
Ardi masih terus memeluk istrinya sambil meneteskan air mata, rasanya benar-benar sesak, entah kapan rumah tangga dirinya itu membaik, sudah begitu banyak masalah dan masalah, selsai masalah ini, tapi menambah lagi masalah itu, apa lagi sekarang menurut dirinya istrinya itu seperti anak kecil, dirinya tidak melihat Lisa yang cuek dan tidak peduli, tapi menurut dirinya juga istrinya itu tidak salah, tapi karena istrinya sangat mencintai dirinya yang terlalu berlebihan, membuat mudah cemburu, dirinya juga masih tetap mengakuinya dulu istrinya hanya bergelayut manja di pergelangan tangan Livino saja dirinya sangat marah, apa lagi istrinya yang melihat foto-foto yang tidak jelas itu, pasti perasaannya sangat sakit karena dirinya juga pernah merasakan itu. Setelah sekitar 7 menit Ardi melepaskan pelukannya, lalu dirinya dan istrinya itu saling bertatap mata. Ardi memegang kedua tangan istrinya
" Sayang, aku tidak pernah sekalipun menghianatimu, hanya saja Intan yang sangat mencintaiku dari dulu, tapi aku tidak pernah mencintai Intan, dan foto-foto yang kau lihat itu tidak benar, aku tidak pernah menyentuh tubuhnya sekalipun."
" Tapi bukti itu sudah jelas kak, apa Kaka masih tidak ingin mengakui itu?, aku ikhlas jika Kaka bersamanya dari pada aku harus melihat kau bersamanya!"
Ardi pun melepaskan pegangan tangan dirinya, lalu dirinya menghapus air mata istrinya yang dari tadi tidak berhenti-henti sambil berbicara
" Sayang, harus dengan cara apa agar bisa membuktikan Kalau aku tidak mencintainya, dan ingin bagaimana agar kau percaya denganku?"
" Aku ingin pulang."
Setelah mendengar perkataan istrinya Ardi hanya bisa pasrah kalau pun terus meyakinkan istrinya juga dirinya tidak akan bisa, setiap pembicaraan dirinya selalu saja istrinya langsung menyela pembicaraannya, entah dengan cara apa agar istrinya itu mengerti perkataan itu, dirinya pikir setelah istrinya mencium aroma parfum itu akan mendengar penjelasan dari dirinya, tapi ternyata salah istrinya masih saja keras kepala, bahkan keras kepala istrinya itu berlebihan, saat masih pacaran istrinya tidak seperti itu.
" Baiklah, aku akan ikut denganmu pergi ke rumah mamah."
" Tidak perlu, aku bisa sendiri."
" Sayang, bisakah kau tidak seperti ini?"
Lisa langsung mengambil amplop yang ada di atas meja, awalnya amplop itu adalah sebuah kejutan untuk sang suami, agar menghilangkan lelahnya, tapi ternyata sekarang menjadi seperti ini, dirinya lalu langsung melemparkan amplop itu pada suaminya sambil berbicara
" Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini hanya untuk pria brengsek sepertimu!"
Ardi memungut amplop yang di lemparkan istrinya lalu dirinya membuka isi amplop itu, setelah dirinya baca itu adalah surat pengunduran diri istrinya. Lisa melakukan hal itu agar suaminya itu bahagia
" Kau melakukan ini untuk aku? tapi kenapa tidak ingin mendengarkan penjelasanku? sayang kau sudah dewasa berapa kali aku harus mengatakannya kalau aku hanya mencintaimu, jawab harus dengan cara apa agar aku bisa membuktikan semuanya, dan foto itu di ambil 2 tahun yang lalu, jika kau tidak percaya bahwa itu hanya jebakan, nanti aku akan menghubungi Yoga, karena saat kejadian itu Yoga juga ada bersamaku, hanya saja saat itu Yoga sedang pergi keluar dan dia mengambil video itu untuk berjaga-jaga, tapi aku juga tidak tau sudah di hapus apa belum video itu, aku hanya ingin kau kasih aku waktu untuk membuktikannya."
" Baiklah, tapi aku ingin pulang."
