
Ardi masih memandangi wajah istrinya sambil tersenyum kecewa, entah'lah dengan cara apa lagi istrinya itu agar mencintai dirinya sepenuhnya, tapi menurut Ardi tidak mungkin karena yang Ardi tau Livino adalah kekasih kecilnya, sekarang dirinya juga tidak ingin lagi egois dan mempertahankan rumah tangga yang tidak seharusnya dirinya pertahankan, apa lagi istrinya tidak menjelaskan tentang Livino pada dirinya, dirinya hanya mengingat perkataan istrinya yang mengatakan. Aku dan Livino tidak akan bisa bersama membuat dirinya berpikir Kalau dirinya penyebab berakhirnya hubungan mereka. Ardi sama sekali tidak sakit hati atas panggilan Livino yang memanggil istrinya dengan kata sayang, namen dirinya sangat kecewa karena ikatan batin istrinya sangat kuat terhadap Livino, membuat dirinya berpikir kalau dirinya akan melepaskan istrinya, selama orang yang dirinya cintai bahagia dirinya ikut bahagia, lalu Ardi mencium kening istrinya yang masih tertidur pulas, setelah mencium kening istrinya dirinya memandangi wajah istrinya lagi
" Lisa, apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, kenapa aku mengenalmu begitu lama, tapi sulit untuk tau isi hatimu, apa kau benar-benar tidak bisa melepaskan Livino?, apa kau hanya setengah hati mencintaiku?, aku tidak ingin egois lagi. Jika memang kau sangat mencintainya aku akan mundur dari pernikahan kita, aku ingin kau bahagia, maafkan aku yang sangat egois, aku pikir kau menerimaku karena kau mencintaiku, namun semua itu salah, kau mungkin hanya menghargai aku hanya sebagai suamimu."
Ardi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB, namen dirinya belum saja mengantuk karena dadanya merasa sesak, membuat dirinya tidak bisa tidur, yang awalnya melihat istrinya itu langsung hilang rasa lelahnya, tapi setelah melihat pesan dari Livino dadanya merasa sesak. Ardi terus saja memandangi istrinya sambil memikirkan hal besok, karena dirinya besok akan mencoba cuek agar dirinya bisa menerima kenyataan kalau istrinya tidak bisa mencintai dirinya sepenuhnya, lalu dirinya mencium kening istrinya lagi masih sambil tersenyum setelah mencium keningnya, lalu dirinya memandangi istrinya lagi
" Lisa, aku akan berusaha menerima kenyataan kalau kau tidak bisa mencintaiku sepenuhnya, tapi sebelum aku mundur dari pernikahan ini, aku butuh waktu untuk menghindarimu, mungkin dengan cara itu aku bisa melepaskanmu. Walaupun aku tau tidak mungkin bisa melupakanmu, tapi untukmu aku akan lakukan itu, maafkan aku yang terlalu egois tidak mengerti hatimu."
Ardi benar-benar merasa bersalah karena menurut dirinya terlalu egois, dirinya pikir dengan berjalanya waktu istrinya akan mencintai dirinya sepenuhnya, tapi tidak. Setelah tau ikatan batin istrinya sangat kuat terhadap Livino membuat dirinya berpikir kalau dirinya penyebab berakhirnya hubungan mereka, karena sampai saat ini, istrinya tidak menjelaskan ada hubungan apa, istrinya dengan Livino membuat Ardi salah mengartikan dengan kedekatan mereka. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB, Ardi memutuskan untuk tidur sebentar karena dirinya juga harus pergi bekerja, lalu dirinya membaringkan tubuhnya sambil terus memandangi istrinya hingga dirinya terlelap. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 06.00, Ardi sudah bangun lalu dirinya memandangi istrinya yang masih dengan posisi yang sama, entah kenapa tidak biasanya istrinya tidur sangat nyenyak, biasanya istrinya bangun lebih dulu, mungkin menurut Ardi pagi ini masih hari keberuntungan karena dirinya yang akan mencoba menghindar dari istrinya, tapi pagi ini masih bisa memandangi wajah istrinya, lalu Ardi memutuskan untuk mandi, dirinya langsung berdiri lalu berjalan ke dalam kamar mandi. Ardi langsung menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya, sambil terus berpikir
" Lisa, bisa'kah aku menghindarimu?, bisa'kah aku menjauhimu?, tapi ini cara satu-satunya agar kau bisa bersama orang yang kau cintai."
