
Ardian dari tadi sudah muter-muter mencari kebenaran istrinya, tapi belum saja menemukan istrinya, lalu dirinya langsung duduk di meja makan. Tidak lama Mirna mendekati meja makan dengan wajah yang sangat merah karena malu melihat anak dan menantunya, hingga Mirna sampai di meja makan
" Pagi Ayah."
" Pagi juga mah, habis dari mana saja? Ayah cariin tidak ada."
" Habis dari kamar Lisa, Ayah."
" Apa Lisa baik-baik saja?"
" Baik-baik saja yah."
Mirna langsung menggeser kursi untuk duduk lalu dirinya langsung duduk
" Ardi belum turun apa sudah pergi mah."
" Ardi masih di kamar yah."
" Lalu kenapa wajahmu merah, apa habis melihat mereka berciuman?"
" Ayah tau saja."
" Tentu tau karena melihat wajah mamah yang malu."
" Sudah, Ayah sarapan saja."
" Iya mah."
Ardian dan istrinya mulai sarapan. Tidak lama Ardi dan Lisa pun datang ke meja makan hingga dirinya sampai di dekat meja makan
" Pagi Ayah, pagi mah." Sapa Ardi dan Lisa berbarengan
" Pagi juga sayang." jawab Mirna
" Pagi juga nak."
Ardi langsung menggeser kursi untuk istrinya, lalu Lisa langsung duduk, setelah itu Ardi juga duduk. Ardian melihat beberapa tanda kepemilikan di leher menantunya lalu melihat bibir anaknya yang bengkak dirinya hanya tersenyum
" Sama-sama barbar." batin Ardian
__ADS_1
Mirna melihat anak dan menantunya sedikit kecewa, karena melihat menantunya yang masih segar membuat raut wajahnya benar-benar kecewa karena dirinya tau pasti anak dan menantunya itu gagal lagi untuk melakukan hubungan badan, dan rasanya benar-benar menyesal, andai saja dirinya tau, dirinya tidak akan masuk ke dalam kamar anaknya. Tidak lama Intan pun turun lalu dirinya langsung mendekati meja makan hingga dirinya sampai di dekat meja makan lalu langsung menyapa mereka
" Pagi om, pagi Tante, pagi kak, pagi Lisa."
" Pagi juga nak." jawab Mirna dan Ardian berbarengan
" Pagi juga Intan." jawab Ardi dan Lisa berbarengan
Intan langsung menggeser kursi lalu dirinya duduk. Intan langsung melihat ke arah Lisa karena dirinya memang sangat kuatir saat mengingat kejadian semalam, tapi ternyata saat melihat wajah Lisa dirinya melihat leher Lisa yang banyak tanda kepemilikan membuat dirinya hanya tersenyum bahagia karena sepertinya Kaka sepupunya dan Lisa sudah baikan. Lisa yang di lihat oleh ibu mertua dan Ayah mertuanya termasuk Intan sedikit risih, entah kenapa mereka melihat dirinya sambil tersenyum karena dirinya setelah mandi tidak ke meja rias lagi langsung turun karena merasa lapar membuat dirinya tidak tau apa-apa. Mereka langsung memulai sarapan. Ardi juga tidak bilang kalau dirinya mengasih beberapa tanda kepemilikan karena menurut dirinya di rumah ini juga tidak ada anak-anak, semuanya sudah dewasa, walaupun ada Intan yang belum menikah, tapi Intan juga sudah dewasa. Ardi memutuskan untuk menyupi istrinya
" Sayang, sini aku suapin."
Lisa langsung berbisik pada telinga suaminya
" Tidak mau kak, malu, lihat mereka kenpa mereka melihatku seperti ingin menerkam."
Ardi pun mengikuti istrinya, dirinya langsung mendekati telinga istrinya
" Aku suapin, jangan buang-buang tenaga, karena tenagamu untuk kau gunakan nanti malam."
Mata Lisa langsung membulat sempurna setelah mendengar ucapan suaminya yang benar-benar terang-terangan, apa lagi sekarang sedang di meja makan, walaupun suaminya itu berbisik pada telinganya, tapi tetap saja pasti masih di dengar samar-samar oleh Ayah mertua dan ibu mertuanya termasuk Intan. Ardi yang melihat ekspresi wajah istrinya hanya tersenyum
" Iya kak."
