
Mey yang melihat putrinya menangis, ia langsung mendekati putrinya, lalu ia langsung memeluk putrinya dengan erat. Intan juga membalas pelukan ibunya sambil menangis semakin kencang
" Hiks...hiks...mamah, aku minta maaf, selama ini aku tidak pernah menjadi anak yang baik, aku selalu saja membuat kalian kuatir saat itu, tapi kalian tidak pernah sedikitpun marah dengan kelakuanku, hiks...hiks..."
" Tidak perlu minta maaf sayang, mungkin dulu kau belum dewasa, mamah sama papah sangat menyayangimu, jadi apa pun yang kau lakukan saat itu, mamah dan papah tidak bisa marah, tapi mamah dan papah yakin kalau kau akan berubah suatu saat nanti, tanpa harus menegurnya, karena berubah itu lebih baik dari hati sendiri, dari pada harus mendapat paksaan dari orang lain, sudah jangan menangis lagi, sekarang kau sudah memiliki suami, tidak boleh cengeng, bukan'kah dulu kau gadis yang sangat benci dengan kata menangis?, tapi kenapa sekarang menjadi cengeng?"
" Aku sedih mah, lalu kenapa mamah cepat sekali kembali, aku masih ingin bersama mamah di sini, atau aku ikut pulang saja bersama Yoga?"
" Tidak perlu sayang, kau di sini saja."
Intan yang mendengar jawaban dari ibunya, ia langsung menangis sekencang-kencangnya
" Hiks... hiks..... Kenapa mah?, apa aku sudah tidak di anggap lagi sebagai anak mamah?"
Mey yang mendengar pertanyaan dari putrinya, ia sangat sedih, ia juga tidak ingin berpisah terlalu lama dengan putrinya, tapi sekarang putrinya sudah memiliki kehidupan baru, apa lagi Herman yang melarang untuk Yoga tinggal di sana, ia tidak bisa apa-apa, tapi menurutnya, ucapan Herman ada benarnya. Herman juga sudah tua, dia di rumah tidak memiliki keluarga, selain Yoga putranya satu-satunya, Kalau Yoga ikut, tentu saja Herman akan kesepian, terlebih lagi. Jika Herman kenapa-napa mereka tidak tau, lalu ia langsung menjawab pertanyaan dari putrinya
" Bukan begitu sayang, mamah masih menganggapmu, tapi di sini, ayah mertuamu sendiri, dia pasti sangat kesepian kalau kau dan Yoga di sana, dan kalau ada apa-apa dengan ayahnya Yoga, kalian berdua tidak tau, kau boleh untuk main sekali-kali ke sana, tapi untuk sekarang, Yoga juga harus masuk ke kantor, tentu kau juga tau, Lisa sekarang sedang hamil, kasihan Lisa kalau harus sendiri terus setiap olahraga sementar."
Intan yang mendengar penjelasan dari ibunya, ia pun mulai mereda menangis, ia pikir ibunya itu sudah tidak menganggapnya lagi, tapi ternyata ibunya itu hanya ingin ia tinggal di sini karena ayahnya Yoga sendiri, apa lagi memang benar kata ibunya, Lisa selalu berangkat olahraga sementar sendiri, karena Lisa tidak suka di temani oleh supir, Lisa hanya ingin di temani keluarganya, selain keluarganya, Lisa tidak pernah mau di temani oleh siapa pun itu. Bahkan ia juga tau, kalau Kaka sepupunya itu sudah menyuruh Santi untuk menemani Lisa, karena Santi adalah wanita, tapi ternyata Lisa tetap menolak, dia tetap ingin sendiri, lalu ia langsung menjawab ucapan dari ibunya
" Aku mengerti mah, Lisa memang sendiri, dan pekerjaan kantor semakin menumpuk."
Mey dan Intan langsung melepaskan pelukannya. Mey langsung menghapus air mata putrinya, ia juga sebenarnya tidak ingin cepat kembali ke Inggris, tapi suaminya yang memiliki perjalanan bisnis ia terpaksa harus ikut pulang, sebenarnya bukan karena Rangga tidak mengijinkan Mey di Indonesia, tapi karena Mey takut suaminya tergoda dengan wanita lain, walaupun ia tau Rangga bukan pria seperti almarhum suaminya, tapi ia tetap masih memiliki kecurigaan terhadap suaminya, setelah selesai menghapus air mata putrinya, ia menyuruh putrinya untuk berbicara dengan ayahnya
" Sayang, kau bicaralah sama papah, dan bilang minta maaf sama papah."
