
Ardi masih terus memeluk istrinya, dengan perasaan sangat takut, takut kehilangan istrinya, kalau saja istrinya menceritakan sebenarnya, ia tidak akan mengatakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, tidak akan bisa menjadi nasi lagi. Lisa masih diam, ia merasakan tubuh suaminya yang gemetar, membuat ia sangat kuatir pada suaminya, tapi ia tidak luluh, ia masih sangat keras kepala
" Kak, apa yang harus aku lakukan, apa aku harus diam di rumah ini, atau aku harus pulang, aku juga tidak tega merasakan tubuhmu yang gemetar, tapi kalau mengingat ucapanmu saat di kamar, itu benar-benar sangat menyakitkan, kalau aku pulang, masalah ini pasti berakhir dalam perceraian." batin Lisa
Ardi melepaskan pelukannya, lalu ia langsung menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu, setelah itu ia langsung berbicara lebih pada istrinya
" Sayang, aku minta maaf, atas ucapanku, aku mohon kau jangan pulang."
" Kak, aku hanya ingin pulang!"
Lisa langsung berjalan keluar. Ardi mengikuti istrinya keluar. Lisa yang merasa di ikuti oleh suaminya, ia berhenti, lalu langsung berbicara tanpa membalikkan badan
" Jika kau masih sangat mencintaiku, tolong jangan ikuti aku, dan jangan membujukku lagi."
Ardi yang mendengar ucapan istrinya, ia langsung menghentikan langkah kakinya. Setelah berbicara seperti itu, Lisa langsung berjalan keluar dari rumah itu, setelah keluar dari rumah itu, ia memutuskan untuk lewat pintu gerbang belakang, agar cepat mendapatkan jalan raya, karena jika berjalan ke pintu gerbang depan, ia harus menempuh perjalanan 15 menit agar menemukan jalan raya, Karena rumah ibu mertuanya, di dalam komplek. Lisa terus saja berjalan dengan air mata yang terus membasahi pipi, rasa kecewa yang ia rasakan sekarang, itu sama persis seperti rasa kecewa saat suaminya dulu minta putus, hingga ia sampai di jalan raya, ia langsung menunggu taksi di sisi jalan raya sambil terus berpikir tentang rumah tangganya
" Lisa, 6 bulan kau belajar menjadi istri yang baik, tapi ternyata, tidak ada artinya untuk suami dan ibu mertuamu, sangat menyedihkan. Sepertinya aku tidak boleh pulang, kalau pulang dengan kondisi seperti ini, mamah akan marah pada ka Ardi, lebih baik untuk malam ini aku menginap di hotel." batin Lisa
Walaupun hatinya pasrah, tapi ia juga belum siap untuk melepaskan suaminya. Tidak lama ada sebuah mobil berhenti di depan Lisa, ia langsung membuka kaca mobilnya
" Lisa."
Setelah mengatakan itu, Ria langsung turun dari mobilnya, ia langsung mendekati Lisa, lalu langsung memanggil namanya
" Lisa!"
" Ria."
Ria langsung memeluk sahabatnya. Lisa juga membalas pelukan. Setelah beberapa menit Lisa dan Ria langsung melepaskan pelukannya. Ria yang melihat sahabatnya menangis ia langsung bertanya
" Kau kenapa?, apa yang terjadi padamu?, dan kau mau kemana?"
__ADS_1
" Aku sedang menunggu taksi, aku akan menginap di hotel Ria."
" Lisa, apa Ardi yang menyuruhmu ke hotel untuk kalian berdua?"
Lisa hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ria yang mendengar jawaban dari sahabatnya, ia langsung bertanya lagi pada sahabatnya
" Lalu kenapa tidak pesan taksi online?, dan mobilmu kemana Lisa?"
" ponselku rusak, dan kunci mobilku di kak Ardi."
Setelah mendengar jawaban dari sahabatnya, Ria yakin kalau sahabatnya itu bertengkar dengan suaminya, lalu ia langsung bertanya lagi
" Apa kau bertengkar Lisa?"
Lisa hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ria yang melihat jawaban dari sahabatnya, tapi ia tetap yakin kalau sahabatnya bertengkar dengan suaminya, lalu ia langsung menyuruh Lisa masuk ke dalam mobilnya
" Lisa, masuklah ke dalam mobilku, kau menginap saja di rumahku, dan ceritakan apa yang telah terjadi."
