Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB. 46. Suapin


__ADS_3

Ardi bener-bener malu setelah mendengar jawaban dari istrinya karena dirinya memang tidak pernah tau, tepatnya dirinya tidak pernah peduli hal wanita, apa lagi dirinya hanya memiliki satu sahabat wanita yaitu Diana, hanya dia satu-satunya sahabat Ardi. Ardi orang yang sangat cuek jadi dirinya hanya memiliki satu sahabat itu pun sahabat kecilnya dulu, bukan hanya Ardi, Lisa juga sangat malu karena harus menjelaskan dengan detail pada suaminya itu. Lisa pun lalu duduk di samping Ardi ia membuka pembicaraan agar menghilangkan kecanggungan keduanya


" Kaka, tidak mandi?"


" Iya sayang, aku akan mandi, tapi." Ardi memberhentikan pembicaraan itu


" Tapi apa kak?"


" Ciumannya kurang lama."


" Dasar suami mesum, sudah sanah mandi."


Lisa langsung berdiri ia akan melangkah kakinya. Ardi dengan cepat menarik pergelangan tangan istrinya hingga terduduk di pangkuan dirinya. Mata mereka saling berpandangan satu sama lain


" Apa sih kak?, pagi-pagi sudah mesum."


" Tidak apa-apa, bukan'kah kau istriku?"


" Iya kak."


Ardi mencium bibir istrinya sekilas, lalu mencium keningnya, setelah itu Ardi memeluk istrinya, dirinya bener-bener tidak rela karena besok pagi harus pergi ke luar kota. Ardi melihat jam yang sudah menujukan pukul 08.00 WIB, ia pun memutuskan untuk bertanya karena biasanya istrinya berangkat pukul 08.30 WIB.


" Sayang, lebih baik kau siap-siap, bukan'kah harus ke rumah sakit?"


" Aku hari ini tidak ke rumah sakit."


Lisa mempererat pelukannya, ia memeng akan mengundurkan diri dari rumah sakit Harapan, dirinya ingin belajar menjadi seorang istri yang baik, yang selalu ada di rumah dan menyambut suaminya kalau pulang kerja karena sekarang dirinya sudah benar-benar rela melepaskan gelar sebagai seorang dokter untuk keutuhan rumah tangga dirinya, tapi dirinya sama sekali belum bilang pada suaminya kalau dirinya akan mengundurkan diri, ia ingan mengatakan itu setelah suaminya pulang dari luar kota. Ardi sedikit bingung karena istrinya bukan orang yang males dalam pekerjaan itu, apa lagi itu adalah cita-cita istrinya dari dulu, tapi dirinya enggan untuk menanyakan kenapa tidak berangkat kerja lagi. Setelah sekitar 3 menit Lisa dan Ardi melepaskan pelukannya. Lisa langsung berdiri lagi


" Cepat mandi, aku akan siapkan baju Kaka, lalu aku turun lebih dulu karena akan menyiapkan sarapan sepesial untuk Kaka."


" Sayang, kau tidak memiliki dendam padaku?"


Ardi langsung bertanya seperti itu karena kalau istrinya membuat makanan sudah pasti di kerjain, bukan 1 kali 2 kali karena dirinya sudah sangat hapal dengan sifat istrinya. Lisa menatap mata suaminya dengan sedikit bingung dan dirinya mencerna perkataan suaminya karena keduanya tidak memiliki masalah, tapi suaminya mengatakan itu, setelah ia sedikit lama berpikir dirinya menemukan jawaban, memang dirinya kalau masak atau membuatkan sarapan pasti saat-saat kesal


" Tidak Kaka, mana mungkin aku akan seperti dulu, aku sekarang akan sepenuhnya belajar jadi istri yang baik."

__ADS_1


" Baiklah, aku mandi dulu sayang."


" Iya kaka."


Ardi pun berdiri lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedang Lisa langsung berjalan mendekati lemari suaminya untuk mengambil baju ganti. Setelah mengambil baju ganti ia langsung keluar kamar lalu menuruni tangga, hingga ia sampai di dapur. BI Asih yang melihat nona muda langsung menyapa


" Pagi nona muda." Sapa Bi Asih sambil membungkukkan badan


" Iya Bi."


" Nona muda, mau bibi buatakan apa?"


" Tidak perlu Bi, saya akan membuat nasi goreng."


" Baiklah nona muda."


