
Setelah lama Intan memeluk suaminya, ia pun melepaskan pelukannya, tapi isak tangis bahagia itu masih saja belum berhenti, ia menatap wajah suaminya dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Yoga langsung menghapus air mata istrinya yang masih saja membasahi pipinya
"sudah sayang, malu di lihat banyak orang."
Intan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Yoga pun selsai menghapus air mata istrinya. Intan melihat baju suaminya basah, lalu ia langsung minta maaf
" Yoga, aku minta maaf, bajumu jadi basah kuyup."
" Tidak apa-apa sayang."
Intan lalu langsung mendekati ayah mertuanya, yang dari tadi ada di sampingnya, ia lalu langsung memeluk ayah mertuanya. Herman juga membalas pelukan menatunya. Intan memutuskan untuk berbicara pada ayah mertuanya
" Terimakasih ayah, kau sudah mau menerima aku jadi menantumu, hiks..hiks.. aku benar-benar bahagia, sekali lagi aku ucapkan terimakasih."
" Iya Intan, tentu saja ayah akan menerimamu sebagai menantu Ayah, kau adalah wanita yang baik, kau jangan menangis lagi, ayah juga minta maaf karena sudah membatalkan pernikahanmu saat itu, tapi ayah hanya ingin hari pernikahan kalian tepat pada hari pernikahan ayah."
" Ayah tidak perlu minta maaf, hiks..hiks.. aku sangat bersyukur karena ayah masih mau menerimaku, setelah semua yang terjadi di masa lalu, tapi ayah masih tetap menerimaku, aku sangat bersyukur hidup di samping orang-orang baik, dan mendidikku menjadi lebih baik."
" Intan, kau tidak salah apa-apa, masa lalu ibumu biarlah berlalu, ayah juga sudah memaafkan kesalahan ibumu, mungkin semua terjadi sudah takdir, dan ini juga tidak ada kaitannya denganmu, jadi jangan pernah minta maaf pada ayah, yang terpenting sekarang kau sudah menikah dengan anak ayah, ayah harap kau bisa menerima segala kekurangan Yoga, mau pun sipat buruk Yoga. Jika di masa depan ada masalah, kau harus cerita sama Ayah, ayah akan selalu ada untukmu, ingat, jangan pernah menganggap ayah seperti ayah mertuamu, kau harus menganggap ayah seperti ayahmu sendiri, dan ayah juga menganggapmu seperti anak ayah sendiri."
" Iya ayah, terimakasih ayah, ayah benar-benar orang yang sangat baik, hiks..hiks..."
" Sama-sama Intan, sudah jangan nangis terus, capek nak."
" Iya Ayah."
Intan dan Herman lalu melepaskan pelukannya. Setelah itu Yoga juga langsung memeluk ayahnya sambil menangis. Herman juga membalas pelukan putranya. Yoga lalu langsung berbicara sambil terus memeluk ayahnya
" Ayah, terimakasih, karena sudah merestui aku dengan Intan, terimakasih karena sudah menyiapkan semua ini untukmu."
" Sama-sama nak, tidak perlu menangis, kau sudah punya istri, kenpa menjadi cengeng?"
" Ayah, aku bukan cengeng, tapi ini sangat bahagia."
__ADS_1
" Ayah tau, ingat kau sekarang sudah menjadi seorang suami, kau harus belajar jadi suami yang baik, jika di masa depan ada masalah, kau harus mengalah, dan memperbaiki semuanya, ingat nak, ayah dan ibumu selama pernikahan belum pernah ada masalah sedikitpun, karena ayah dan ibumu sudah mengerti sikap pasangannya, kalau kau masih belum mengerti, kau harus mengalah, agar rumah tangga kalian tetap langgeng, ayah juga berharap bisa secepatnya mendapatkan cucu, dan satu lagi, buang sikap burukmu itu."
" Iya ayah terimakasih sudah menasehatiku, tunggu tadi ayah bilang sikap burukku, memangnya aku memiliki sikap buruk ayah?"
" Tentu saja, kau menganggap Karina serigala tanpa bulu, apa itu bukan sikap buruk?"