" Lisa, tolong jangan keras kepala, berhenti bersikap keras kepala, karena kau sekarang sudah hamil, dan aku juga ucapan selamat atas kehamilanmu."
" Dari mana kau tau aku hamil Ria?"
" Jelas aku tau, melihatmu bersikap kanak-kankan, aku sering menemui pasien seperti itu, sudah kau masuk sekarang, dan ceritakan semua tentang Ardi."
Ria langsung memegang pergelangan tangan Lisa, lalu langsung membuka pintu untuk Lisa
" Masuklah."
" Iya."
Lisa langsung masuk ke dalam mobil sahabatnya. Ria langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu langsung melanjutkan mobil itu. Ria di dalam perjalanan tidak bertanya apa-apa, tapi matanya sesekali ia melirik sahabatnya yang masih menangis. Setelah menempuh perjalanan 27 menit, mereka sampai di rumah Ria. Ria dan Lisa langsung turun, lalu mereka langsung berjalan masuk ke dalam rumah yang sangat sepi tak berpenghuni, di rumah itu memang hanya ada satu pelayan, hingga mereka sampai di kamar Ria. Ria langsung menyuruh sahabatnya untuk duduk di sofa
__ADS_1
" duduklah Lisa."
Lisa hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ria langsung duduk, lalu langsung menghapus air mata sahabatnya, setelah selesai, ia langsung bertanya pada sahabatnya
" Ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?, kenapa kau menangis seperti wanita yang sedang cemburu?, apa kau salah paham dengan suamimu?"
Lisa hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia langsung menangis sekencang-kencangnya
" Hiks... hiks...hiks..Ria, aku belajar menjadi istri yang baik selama 6 bulan, tapi itu semua tidak ada artinya bagi mereka. Hiks...hiks.."
Ria langsung memeluk sahabatnya, ia mendengar kata mereka, itu artinya sahabatnya bukan bertengkar dengan suaminya saja, tapi ada orang ketiga dalam pertengkaran mereka, lalu ia langsung bertanya lagi
" Apa awal permasalahanmu?"
" Karena aku di antar pulang oleh Arga."
Detak jantung Ria sangat kencang setelah mendengar nama Arga, ia memang kenal juga dengan Arga, mereka dulu kuliah satu angkatan, hanya saja Arga mengambil jurusan yang berbeda, ia juga tau alasan Arga pergi ke luar negeri, karena ingin melupakan Lisa, tapi ia tidak mengerti kenapa Arga kembali lagi ke sini
" Lisa, kenpa kau bisa di antar oleh Arga?, bukan'kah kau dari dulu selalu menghindari Arga?"
" Aku kemarin terpaksa di antara oleh Arga, karena kepalaku pusing, itu kejadiannya di saat aku sudah pulang sekitar 20 menit, di jalan raya cempaka."
" Tidak heran kau menerima dia untuk mengantarmu, ternyata kau berhenti di jalan yang rawan."
" Iya, aku awalnya akan mencari taksi, tapi Arga datang, dia mengatakan dia yang akan mengantarku, dan aku awalnya menolak, tapi Arga memaksaku, aku terpaksa menerima ajakan Arga, karena di jalan itu juga belum tentu aku mendapatkan taksi, tapi aku sebenarnya sudah menghubungi Intan, tapi Intan tidak mengangkat telpon dariku, lalu aku menghubungi ibu mertuaku, tapi tetap saja, ibu mertuaku tidak mengangkat telpon dariku, tapi mereka tetap menyalahkan aku, mereka bilang tidak baik seorang wanita hamil berjalan dengan seorang pria yang bukan suaminya, pedahal sebelumnya, aku sudah menjelaskan kenapa aku pulang dengan Arga, pada ibu mertuaku, tapi ibu mertuaku sama sekali tidak percaya dengan hal itu, lalu dia mengatakan itu padaku, betapa sakitnya hatiku, hingga kepercayaan saja tidak bisa dapatkan."
" Lalu apa tanggapan suamimu atas hal itu?"
" Iya, kak Ardi juga sama saja, mengatakan hal yang serupa seperti mamah, dan itu membuat hatiku sangat sakit"
Ria yang mendengar penjelasan dari sahabatnya sangat marah
__ADS_1
" Ardi sialan!"