Lisa langsung mulai memasak nasi goreng sambal terus saja tersenyum di bibirnya, setelah itu ia menggoreng telor, sudah biasa karena suaminya tiap hari selalu makan telur. Setelah selesai ia langsung membawanya ke meja makan. Intan yang melihat Lisa membawa nasi goreng dan telor hanya tersenyum, dirinya pikir kalau Tantenya itu memperlakukan Lisa layaknya seperti pelayanan karena melihat Lisa yang sudah sibuk pagi-pagi membuat dirinya merasa senang


" Cantik, tapi percuma kalau nasibmu sangat menyedihkan." Batin Intan


Lisa langsung meletakkan nasi goreng itu di meja, lalu ia langsung duduk menunggu suaminya dan ibu mertuanya. Intan mendekati meja makan ia langsung menyapa Lisa sebagai basa-basi


" Pagi juga."


Intan langsung duduk sambil tersenyum. Tidak lama Mirna pun sampai di meja makan


" Pagi menantu mamah, pagi Intan."


" Pagi juga mah."


" Pagi juga Tante."


" Tumben pagi ini sarapan nasi goreng?"


" Iya mah."

__ADS_1


Mirna melihat Lisa yang sedikit berkeringat. " Apa sayang yang membuatnya?"


" Iya mah."


Intan sangat marah melihat Tantenya memanggil Lisa dengan sebutan sayang dan selalu lembut, ini memang pertama kali dirinya di rumah ini ada orang lain selain dirinya, dulu hanya dirinya yang selalu di manja sama Tantenya, tapi sekarang dirinya sama sekali tidak di panggil sayang oleh Tantenya membuat dirinya sangat marah kebencian dirinya itu semakin bertambah pada Lisa yang awalnya tersenyum puas sekarang berubah menjadi marah. Ardi pun mendekati meja makan ia langsung menggeser kursi sambil menyapa


" Pagi mah."


" Pagi sayang, loh ko Intan tidak di sapa?"


" Lupa mah."


Ardi bukan lupa sebenarnya sangat kesal dengan Intan bahkan sampai ibunya memperingatkan juga dirinya hanya bilang lupa sama sekali tidak menyapa Intan. Lisa menjadi bertanya-tanya kenapa suaminya itu selalu saja tidak suka sama adik sepupu, kalau dilihat dari cara bicara dan pakaian sangat biasa saja, tapi entah kenapa suaminya itu benar-benar membenci adik sepupunya sendiri


" Ada apa sebenernya dengan mereka berdua?" Batin Lisa


Ardi yang melihat istrinya terus saja diam ia pun langsung memanggil istrinya karena dirinya tau, pasti istrinya sedang memikirkan sesuatu yang belum jelas


" Sayang, apa kau tidak mau mengambilkan aku makan?, kenapa aku tidak ada piringnya?"


Lisa sadar dari pikirannya lalu ia langsung mengambil piringnya sendiri lalu langsung mengambil nasi goreng dan telor, ia langsung meletakkan di meja depan suaminya, setelah itu dirinya menggeser kursi mendekati suaminya ia duduk di samping suaminya. Ardi hanya melihat apa yang istrinya lakukan, tanpa bertanya


" Kaka, apa boleh aku minta suapin?"


" Tentu saja boleh sayang."


Mirna hanya tersenyum saat melihat tingkah menantunya, dirinya sekarang sudah benar-benar melihat Lisa yang dulu, saat-saat Lisa berpacaran dengan Ardi. Ardi menyupi istrinya dengan telaten dan sesekali ia makan juga. Ardi melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 09.37, tapi dirinya terus saja menyupi istrinya sebenarnya dirinya sudah telat pergi ke kantor karena akan bertemu keyen, tapi dirinya lebih memilih telat dari pada istrinya nanti kecewa. Intan lagi-lagi di buat emosi dengan istri dari Kaka sepupunya itu karena dari kemarin ia selalu saja melihat kemesraan mereka


" Awas saja, aku akan benar-benar membuat kau menangis dan akan langsung meminta cerai pada suamimu itu, sekarang kau nikmati saja kemesraan itu, kau hanya seorang Gadis polos." Batin Intan


Ardi pun selain menyuapi istrinya. " Sayang, aku harus pergi ke kantor setelah."


" Iya kak."


" Mah, Ardi berangkat dulu."

__ADS_1


" Iya sayang."


??Ardi mencium kening istrinya sekilas lalu ia buru-buru melangkahkan kakinya ke luar


__ADS_2