
Jonathan masih terus diam, ia masih bingung, haruskah ia mengijinkan Arga untuk tinggal di rumahnya, atau ia menolak Arga, apa lagi tadi ia sudah menyetujui Arga untuk tinggal, kalau ia tiba-tiba melarang Arga, ia takut anaknya kecewa pada ia, apa lagi ia belum tau jawaban dari anaknya, anaknya mencintai Arga atau tidak, membuat Jonathan tidak bisa berkata apa-apa. Arga yang melihat papahnya Jenni hanya diam, ia bingung harus berbicara apa lagi, apa lagi ia juga tidak ada pengalaman untuk berbicara dengan seorang tentang masalah pribadi, ia hanya berbicara dengan seseorang karena pekerjaan, bukan karena masalah hati, tapi saat tidak ada ucapan lagi dari papahnya Jenni, detak jantung Arga lebih kencang, ia menjadi takut kalau papahnya Jenni tidak menyetujuinya, apa lagi saat ia mengatakan menjadi CEO di Lingsih Group, wajah papahnya Jenni mendadak berubah, bahkan ia melihat papahnya Jenni seperti tidak suka pada ia
" Apa yang harus aku lakukan, kalu sampai papahnya Jenni tidak menyukaiku, tapi apa alasannya?, kenapa saat aku mengatakan Lingsih Group, wajahnya papahnya Jenni langsung berubah menjadi tidak suka, tapi semoga saja dugaanku salah, semoga saja papahnya Jenni setuju, kalau tidak setuju, hidupku sudah benar-benar sulit, bahkan aku sudah sangat sulit untuk mendapatkan hati Jenni, lalu hati mamah yang sangat keras, walaupun mamah setuju, tapi belum tentu mamah bisa baik pada Jenni, dan sekarang papahnya Jenni. Arga, mungkin ini karma. Karma karena hampir saja merusak rumah tangga orang lain, ingat, Jenni pernah mengatakan takut karma." batin Arga
Menurut Arga, sekarang ia telah mendapatkan karma, karma dari perbuatan-perbuatan yang ia lakukan pada Lisa dan Ardi. Jenni tau, papahnya kecewa, setelah tuan mudanya mengatakan seorang CEO dari Lingsih Group, ia tau, papahnya takut ia di manfaatkan oleh tuan mudanya, tapi ketakutan itu tidak benar adanya, selama dua Minggu, tuan mudanya sangat baik, dan ia juga percaya, kalau tuan mudanya tidak ada niat jahat, hanya saja hati ia belum bisa tergerak oleh tuan mudanya. Jenni memutuskan untuk mengatakan kalau ia kenal dengan tuan mudanya dari kecil, agar papahnya tidak memiliki rasa kuatir
" Pah, dia memang anak dari tuan Argantara, tapi dia adalah pria yang aku kenal saat di London, dia adalah pria pemilik gelang LA."
" Nak, apa maksudmu?"
__ADS_1
" Papah ingat, aku selalu membawa gelang yang ada di dompetku?, papah juga sempat bertanya bukan?, dia yang memberikan gelang itu, mungkin ini adalah sebuah takdir, aku dan Arga di pertemukan kembali."
Arga yang mendengar ucapan dari Jenni, tiba-tiba saja ia langsung menjawab ucapan Jenni
" Di pertemukan kembali memang takdir, tapi takdir kita di pertemukan belum memiliki pasangan, jadi kita di pertemukan kembali karena jodoh."