Yoga yang mendengar pertanyaan ayahnya, ia sangat malu, lalu langsung menjawab pertanyaan ayahnya
" Iya, itu sangat buruk ayah, bagaimana mungkin domba kecilku mendadak jadi serigala tanpa bulu, bahkan dia lebih mengerikan dari serigala, tapi ternyata dia masih tetap domba kecilku, eh salah, sekarang dia menjadi domba kecil ayah, yang selalu nurut apa kata ayah."
Karina yang mendengar Yoga mengatakan domba kecil padanya, ia langsung menjawab ucapan Yoga
" Bukan'kah yang di katakan domba kecil itu harusnya kak Yoga?, bagaimana mungkin kak Yoga bisa di tipu oleh anak ingusan sepertku?, itu artinya Kaka yang sebagai domba kecil, bukan aku."
Yoga yang mendengar ucapan Karina, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung berjalan mendekati Karina, hingga ia sampai di depan karina, ia langsung menarik Karina dalam pelukannya, setelah itu ia langsung minta maaf pada Karina karena sudah sering mengatakan kata-kata kasar beberapa hari ini
" Aku minta maaf Karina, aku selalu saja mengatakan kata-kata kasar padamu beberapa hari ini, aku tidak pernah percaya kalau kau membohongiku begitu kejam, hingga mengatakan obat perangsang, obat penyubur, entah kata-kata dari mana yang kau dapat, hingga membuat aku sangat emosi dan benci setiap mengingat ucapanmu yang tidak masuk akal, bahkan aku tidak bisa melihat kau yang dulu, yang selalu saja bertingkah kanak-kanakan, tapi kemarin kau seolah-olah bertingkah seperti gadis dewasa."
Yoga masih meneteskan air mata, tapi ia tersenyum setelah mendengar celotehan Karina, lalu ia langsung bertanya kenapa memanggilnya dengan sebutan domba
" Kenapa kau memanggilku dengan sebutan domba?"
" Tentu saja, Kaka seperti domba kecil yang pasrah begitu saja, kerjaannya hanya menangis dan pasrah di kamar, sekalinya ngajak kabur, lalu kak Intan menolak, Kaka juga pasrah lagi, bukan'kah panggil Kaka domba itu pantas untukmu kak?"
" Terserah kau saja."
" Apa Kaka domba tidak marah lagi?"
" Tentu saja tidak, siapa yang marah padamu Karina, aku kemarin hanya marah dengan melakukanmu, yang semakin hari semakin tidak jelas."
" Terimakasih Kaka domba."
" Sama-sama Karina, berhenti memanggilku Kaka domba."
__ADS_1
" Iya, iya kak."
Karina dan Yoga lalu melepaskan pelukannya. Intan langsung memeluk ibunya. Mey juga membalas pelukannya, lalu ia memutuskan untuk minta maaf pada putrinya
" Sayang, mamah minta maaf, kemarin mamah sangat kasar padamu, apa kau tidak marah sama mamah?"
" Mana mungkin aku marah mah, hiks..hiks.. aku bahkan sangat bahagia, terimakasih mah karena mamah selalu saja menuruti keinginanku."
" Sama-sama sayang."
Intan dan Mey lalu melepaskan pelukannya. Intan langsung memeluk ayahnya. Rangga juga membalas pelukan putrinya
" Papah, terimakasih."
" Sama-sama nak."
Intan dan Rangga lalu melepaskan pelukannya. Rangga langsung menghapus air mata yang ada pada pipi putrinya
" Jangan menangis terus nak, capek, sudah beberapa hari kau menangis, sekarang kau sudah menikah dengan pria yang kau cintai, tapi masih saja menangis."
" Papah, aku sangat bahagia tau, jadi aku menangis terus."
Yoga, langsung mendekati sahabatnya, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat, lalu ia memutuskan untuk minta maaf karena kekakuannya tadi pagi sangat kasar
" Ardi, aku minta maaf, aku tadi pagi hampir saja memukulmu, kalau kau tidak sigap memegang tanganku, mungkin kau sudah terkena pukulanku."
" Tidak apa-apa Yoga, aku mengerti posisimu seperti apa, apa lagi yang kau tau, kau akan menikah dengan Karina, tapi aku mengejekmu seperti serigala kecil yang kelaparan, tentu kau marah, tapi apa kau yakin masih tidak tertarik dengan tubuh istrimu?"
" Ardi! pertanyaan macam apa, malu tau."
" Baiklah, semoga kau cepat di beri momongan."
" Terimakasih Ardi."
__ADS_1