Setelah 30 menit Ardi pun selsai mandi, lalu dirinya berjalan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih, Ardi melihat istrinya yang masih membaringkan tubuhnya, lalu dirinya berjalan ke meja rias hingga dirinya sampai di meja rias. Ardi langsung menyisir rambutnya, setelah selesai dirinya mengambil tas kerja, setelah itu dirinya langsung berjalan akan keluar namen setelah di samping ranjang istrinya langsung memegang pergelangan tangan dirinya
" Kak, kenapa langsung pergi tidak biasanya masih pagi?"
Ardi tidak menengok ke arah istrinya, dirinya masih berdiri membelakangi istrinya
" Aku ada meeting."
__ADS_1
" Apa perlu aku bawain bekal makan siang?"
" Tidak perlu, aku meeting di luar kantor."
Lisa pun langsung duduk setelah 2 kali suaminya menjawab tanpa memanggil kata sayang, dan tidak menengok pada dirinya sama sekali, dirinya juga masih memegang pergelangan tangan suaminya. Namun Lisa yang masih pusing karena baru bangun tidur dirinya masih di atas ranjang, lalu dirinya memutuskan untuk minta maaf karena semalam dirinya tidur lebih dulu
" Kak, aku minta maaf, semalam aku sangat ngantuk, apa kau marah karena aku tidur lebih awal?"
" Tidak, sudah'lah lebih baik kau tidur lagi, aku harus pergi bekerja."
Ardi langsung melepaskan pegangan tangan istrinya yang di pergelangan tangan dirinya, tapi Lisa langsung memegang tangan suaminya lagi
" Tidak, semuanya sudah aku bereskan."
Setelah mendengar itu Lisa langsung melepaskan pergelangan tangan suaminya, lalu suaminya melangkahkan kakinya keluar dari kamar, setelah suaminya keluar dari kamar. Lisa menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, sambil terus berpikir
" Salah apa aku kak?, kenapa kebiasaan pagi yang selalu mencium kening itu hilang dalam semalam, apa kau benar-benar lelah hingga lupa kebiasaan pagi, aku memang bodoh, seandainya kau tidak mengambil jurusan kedokteran mungkin aku sekarang bisa membantu suamiku, tapi sekarang bahkan aku tidak bisa apa-apa, aku juga tidak pernah mengurus perusahaan Ayah, kasihan kak Ardi." batin Lisa
Setelah lama melamun lalu Lisa mengambil ponselnya, dirinya hanya menekan tombol untuk melihat ada pesan WhatsApp tidak dari Livino, ternyata tidak ada, lalu dirinya mengecek pesan WhatsApp dari dirinya sudah di baca belum, ternyata pesan itu sudah di baca oleh Livino
__ADS_1
" Apa yang terjadi dengan om Rian? kenapa kak Livino hanya membaca pesanku tanpa membalasnya, apa kak Livino terlalu sibuk hingga tidak membalas pesanku, atau ada sesuatu?." Batin Lisa
Sedangkan Ardi menuruni tangga dengan wajah yang sangat murung, dirinya juga tau maksud istrinya yang mengatakan apa tidak lupa sesuatu?, dirinya juga sebenarnya tidak lupa, tapi semakin dirinya perhatian membuat dirinya tidak bisa melepaskan istrinya, apa lagi dirinya tau, kalau istrinya hingga sekarang masih sering mengirim pesan pada Livino, hingga Ardi sampai di ruang tamu. Mirna yang ada di ruangan tamu, dirinya melihat anaknya yang tidak sarapan langsung bertanya
" Pagi sayang, kau tidak sarapan dulu?"
" Pagi juga mah, tidak mah, Ardi buru-buru."
" Lisa kenapa sayang? kenapa belum turun?"
" Lisa masih berbaring mah, semalam Lisa menunggu Ardi, jadi Lisa masih ngantuk."
" Bisa tidak urusan kantormu kau serahkan pada Yoga?, kasihan Lisa."
" Mah, Ardi berangkat ke kantor dulu."
" Iya hati-hati sayang."
" Iya mah."
__ADS_1
Mirna menatap anaknya yang berjalan keluar, entah'lah dirinya bingung, kenapa anaknya tidak menjawab pertanyaan dari dirinya melainkan berpamitan, apa lagi melihat menantunya juga tidak biasanya tidak turun membuat dirinya semakin bingung