
Setelah itu BI Asih langsung pergi dari dapur. Di dapur tinggal ada Lisa dan Ardi. Ardi masih diam ia bingung harus bagaimana, setelah beberapa detik ia pun langsung mengambil mangkuk kecil, lalu mengambil penyedap rasa dan lada bubuk. Lisa terus saja melihat suaminya sambil tersenyum. Ardi langsung memecahkan 2 telur itu, lalu langsung meletakkannya di mangkuk kecil, setelah itu langsung menaburkan penyedap rasa dan lada bubuk. Ardi langsung memberi minyak pada teflon dan langsung menyalakan kompor, setelah panas ia langsung menaro telur itu di teflon tanpa di aduk terlebih dahulu. Lisa juga tidak ingin mengajari suaminya, ia hanya melihat apa yang suaminya lakukan. Tiba-tiba minyak itu meletup-letup karena terlalu banyak minyak dan api yang terlalu besar, membuat Ardi langsung mundur dari depan kompor, setelah beberapa detik, minyak itu sudah tidak meletup-letup lagi. Ardi yang melihat minyak itu sudah tidak meletup-letup lalu ia langsung maju lagi ke depan kompor, lalu ia memutuskan untuk membalik telur, tapi baru juga susruk kayu menempel di telur, tiba-tiba minyaknya langsung meletup-letup lagi membuat Ardi terkejut lalu langsung melempar susruk kayu itu ke atas teflon, setelah itu ia langsung mundur lagi
" Ya ampun susah sekali."
Lisa masih saja diam sambil tersenyum, tapi setelah melihat suaminya yang tiba-tiba melempar susruk kayu itu lalu suaminya langsung mundur, membuat Lisa ingin sekali tertawa, tapi mengingat perjuangan sang suami dia hanya bisa menahan tawanya. Intan tadi akan mengambil cream pagi di kulkas dekat meja makan, tiba-tiba ia mendengar suara berisik minyak dari dapur, membuat ia memutuskan ke dapur, hingga berhenti di tengah-tengah pintu, lalu Intan melihat Kaka sepupunya yang melempar susruk kayu membuat ia tertawa
" Hahaha, hahaha, sangat lucu."
Ardi langsung melihat ke arah Intan, lalu langsung menatap mata Intan dengan tatapan sinis. Intan yang dapat tatapan sinis, ia langsung menutup mulutnya memakai telapak tangannya. Lisa langsung mendekati kompor, lalu langsung mematikan api, ia melihat telur yang sudah gosong. Lisa langsung berjalan ke arah suaminya hingga ia sampai di depan suaminya. Ardi merasa bersalah karena ia bahkan tidak bisa menggoreng telur, dan biasanya bisa memenuhi ke inginan istrinya, tapi sekarang tidak bisa memenuhi ke inginan istrinya. Ardi memutuskan untuk minta maaf pada istrinya, lalu ia langsung memegang tangan kanan istrinya memakai kedua tangannya
" Sayang, aku minta maaf, aku benar-benar tidak tau caranya menggoreng telur."
Lisa langsung tersenyum saat melihat wajah suaminya yang merasa bersalah. Lisa juga tidak menyalahkan suaminya, bahkan ia sangat senang dengan tingkah suaminya. Walaupun tidak bisa makan telur goreng buatan suaminya, tapi suaminya sudah mencoba untuk menggorengnya
" Tidak apa-apa kak. Kaka tidak perlu minta maaf, karena Kaka sudah berusaha untuk menggoreng telur, walaupun tidak sesuai harapan, lebih baik kita sarapan roti tawar isi selai saja, aku juga malas untuk menggoreng telur."
" Memang sayang tidak keberatan, setok di rumah juga sudah habis kemarin, mamah belum belanja lagi."
" Apa salahnya sekali-kali aku mencoba selai kacang, bukan'kah suamiku sangat menyukainya?"
" Tapi sayang tidak suka bukan?"
" Tidak apa-apa Kaka."
Intan yang melihat sepasang suami istri yang sangat mesra membuat ia langsung malu, karena ia sudah seperti nyamuk yang mengganggu ketenangan mereka berdua, tapi menurutnya melihat Kaka sepupunya dan Lisa membuat ia mendapatkan pelajaran, karena lagi-lagi istri dari Kaka sepupunya itu tidak marah sama sekali, bahkan yang Lisa tidak suka saja, ia akan mencobanya, sebelum pergi Intan pun memutuskan untuk membuka suara
__ADS_1
" Aduh telingaku berisik karena mendengar ucapan manis dari mulut kak Ardi."