" Iya mah."
Intan langsung berjalan mendekati ayahnya hingga sampai di sampingnya, ia langsung memeluk ayahnya, lalu ia langsung minta maaf pada ayahnya
" Pah, aku minta maaf, selama ini aku tidak bisa menjadi anak yang papah inginkan."
__ADS_1
Rangga juga membalas pelukan putrinya, lalu ia langsung menjawab pertanyaan maaf putrinya
" Tidak apa-apa nak, tidak perlu minta maaf sama papah, papah harap kau belajar lebih dewasa lagi, karena sekarang kau sudah memiliki suami."
" Iya pah."
Intan dan Rangga langsung melepaskan pelukannya. Rangga mengajak istrinya untuk siap-siap
" Mey, ayo kita siap-siap."
" Iya Rangga."
Intan yang melihat orang tuanya yang akan pergi ke kamar ia langsung bertanya
" Mah, boleh aku antar mamah sampai Bandara?
" Boleh sayang."
" Suamiku, ayo kita siap-siap."
" Iya sayang."
Intan dan Yoga langsung menaiki tangga hingga mereka sampai di kamar. Intan langsung mendekati ranjang, karena ia akan mengambil ponselnya, ia melihat bercak darah di seprai dan selimutnya, lalu ia langsung berbicara pada suaminya sambil menunjuk ke arah darah
" Suamiku, lihat itu, pantas saja merasakan sakit."
Yoga yang mendengar ucapan istrinya, ia hanya tersenyum, lalu langsung menyuruh istrinya untuk siapa-siapa
" Sayang, kau siap-siap saja dulu."
" Suamiku, aku akan membereskan seprai ini dulu, aku takut pelayan masuk, aku sangat malu. Jika pelayan yang menggantikan sprei ini."
__ADS_1
" Aku juga tidak akan menyuruh pelayan untuk membersihkannya, aku akan mengganti seprai ini sekarang juga, kau cepat siap-siap, nanti mamah telat pergi ke Bandara nya."
" Baik suamiku."
Intan langsung pergi mengganti baju. Yoga langsung melepaskan semua seprei itu, lalu langsung mengganti seprainya, setelah itu ia langsung membersihkan noda darah yang ada seprei, setelah selsai, ia langsung memasukkannya ke dalam mesin cucu. Yoga yang sudah selesai, ia langsung melihat istrinya yang masih saja belum beres, istrinya masih saja di depan meja rias, ia hanya menghela nafas berat
" Dasar wanita, ganti baju saja lama, pake cara mekup dulu lagi." batin Yoga
Ini adalah pertama kalinya, Yoga sedikit kesal pada istrinya, ia lalu langsung mengajak istrinya untuk ke luar dari kamar
" Sayang, ayo cepat, nanti mamah telat."
" Iya suamiku."
Intan yang mendengar ajakan suaminya, ia buru-buru langsung mengambil tasnya, lalu langsung mendekati suaminya sambil tersenyum. Yoga langsung bertanya pada istrinya yang berjalan buru-buru
" Apa sudah tidak sakit sayang?"
" Pertanyaan konyol macam apa, tentu saja masih merasakan sakit sedikit, memang kenapa suamiku?"
" Tentu saja nanti malam main lagi, agar cepat di kasih momongan sayang."
" Baru tadi pagi main, nanti malam main lagi, akan jadi apa badanku, pasti seperti terlindas truk."
" Sayang, sudah lupakan, ayo kita pergi."
" Iya suamiku."
Intan dan Yoga langsung berjalan keluar dari kamarnya, hingga mereka sampai di ruangan tamu, yang sudah di tunggu keluarganya, lalu mereka semua langsung berjalan masuk ke dalam mobil. Intan di perjalanan terus saja memeluk ibunya, sambil menangis, dulu saat ibunya pulang, ia tidak begitu sedih saat ia akan mengejar cintanya pada Yoga, tapi kali ini setelah menikah, ia benar-benar sangat sedih. Mey yang mendengar putrinya terus saja menangis, ia langsung membuka pembicaraan
" Sudah jangan menangis terus sayang, kapan-kapan kita bertemu lagi."
__ADS_1
" Iya mamah."