS_1


Lisa langsung melirik ke arah suara itu ternyata itu adalah Intan. Lisa hanya menjawab dengan gelengan kepala. Intan langsung duduk di atas ranjang di samping Lisa


" Lisa, kalau ada masalah bilang, bukan'kah kau bilang kita keluarga."


" Tidak ada Intan."


" Kalau kau baik-baik saja, kenapa kau memegangi foto ini, siapa dia?"


" Apa kau tidak mengenal dari salah satu foto ini?"


" Jelas aku mengenal foto wanita ini, karena dia adalah penari ballet terkenal, apa pria kecil ini anak dari Livia?"


" Iya dia anak dari Tante Livia."


" Lalu wanita cantik ini siapa?, bukan'kah merek hanya memiliki satu anak?"


" Yang ini adalah aku."


" Iya, dia sudah aku anggap sebagai Kaka kandungku sendiri."


" Lalu kenapa kau memegangi foto ini terus, apa kau merindukan mereka?"


" Tidak, tapi aku sangat kuatir pada Om Rian."


Lisa memang benar-benar kuatir pada Om Rian hingga membuat badan yang sangat lemas, entah apa yang terjadi dalam keluarga mereka. Intan menatap mata Lisa dengan tatapan bingung kalau pun terjadi apa-apa dengan mereka, kenapa ikatan batin Lisa seperti anaknya, lalu Intan menyuruh Lisa untuk istirahat


" Lisa, lebih baik kau istirahat."


" iya."

__ADS_1


" Ya sudah aku ke kamarku dulu."


" Iya."


Intan langsung berdiri lalu langsung melangkahkan kakinya keluar kamar dengan perasaan yang sangat bingung pada Lisa. Setelah Intan keluar Lisa langsung meletakkan foto itu ke tempatnya dirinya memutuskan untuk mandi karena sekarang sudah pukul 17.00 WIB, Setelah 15 menit Lisa selsai dengan ritual mandinya lalu dirinya melihat ponsel ternyata belum juga di bales oleh Livino, lalu Lisa langsung keluar dari kamar untuk menunggu suaminya pulang, hingga dirinya sampai di ruang tamu, Lisa duduk sambil menyadarkan kepala. Mirna yang sedang ada di ruang tv langsung mendekati menantunya hingga dirinya sampai di ruang tamu lalu dirinya langsung duduk di samping menantunya


" Sayang, makan saja dulu, mungkin Ardi masih banyak kerjaan di kantor."


" Iya mah, nanti kalau Lisa lapar pasti makan."


Mirna terus saja menatap wajah menantunya yang menjawab perkataan dirinya tanpa menengok, entah kenapa Mirna juga tidak tau dari tadi sore menantunya itu melamun. Namun dirinya juga tidak ingin bertanya karena menurut dirinya selama Lisa baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup, hingga sekarang pukul 21.00 WIB, tapi Lisa tidak ada pembicaraan membuat Mirna sangat lelah, setelah itu dirinya lebih baik masuk ke dalam kamar


" Sayang, mamah masuk kamar dulu, kau lebih baik istirahat sayang."


" Iya mah."


Mirna langsung berdiri lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Lisa sudah benar-benar lelah menunggu suaminya pulang, bahkan sekarang sudah menujukan pukul 22.10 WIB, tapi suaminya belum saja datang, lalu Lisa memutuskan untuk tiduran di sofa untuk menunggu suaminya pulang hingga Lisa tertidur. Tidak lama Ardi pulang dengan rasa yang sangat lelah, tapi lelah itu seketika hilang saat melihat wanita yang di cintainya sedang tertidur di sofa. Ardi langsung berjongkok lalu mencium kening istrinya sekilas


.


" Maafkan aku sayang, akhir-akhir ini aku sangat sibuk."


Ardi langsung mengangkat tubuh istrinya menaiki tangga hingga dirinya sampai di kamar, lalu dirinya membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang setelah itu dirinya langsung pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah 25 menit Ardi selsai dengan ritual mandinya lalu dirinya langsung naik ke atas ranjang, tiba-tiba ponsel istrinya bergetar


Deret...deret...


Ardi mengambil ponsel itu lalu dirinya membuka pesan WhatsApp dari Livino


Iya semua yang kau kuatir'kan memang benar sayang, papah tadi pagi kecelakaan, sekarang masih ko'ma, tapi kau tidak perlu kuatir.

__ADS_1


Setelah membaca pesan itu dada Ardi sangat sesak, kenapa istrinya memiliki ikatan batin yang sangat kuat terhadap keluarga mereka, lalu dirinya menjadi berpikir kalau istrinya masih menyukai Livino. Ardi langsung menghapus pesan dari Livino, dirinya takut kalau istrinya marah karena berani telah membuka pesannya. Ardi langsung menatap lekat wajah cantik istrinya yang sedang tidur


" Apa aku terlalu egois? yang selalu mempertahankan rumah tangga yang tidak seharusnya aku pertahanan, kenapa ikatan batinmu sangat kuat pada Livino?, Ardi harusnya kau sadar bahwa istrimu tidak akan pernah bisa mencintaimu sepenuhnya, Lisa kenapa di balik wajah cantikmu tersimpan begitu banyak rahasia."


__ADS_2