
Herman tadi sudah menghubungi Rangga, ia meminta bertemu di Restoran terdekat rumahnya, dan Rangga juga menyetujui permintaannya. Sekarang Herman sudah duduk duduk di restoran tersebut, ia sedang menunggu Rangga. Tidak lama Rangga dan Mey pun sampai di parkiran, mereka langsung turun dari mobilnya, lalu langsung berjalan mendekati Herman, hingga mereka sampai di tempat Herman duduk. Rangga langsung menggeser kursi untuk duduk istrinya. Mey langsung duduk. Setelah istrinya duduk Rangga langsung menggeser kursi untuk dirinya, lalu ia langsung duduk. Rangga memutuskan untuk bertanya lebih dulu
" Ada apa kau meminta kami untuk kemari?, Herman, tolong jangan membuat putriku semakin sedih, Intan hanya korban orang tuanya, Intan tidak salah apa-apa, saya selaku orang tua Intan, saya minta tolong jangan pernah membencinya, Intan akan hadir di pernikahan Yoga."
" Rangga, saya tau kau sangat menyayangi Intan, saya juga sangat menyayangi Yoga, saya juga sudah memaafkan masa lalu ibunya Intan, dan saya menganggap semua itu sudah takdir, tapi saat itu saya takut kalau Intan akan melakukan hal yang sama seperti ibunya, apa lagi saya juga sudah tau, kalau Intan hampir saja merusak rumah tangga Ardi, saya hanya takut kalau Yoga hanya pelampiasan bagi Intan, tapi saya juga sudah mencari tau lagi tentang Intan, kalau Intan belajar memasak hanya untuk Yoga, bahkan Intan luangkan waktu untuk pergi ke kantor menemui Yoga, untuk itu saya pasrah akan keadaan, saya yakin Intan pantas untuk mendampingi anak saya."
Mey yang mendengar penjelasan Herman, seketika ia tidak percaya kalau Herman akan merestui hubungan mereka, lalu ia langsung bertanya, ia takut salah dengar
" Apa tadi kau bilang Herman?"
" Saya merestui hubungan mereka."
Mey yang mendengar jawaban Herman, wajah yang tadi murung, langsung berubah menjadi ceriah, ia sangat bahagia, akhirnya Herman merestui hubungan putrinya bersama Yoga. Rangga yang mendengar jawaban Herman, ia masih bersikap biasa saja, apa lagi Herman juga belum menjelaskan tentang pernikahan Yoga dan Karina, lalu ia memutuskan untuk bertanya tentang pernikahan itu
" Herman, bagaimana pernikahan Karina dan Yoga?, bukan'kah kau mempermainkan Karina?"
Herman yang melihat ekspresi wajah Rangga yang masih memasang wajah datar, ia langsung tersenyum, lalu langsung menjawab pertanyaan Rangga
" Karina sama sekali tidak mencintai Yoga, dia hanya menganggap Yoga sebagai Kaka, tidak lebih, tapi memang beberapa hari kemarin saya meminta bantuan Karina untuk berpura-pura mencintai Yoga, saya ingin Yoga dan Intan menikah tepat pada hari ulang tahun pernikahan saya, dan termasuk ulang tahun Yoga, saya juga ingin menikahkan mereka di gedung Haivel, karena saat itu, saya juga menikah di gedung Haivel, saya berharap mereka bahagia, dan hingga maut yang memisahkan mereka, untuk itu, saya menggunakan semua yang berkaitan dengan saya dulu. Rangga, Mey, sebelumnya saya minta maaf, karena tidak menceritakan rencana saya pada kalian, tapi saya harap, pernikahan putrimu dan putraku besok berjalan dengan lancar."
__ADS_1
Rangga yang sudah mengerti atas penjelasan Herman, wajahnya seketika langsung berubah menjadi ceriah, dan senyuman tipis di bibirnya mulai terlihat, ia sangat bahagia setelah mendengar penjelasan Herman, lalu ia langsung menjawab ucapan Herman
" Herman, kau tidak perlu meminta maaf pada saya, saya mengerti, kau ingin memberi sebuah kado terindah pada ulang tahun anakmu, saya sama sekali tidak marah atas tindakanmu yang membuat kami sedih untuk beberapa hari, selama saya bisa melihat Intan tersenyum lagi, dan bersanding dengan pria yang di cintainya, itu sudah lebih dari cukup buat saya. Saya juga berterimakasih karena kau tidak membenci anak saya lagi."
