Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 112. Tangisan Herman


__ADS_3

Yoga duduk di atas ranjang, ia hanya diam karena begitu sedih sambil terus memandangi foto Intan, ia tidak percaya bahwa perjalanan kisah Cintanya berahir tidak sempurna, tapi ia tidak ingin memohon pada ayahnya, bagaimana pun juga kesalahan ibunya Intan begitu menyakitikan, dan Yoga juga berpikir, mungkin kalau dirinya juga di posisi ayahnya, ia tidak akan pernah setuju. Yoga mengusap lembut wajah Intan di foto yang ia pegang


" Intan, maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskan kejujuran itu, tapi aku tetap akan mencintaimu, aku ingin menikah denganmu, begitu susahnya aku ingin bersamamu, kisah cinta kita berakhir dengan tidak sempurna, maafkan aku harus menjadi pria pengecut, aku mohon jangan pernah membenciku."


Yoga terus saja berbicara sendiri hingga air mata itu tidak terasa mengalir, ia benar-benar tidak berdaya, dengan keadaan yang menimpanya, keadaan yang begitu sulit, bahkan hingga saat ini ayahnya belum berkata apa-apa padanya. Tidak lama ada ketukan pintu


Tok-tok


Yoga yang mendengar suara ketukan pintu, ia langsung menyuruhnya masuk


" Masuk."


Ardi yang mendengar teriakan dari dalam untuk menyuruhnya masuk, ia langsung membuka pintu, lalu langsung berjalan masuk ke dalam kamar itu hingga ia sampai di depan sahabatnya, ia melihat sahabatnya begitu tidak berdaya sambil memegang foto Intan. Yoga langsung memeluk sahabatnya yang masih berdiri di depannya, ini adalah pertama kalinya, ia begitu lemah dan tidak bisa tegar, biasanya setiap sahabatnya memiliki masalah dengan istrinya, ia selalu mencari solusi dengan cepat, tapi sekarang saat masalah itu menimpa diri sendiri, ia tidak bisa apa-apa. Ardi juga membalas pelukan sahabatnya, sambil berkata

__ADS_1


" Yang sabar Yoga, kita bicarakan ini sama-sama dengan om Herman, kau tidak perlu sedih."


" Ardi, apa Intan baik-baik saja, pasti dia sangat membenciku, karena dia pikir pasti aku mempermainkan perasaanya."


" Yoga, kau tidak perlu memikirkan hal itu, Intan baik-baik saja, dia tidak membencimu, karena pikirannya di penuhi oleh rasa cinta dan sayang padamu, kau harus mencari solusi agar bisa menikah dengan Intan."


" Ardi, aku tidak memiliki solusi apa-apa, aku juga tidak ingin memohon pada ayah, mungkin kalau masalah ini menimpaku, aku juga mungkin membenci anak dari wanita itu, jadi tolong kau jangan membuat masalah ini semakin rumit."


" Yoga, kau dan Intan itu saling mencintai, dan aku akan berusaha untuk membujuk om Herman, apa lagi kalian berdua tidak salah."


" Yoga, sampai kapan kau hanya diam?"


" Aku tidak ingin membuat ayah semakin dilema dengan perasaanya, tidak masalah aku tidak bisa menikah dengan Intan, yang penting ayah tidak memikirkan masalah ini."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari sahabatnya, Ardi hanya bisa pasrah dengan keputusan dari sahabatnya, ia juga tau, sahabatnya adalah orang yang sangat berbakati pada orang tuanya, bahkan dalam kehidupannya, sahabatnya belum pernah melanggar satu patah katapun dari ayahnya, tapi semakin melihat sahabatnya semakin pasrah, membuat hati Ardi semakin sakit, walaupun dirinya belum pernah merasakan seperti sahabatnya, tapi ia juga sangat sulit untuk mendapatkan hati istrinya kembali, untuk itu, ia mengerti dengan posisi sahabatnya sekarang. Ardi dan Yoga melepaskan pelukannya, keduanya saling menatap satu sama lain. Ardi hanya menatap sahabatnya dengan tatapan kosong, ia bingung harus berbuat apa pada sabatnya sekarang, bahkan ia tidak bisa membantu sahabatnya sama sekali, dulu saat dirinya memiliki masalah, sahabatnya yang selalu membantunya, tapi kini saat sahabatnya memiliki masalah, ia tidak bisa membantu apa-apa pada sahabatnya, lalu ia langsung duduk di atas ranjang bersama sabatnya. Sedangkan di luar Herman mendengar percakapan anaknya dan Ardi membuat hatinya sangat sakit, orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, ia juga ingin melihat anaknya bahagia, tapi ia tidak ingin dengan Intan, wanita yang anaknya cintai, ia sangat membenci ibunya Intan, kebenciannya begitu dalam setelah istrinya sering sakit-sakitan, bahkan hingga menyebabkan meninggal dunia oleh ulah Veronica. Herman tau, jangka waktu istrinya meninggalnya begitu jauh dengan jangka waktu Veronica, tapi tetap saja, kebenciannya begitu dalam