" Aku akan ikut denganmu."
__ADS_1
" Tidak perlu aku bisa sendiri."
" Kalau aku tidak boleh ikut tidak apa-apa, tapi biar supir mamah yang mengantarkanmu."
" Tidak mau aku bisa sendiri!"
Setelah mendengar perkataan istrinya Ardi hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar, kalau kondisi istrinya tidak habis menangis pasti dirinya memperbolehkan membawa mobil sendiri, sekarang kondisi istrinya seperti ini membuat dirinya sudah benar-benar emosi, sudah lelah di buat pusing oleh istrinya, kalau saja dirinya itu tidak cinta sama istrinya, dirinya ingin sekali bilang terserah, tapi karena dirinya cinta hanya bisa memendam amarah yang sudah memuncak, kalau pun istrinya di nasehati juga percuma tidak akan mendengarkan dirinya, tapi tetap saja dirinya membuang sipat egois dirinya dan meyakinkan istrinya perlahan dari pada nanti istrinya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan oleh dirinya
" Tidak bisa sayang, tolong jangan egois, kau boleh pergi ke rumah mamah, tapi aku tidak mengijinkan kau pergi sendiri."
" Baiklah."
Ardi mengambil tisu basah untuk mengelap wajah istrinya yang penuh dengan air mata, kali ini istrinya itu tidak menolak membiarkan dirinya membersihkan air matanya, setelah itu dirinya mengambil tisu kering untuk mengeringkan wajah istrinya. Lisa hanya diam apa yang di lakukan suaminya, setelah suaminya mengatakan akan membuktikan bahwa yang dilihat dirinya itu tidak benar, dirinya mulai mencoba untuk percaya dengan suaminya itu walaupun dirinya tidak bisa menghilangkan keras kepala. Ardi pun selsai mengelap wajah istrinya
" Mau berangkat sekarang?"
" Iya."
" Sama supir mamah?
" Iya."
" Mah."
" Iya sayang, kau mau kemana?"
" Lisa mau pulang mah, Lisa rindu sama orang tua."
" Baiklah sayang."
" Lisa bawah supir mamah."
__ADS_1
" Boleh sayang, kau hati-hati."
" Iya mah."
Lisa langsung berjalan keluar. Mirna melihat menantunya sedikit lega karena dirinya pikir menantunya itu menangis karena rindu dengan orang tuanya. Lisa dan Ardi sampai di depan pak Rusdi
" Pak, antarkan istri saya pulang."
" Baik tuan muda."
" Sayang hati-hati."
" Iya."
Ardi langsung membuka pintu mobil untuk istrinya, lalu istrinya masuk mobil itu, setelah itu pak Rusdi langsung melajukukan mobilnya pergi. Setelah istrinya pergi Ardi mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya dengan kasar, karena dirinya benar-benar lelah, bukan hanya lelah badan, tapi hati dirinya juga benar-benar lelah menghadapi sikap istrinya, lalu dirinya pun melangkah kakinya masuk rumah lagi, setelah itu duduk di sofa sambil menyadarkan kepalanya
...****************...
Setelah Ardi pergi dari kamar Intan. Intan benar-benar marah dan kecewa, bagaimana mungkin Kaka sepupunya itu akan mengusir dirinya dari rumah ini hanya karena istri sialan, dirinya langsung membuang semua bantal lalu barang-barang yang ada di meja sambil berbicara
" Dasar wanita sialan, kau benar-benar sudah membuat kak Ardi tergila-gila padamu!"
Bruk....
Bruk....
Bruk...
Semua barang yang ada di meja langsung berjatuhan
" Wanita sepertimu itu tidak pantas untuk kak Ardi! Bahkan kak Ardi sampai memanggil aku gila, jika aku tidak bisa memiliki kak Ardi siapapun juga tidak akan pernah bisa memilikinya termasuk kau!"
__ADS_1
Setelah lelah berbicara sendiri Intan langsung duduk di meja rias lalu melihat dirinya sendiri dari pantulan kaca
" Aku berjuang mati-matian tapi tetep saja tidak ada hasilnya!"