Ardi langsung menyupi istrinya. Intan yang melihat Kaka sepupunya dan Lisa sudah baikan membuat dirinya tersenyum bahagia. Ardian juga sangat bahagia melihat anak dan menantunya, sedangkan Mirna walaupun bahagia masih memiliki sedikit kecewa karena dirinya tidak sengaja menggagalkannya. Intan selsai lebih dulu lalu dirinya langsung berdiri. Lisa yang melihat Intan berdiri dirinya langsung bertanya
" Intan, kau hari ini tidak berangkat ke rumah sakit lagi?"
" Tidak Lisa, aku mau menyiapkan bahan-bahan untuk masak, buat bekal makan siang pujan hati."
Semua orang yang ada di meja makan tertawa karena menurut semuanya, Intan adalah Gadis yang sangat konyol, bahkan Intan tanpa malu-malu mengatakan isi hatinya, tapi Intan sangat malu saat berhadapan dengan Yoga karena detak jantung dirinya seperti ingin loncat dari tempatnya
" Kenapa semuanya tertawa?"
" Intan, siapa yang tidak tertawa bahkan kau sangat terang-terangan."
" Tentu kak, jangan seperti Kaka yang mencintainya, tapi terus saja membuatnya terluka."
Setelah mengucapkan itu, Intan langsung melangkahkan kakinya ke dapur sedangkan Ardi yang sedang menyupi istrinya, dirinya hanya diam setelah mendengar jawaban dari adik sepupunya, dirinya sedikit kecewa, jawaban itu sama saja sedang menyidir dirinya secara tidak langsung, karena dirinya memang tiga hari ini membuat hati istrinya terus saja terluka. Lisa yang melihat suaminya diam dan sedikit kecewa lalu dirinya langsung bertanya pada suaminya
__ADS_1
" Kak, kenpa?"
" Tidak apa-apa sayang, lebih baik lanjutkan sarannya."
Ardi langsung menyupi istrinya lagi. Lisa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, lalu dirinya langsung bertanya pada suaminya
" Kaka, tidak pergi ke kantor?"
" Tidak sayang, tadi saat kau mandi, aku sudah menghubungi Yoga untuk menggantikan aku sementara, aku hari ini hanya ingin istirahat."
" Oh."
Walaupun jawaban dirinya hanya oh pada suaminya, tapi wajahnya tidak bisa di bohongi, rasanya bahagia karena hari ini suaminya tidak pergi ke kantor, bagi Lisa itu adalah kebahagiaan dirinya, karena bisa selalu dekat dengan suaminya. Ardi yang melihat wajah istrinya bahagia dirinya hanya tersenyum, dirinya memang sengaja tidak pergi ke kantor hanya untuk menebus beberapa hari ini yang membuat istrinya menangis, untuk itu dirinya memutuskan di rumah. Ardi selesai menyupi Lisa. Lisa yang melihat suaminya hanya minum susu lalu dirinya langsung bertanya
" Kenapa Kaka tidak sarapan?"
Ardi langsung mendekati telinga istrinya
" Aku tidak lapar, aku sudah kenyang karena kau sudah mengasih bibirmu untuku."
Lagi-lagi mata Lisa membulat sempurna setelah mendengar jawaban dari suaminya. Ardi hanya tersenyum setiap melihat ekspresi wajah istrinya. Ardi dan Lisa langsung berdiri
" Mah, Ayah, Ardi sama Lisa ke kamar dulu."
" Iya sayang." jawab Mirna
" Iya nak."
Ardi dan Lisa langsung menaiki tangga hingga dirinya sampai di kamar. Ardi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sedangkan Lisa mendekati meja rias karena penasaran, kenapa ibu mertua dan Ayah mertuanya termasuk Intan melihat dirinya sambil tersenyum. Setelah di meja rias dirinya melihat beberapa tanda kepemilikan begitu banyak di lehernya, seketika juga Lisa langsung berteriak
" Kaka...!"
Ardi yang mendengar teriakan istrinya hanya tersenyum, dirinya tau pasti istrinya itu baru mengetahuinya kalau lehernya penuh oleh tanda kepemilikan. Lisa langsung buru-buru berjalan mendekati suaminya hingga dirinya sampai di dekat ranjang. Ardi yang mengetahui istrinya di dekat ranjang lalu dirinya langsung melihat istrinya
" Kak, kau benar-benar membuat aku malu, pantas saja mereka melihatku seperti itu, sangat memalukan."
Ardi hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan istrinya. Lisa langsung naik ke atas ranjang lalu langsung menindih tubuh suaminya
" Sini, biar aku kasih tanda kepemilikanku untukmu."
__ADS_1
" Tidak."