" Maafkan ayah, ayah memang sangat egois, sekarang kau sudah sangat dewasa Yoga, kau mengerti maksud ayah, kau memahami yang ayah inginkan, mungkin seharusnya ayah tidak egois, dan tidak mementingkan diri ayah." batin Herman


Herman yang terus saja mendengar percakapan anaknya dengan Ardi, lalu ia pun memikirkan tentang keegoisan dirinya, hingga tidak terasa air mata itu langsung mengalir deras, rasanya benar-benar sangat sedih, melihat anaknya sedih, dan merasakan dirinya yang memang sangat egois, lalu ia pun berpikir tentang gadis yang di sukai anaknya selama ini


" Apa gadis itu benar-benar baik?, apa aku harus merestui hubungan mereka?, apa gadis itu akan benar-benar mencintai anakku dengan tulus?, apa sikap gadis itu tidak akan seperti Veronica?" batin Herman


Masih banyak pertanyaan lainnya di otak Herman, Yoga adalah anak satu-satunya, ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya, bukan karena Intan adalah anak dari Veronica, tapi ia takut sikap Intan juga seperti Veronica, ia tidak ingin kehilangan anak satu-satunya, sudah cukup ia kehilangan istrinya yang sangat ia cintai selama ini, ia tidak ingin mengulang kesalahan itu untuk yang kedua kalinya. Walaupun Herman terus berpikir tentang Intan, tapi tetap saja ia tidak bisa menentukan pilihannya, ia masih bingung langkah mana yang akan ia ambil, haruskan ia merestui hubungan mereka, dan metujui mereka menikah, atau ia tetap tidak merestui hubungan mereka


" Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus merestui hubungan anakku dengan Gadis itu, atau aku tidak perlu merestuinya, tapi jika aku tidak merestuinya kasihan Yoga, dia terus saja merenung di kamar, haruskah aku kubur dalam-dalam, kebencianku pada Veronika, dan merestui hubungan mereka, atau aku tetap tidak merestui hubungan mereka." batin Herman


Herman lalu langsung terduduk di lantai, ia juga benar-benar tersiksa dengan sikap anaknya selama 2 hari ini, walaupun anaknya sama sekali tidak memohon padanya, tapi melihat anaknya yang terus saja merenung di kamar, membuat ia sangat sendih, apa lagi, kesedihan itu seperti saat anaknya di tinggal oleh ibunya, dia hanya diam dan tidak berbicara apa-apa, apa lagi dulu dia tidak ada sahabat sama sekali untuknya bersandar. Setelah lama Herman terduduk di lantai, lalu ia langsung berdiri lagi, setelah itu ia langsung melangkahkan kakinya ke ruang tamu, hingga ia sampai di ruang tamu. Herman langsung duduk di sofa, setelah itu ia langsung menyadarkan kepalanya di sofa sambil memikirkan anaknya, ia juga tidak tega melihat anaknya yang terus saja murung

__ADS_1


" Aku tidak tega, melihatmu terus saja murung, Yoga, jika gadis itu membuat kau bahagia, mungkin ayah yang akan menyerah dengan keegoisan ayah, mungkin ayah juga akan merestui hubungan kalian, ayah tidak ingin terus-menerus melihatmu sedih seperti ini, jika memang gadis itu bisa membuat bahagia ayah ikhlas, kau denganya." batin Herman


__ADS_2