Setelah mendengar penjelasan dari anaknya, dan ucapan dari Arga, Jonathan sedikit tenang, tadi wajahnya sangat murung, tapi kini ia mulai tenang, karena anaknya sudah mengenal Arga, itu membuat ia tidak heran, kalau anaknya memiliki hubungan dengan Arga, dan menurut Jonathan, mungkin juga anaknya selama ini tidak dekat dengan pria mana pun, karena anaknya sudah menaruh perasaan pada Arga, tapi tetap saja ia masih ada sedikit kuatir, bagaimana pun juga sekarang anaknya hanya Gadis sederhana, dan tidak sederajat dengan keluarga Argantara, terutama Lioni, dia adalah wanita yang selalu mementingkan latar belakang, Jonathan memang sudah mendengar tentang Lioni, dulu Lioni adalah seorang model, sebelum Lioni terjun ke dunia bisnis, dan ia sudah sangat mengenal sikap Lioni, karena sahabatnya dulu menyukai Lioni, tapi Lioni menolak mentah-mentah, bukan hanya itu, Lioni juga menghina sahabatnya, sahabatnya hanyalah anak dari pemilik Restoran, dan Lioni mengatakan tidak sepadan, Lioni dan sahabatnya seperti langit dan bumi, walaupun kejadian itu sudah 30 tahun berlalu, tapi sikap seseorang kadang tidak berubah, walaupun sudah menua, tapi Jonathan yakin kalau Lioni tidak akan pernah berubah. Jonathan langsung bertanya pada Arga
Arga yang mendengar pertanyaan dari papahnya Jenni, ia langsung menjawab pertanyaan itu, dengan sedikit menunduk, ia takut wajahnya papahnya Jenni berubah lagi seperti tadi
__ADS_1
" Iya om, saya yakin, saya sangat mencintai Jenni om, saya akan menjaga Jenni, semampu saya, dan saya tidak akan pernah melukai hati Jenni."
Entah kenapa, setiap mendengar ucapan Arga, yang mengatakan akan menjaga Jenni, membuat ia menjadi ragu lagi, lalu ia langsung bertanya pada Arga
" Dengan cara apa kau akan menjaga Jenni?, bahkan Jenni hampir saja mati karena menangani kasus korupsi di perusahaan Tajima YX Grup, saya tau, itu semua karena pekerjaan, tapi tetap saja, kau membiarkan seorang Gadis sendirian menangani kasus itu. Arga, Jenni memang tidak mengatakan apa-apa, Jenni memang mengatakan baik-baik saja, tapi saya sebagai orang tua, saya bisa merasakan kalau Jenni tidak baik-baik saja di London, apa lagi saat istri saya menelpon Jenni, dan yang mengangkat telpon itu kau, kau mengatakan ponsel Jenni tertinggal, tapi saya dan istri saya tidak ingin mempermasalahkan itu, dan berharap perasaan kami itu salah, tapi nyatanya benar, kalau saja pisiknya Jenni seperti Gadis biasa, mungkin Jenni sudah tidak tertolong lagi, dan perlu kau tau, Jenni hingga sekarang mengatakan baik-baik saja, tapi saya menggeledah kopernya, hingga menemukan beberapa obat, bahkan saat pulang, Jenni pingsan, hingga Jenni di rawat di klinik sampai 5 jam."
Arga yang mendengar penjelasan dari papahnya Jenni, ia tidak bisa menahan air matanya, apa lagi atas kebohongan yang di berikan Jenni tadi, kalau taksinya rusak, membuat ia benar-benar sangat kecewa, ia tau, Jenni berbohong karena tidak ingin membuat ia cemas, tapi hati ia lebih sakit, saat mendengar itu semua dari mulut orang lain, tidak dari mulut Jenni sendiri, lalu ia langsung berpikir tentang Jenni
" Jen, apa aku ini tidak berarti untukmu, hingga kau tidak terbuka sedikit saja, aku tau, kau tidak mengatakan itu takut membuat aku kuatir, tapi sekarang yang aku dapatkan bukan hanya kuatir, tapi hatiku benar-benar sakit Jen, kenapa kau memperlakukan aku seperti orang bodoh." batin Arga
__ADS_1
Seandainya sekarang tidak ada papahnya Jenni, mungkin ia langsung menangis tersedu-sedu, tapi ia bukan seorang Gadis, ia harus bisa menahan air matanya, rasa takut, kuatir, dan kecewa itu menjadi satu menurut Arga. Jenni yang melihat tuan mudanya diam membisu, dan air mata yang mengalir, ia bisa merasakan kalau tuan mudanya sangat kecewa dengan ucapannya, ia pikir semuanya tidak akan seperti ini, ia pikir, ia bisa menyimpan rahasia itu rapat-rapat dari tuan mudanya, tapi ternyata papahnya langsung mengatakan hal itu, membuat hati Jenni benar-benar sakit, terlebih lagi ia tau, papahnya sangat kecewa dengan tuan mudanya, membuat ia bukan hanya sedih, tapi ia bingung dengan keadaan sekarang, seandainya waktu bisa di ulang kembali, Jenni tidak ingin membuat ponselnya lobet, agar tuan mudanya tidak datang ke rumahnya langsung, dan tuan mudanya hanya menelponya