" Rangga, tidak perlu berterimakasih, kita di sini hanya ingin anak-anak kita bahagia, tapi saya di sini ingin meminta satu permintaan, apa boleh?"
" Katakana saja, selama saya bisa, saya akan lakukan, yang penting saya bisa melihat putri saya bahagia."
" Saya ingin, kalian berpura-pura untuk menjodohkan putrimu dengan seseorang, bagaimana pun juga tentu Intan harus memakai gaun pengantin yang cantik, dan masalah gaun saya juga sudah menyiapkannya khusus rancangan saya sendiri, saya ingin melihat calon menantu saya berpenampilan sangat cantik."
" Baiklah, saya akan menuruti keinginanmu Herman."
" Ini adalah kartu kamar rias untuk Intan."
Rangga langsung mengambil kartu tersebut
" Iya, Terimakasih."
" Sudah saya bilang, tidak perlu berterimakasih, ini adalah untuk kebahagiaan anak-anak kita, tapi saya hanya ingin mengajukan satu syarat Rangga, apa boleh?"
__ADS_1
" Katakan saja Herman."
" Setelah mereka menikah, saya hanya ingin mereka tinggal di Indonesia, di mana pun mereka tinggal, saya tidak ingin jauh dari anak saya, sesekali main ke rumahmu boleh, hanya saya tidak ingin anak saya tinggal di Inggris."
" Baiklah, tidak masalah Herman, saya akan menyetujui syarat yang kau ajukan."
" Rangga, Mey, terimakasih banyak karena kalian sudah menyetujuinya."
" Sama-sama Herman." jawab Rangga dan Mey berbarengan
Setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya Intan, Herman sangat bahagia, ia memang tidak menginginkan anaknya jauh dari kehidupanya, apa lagi usianya yang sudah tua, dan ia hanya memiliki anak satu-satunya, untuk itu, ia berharap Yoga selalu ada di sekitarnya, walaupun harus berpisah rumah, tapi harapan ia, Intan mau tinggal satu rumah bersamanya, agar rumah itu tidak suyi, apa lagi setelah istrinya meninggal, rumah itu begitu sunyi, karena anaknya selalu saja sibuk di kantor, dan di rumah hanya ada ia dengan pelayan. Rangga dan Mey juga sangat bahagia, ia tidak peduli walaupun Herman telah membuat kebohongan, hingga membuat putrinya menangis, bagi mereka asal bisa melihat putrinya tersenyum lagi dan bisa melihat putrinya bahagia bersama pria yang putrinya cintai, itu sudah cukup bagi Mey dan Rangga. Mey memutuskan untuk minta maaf, tentang Veronica, bagaimana pun juga sekarang, ia sudah menjadi ibunya Intan, walaupun ia juga hanya tau ceritanya dari Veronica, dan tidak mengetahui secara langsung tentang Herman dan Veronica
" Herman, saya selaku orang tua Intan, saya minta maaf atas kejadian Veronica di antara kalian bertiga di masa lalu, saya juga minta kau jangan pernah membenci putri saya, saya jamin putri saya tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti ibunya, saya yakin putri saya akan seperti saya."
" Mey, tidak perlu minta maaf atas masa lalu Veronica, saya benar-benar sudah memafkannya, saya juga tidak ingin melihat Yoga menderita, saya ingin melihat Yoga bahagia, sudah cukup, Yoga menderita saat ibunya masih hidup, kehidupannya selalu tertekan setiap kali mendengar ibunya sakit, jadi saya tidak akan pernah membenci Intan, dengan cara Yoga mencintai Intan ,saya percaya Intan adalah gadis baik-baik, untuk itu kau tidak perlu kuatir, saya akan menganggap Intan sebagai anak saya sendiri, bukan sebagai menantu di mata saya."
" Terimakasih Herman, kau memang orang yang sangat baik, kau begitu mudah memaafkan masa lalu Veronica yang sangat buruk."
" Tidak perlu berterimakasih, di sini kita berdua adalah korban, kau juga korban keegoisan Veronica, tapi masih bisa menerima anaknya dengan baik."
__ADS_1
" Iya Herman."