Ardi langsung melepaskan tangan istrinya lalu langsung menatap mata Intan dengan tatapan sinis
" Pergi sana jomblo, kejar cintamu pada Yoga, biar tidak ngiri."
" Siapa juga yang ngiri."
" Lalu itu apa kalau tidak ngiri?"
Intan tidak menjawab pertanyaan Kaka sepupunya, ia langsung berjalan menuju meja makan dengan pikiran yang sedikit kesal, karena pagi-pagi sudah di buat ngiri. Walaupun Intan bahagia melihat mereka romantis, tapi tetap saja ia ngiri pada Kaka sepupunya yang akhir-akhir ini selalu romantis, lalu Intan langsung berpikir dengan nasibnya yang tidak tau akan seperti apa dengan Yoga, bahkan keyakinan yang bisa mendapatkan hati Yoga saja tidak ada, setelah ia bertemu kemarin, lalu melihat kemesraan Yoga bersama Gadis lain membuat ia tidak tau, haruskah maju untuk mengejar cinta Yoga, atau mundur karena takut cinta itu tidak terbalas. Intan terus saja berpikir hingga sampai di depan kulkas. Setelah di depan kulkas, Intan langsung mengambil cream pagi, setelah itu ia langsung menaiki tangga lagi untuk ke kamarnya. Ardi dan Lisa hanya tersenyum setelah Intan pergi dari dapur, lalu mereka langsung melangkahkan kakinya hingga sampai di meja makan. Ardi langsung menggeser kursi untuk duduk istrinya
" Apa sayang mau aku buatkan susu?"
" Apa takut rasa susu itu berubah menjadi asin?"
Setelah mendengar pertanyaan suaminya, wajah Lisa langsung merah seperti kepiting rebus karena malu, ia mengingat saat baru menikah, saat itu sikapnya sangat keterlaluan hingga menjahili suaminya sendiri. Ardi masih berdiri sambil mengoleskan selai kacang pada roti sambil tersenyum, setelah selesai ia langsung meletakkannya di depan istrinya. Setelah itu langsung menggeser kursi untuk dirinya duduk di samping istrinya
" Kaka tidak sarapan?"
" Tidak sayang, nanti saja."
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Lisa langsung melihat jam yang menunjukkan pukul 05.36 WIB
" Oh, masih terlalu pagi."
__ADS_1
" Iya sayang."
Lisa tau suaminya tidak bisa sarapan sebelum jam menunjukkan pukul 06.30 WIB, karena itu sudah kebiasaan suaminya saat mereka masih pacaran, lalu Lisa langsung mengambil roti yang sudah di siapkan suaminya, sebelum memakan roti itu Lisa langsung melihat wajah suaminya sambil bertanya pada suaminya
" Apa ini roti buatan pertama Kaka."
" Kenapa bisa tau sayang?"
" Lihat dari cara Kaka mengoleskan selai saja sudah ketauan, kalau itu buatan pertama."
Ardi merasa tidak enak hati dengan ucapan istrinya, lalu ia langsung minta maaf pada istrinya
" Sayang, aku minta maaf karena tidak bisa memasak dan bahkan ngengoleskan selai saja aku belum pernah, mungkin karena aku tidak pernah mandiri."
Lisa juga tidak enak hati setelah mendengar ucapan maaf dari suaminya, lalu ia langsung tersenyum pada suaminya
" Kaka tidak perlu minta maaf, wajar saja kalau tidak bisa apa-apa, tugas Kaka hanya bekerja, harusnya aku yang minta maaf karena sudah meminta yang aneh-aneh."
" Tidak apa-apa sayang, sekarang lebih baik sarapan dulu."
" Iya kak."
Lisa langsung memakan roti itu sambil tersenyum, walaupun olessan selainya tidak rata, tapi setidaknya suaminya itu sangat perhatian dan mau melakukan ke inginan dirinya. Ardi juga menatap istrinya sambil berpikir tentang istrinya
" Belum hamil saja tingkahnya aneh, apa lagi sudah hamil, sekarang harus siap-siap belajar masak, kalau tidak kejadian ini akan terulang lagi." batin Ardi
__ADS_1