Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 204. Masakan Jenni


__ADS_3

Arga yang mendengar jawaban setuju dari papahnya Jenni, wajahnya langsung bahagia, senyuman tipis di bibirnya terlihat jelas, lalu ia langsung berterimakasih pada papahnya Jenni dan mamah Jenni


" Terimakasih om, terimakasih tente, saya pasti akan secepatnya membawa orang tua saya, setelah Jenni benar-benar siap untuk menikah, tapi terutama saya ingin tinggal di sini untuk sementara."


" Iya, om memperbolehkan kau tinggal di sini."


Tiba-tiba pamannya Jenni keluar dari kamar sambil mengayun kursi rodanya, ia langsung bertanya


" Eh ada tamu?"


Arga yang mendengar pertanyaan itu, ia langsung mengulurkan tangannya, dan pamannya Jenni juga langsung menyambut uluran tangan Arga


" Saya Arga."


" Saya pamannya Jenni."


Setelah itu mereka langsung melepaskan jabatan tangannya. Arga sekarang tau, kehidupan Jenni seperti apa, Jenni bekerja mati-matian hanya untuk kuarganya, bahkan Gadis itu tidak takut dalam apapun, tapi ia hanya takut pada karma, ternyata yang di bilang papahnya itu benar, Jenni adalah tulang punggung keluarga. Arga langsung menatap Jenni dengan mata yang sendu, ia sangat sedih saat mengingat perlakukannya kemarin-kemarin pada Jenni. Jonathan memutuskan untuk meninggalkan Jenni bersama Arga, agar mereka memiliki waktu untuk berbicara


" Mah, Marks, ayo kita ke luar. Jenni, kau ngobrol-ngobrol dengan Arga, dan tanya Arga lapar apa tidak, jangan hanya diam."


Mika dan Marks, hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum. Jenni langsung menjawab ucapan papanya

__ADS_1


" Baik pah."


Mereka langsung pergi keluar. Sekarang di ruang tamu hanya ada Arga dan Jenni. Arga dan Jenni saling bertatap mata. Jenni menatap tuan mudanya sambil tersenyum, ia tidak menyangka kalau tuan mudanya itu sudah berani berbicara pada papahnya, walaupun ia tau, tuan mudanya berbicara sangat hati-hati dan memiliki rasa takut, tapi tetap saja, sekarang ia sangat kagum pada tuan mudanya, yang hanya ia anggap pria cengeng, lalu Jenni langsung bertanya pada tuan mudanya, karena tadi papahnya menyuruh ia untuk menawari makan


" Arga, apa kau sudah makan?"


" Belum."


Arga menjawab dengan jujur, ia memang belum makan dari saat Jenni pulang ke Indonesia, hingga sekarang. Jenni yang mendengar jawaban tuan mudanya, ia langsung bertanya lagi pada tuan mudanya, karena tuan mudanya adalah orang yang selalu pemilih


" Arga, aku akan masak makanan dulu untukmu, tapi maaf, hidangannya tidak sebanyak di hotelmu, dan lauknya juga seadanya yang ada di sini, apa kau tidak keberatan?"


" Tidak apa-apa Jen, aku sudah bilang, aku tidak apa-apa hidup sederhana, asalkan aku bisa bersamamu."


" Iya sudah, aku ke dapur dulu, kau di sini, atau mau duduk di meja makan Arga?"


" Aku duduk di meja makan saja Jen."


Arga dan Jenni langsung berjalan ke dapur, hingga ia sampai di dapur. Jenni langsung memulai memasak, sedangkan Arga hanya duduk di meja makan sambil melihat Jenni yang sedang masak, ia ingin sekali memeluk pinggang Jenni dari belakang, tapi itu hanya keinginannya, karena ia dan Jenni belum menikah. Arga terus saja menatap Jenni yang sibuk memotong sayuran sambil memasak, ia sangat kagum pada Jenni. Jenni memang Gadis yang sangat sempurna, dari wajah yang cantik, bodi yang seksi, senyumannya bisa membuat seseorang rindu, bisa seni bela diri, dan cerdas dalam hal apapun, tapi sayang, hanya cinta yang tidak Jenni miliki. Setelah sekitar 1 jam memasak, akhirnya Jenni selsai memasak, walaupun hanya ada cumi balado, sayur brokoli, telor goreng, dan capcay Chinese food. Jenni langsung menyajikannya di meja, dan di bantu juga oleh Arga. Setelah selesai mereka berdua langsung duduk di meja makan. Jenni langsung berbicara pada Arga dengan sedikit ragu-ragu


" Arga, hanya ini yang ada bahan-bahannya, apa kau tidak keberatan hanya makan dengan seperti ini?"

__ADS_1


Arga yang mendengar ucapan dari Jenni, ia langsung tersenyum lebar pada Jenni, lalu ia langsung menjawab ucapan dari Jenni


" Jen, ini juga sudah sangat banyak, dan terimakasih sudah masak untuk aku."


" Sama-sama Arga, apa kau suka cumi balado?, tapi ini tidak pedes ko Arga, aku tadi juga sudah buang bijinya, hanya memakai dua cabe merah saja yang tidak aku buang bijinya."


" Iya Jen, aku suka ko."


Walaupun Arga anak orang kaya, tapi Arga menyukai pedas, hanya saja mungkin Jenni takut Arga tidak menyukai pedas, untuk itu Jenni membuang biji cabainya. Arga dan Jenni mulai makan. Jenni juga sesekali menyuapi tuan mudanya memakai sendoknya, termasuk Arga juga melakukan hal yang sama, mereka memang sudah seperti sepasang kekasih, walaupun belum memiliki hubungan apa-apa, terlebih lagi Jenni, ia melakukan itu karena ingin membuka hati untuk tuan mudanya. Tidak ada alasan untuk tidak membuka hati untuk tuan mudanya, karena tuan mudanya sudah memberanikan diri untuk berbicara pada kedua orang tuanya, untuk itu ia tidak ingin mengecewakan tuan mudanya. Sella yang melihat pemandangan itu dari jendala kamar, ia hanya tersenyum bahagia, karena kamar Sella sebelahan dengan dapur, bahkan jendelanya juga menghadap ke meja makan. Sella tidak menyangka kalau akan ada orang yang mendampingi kakanya, ia tau selama ini kakanya sibuk untuk bekerja dan bekerja, tidak ada waktu untuk berkenalan dengan seorang pria, dan itu membuat Sella selalu kuatir setiap harinya, Sella takut kakanya tidak akan menikah, apa lagi dengan sikap kakanya yang tegas, tapi ternyata masih ada orang yang sabar di samping kakanya, dan menerima kakanya apa adanya


" Kaka Arga, terimakasih untuk menjadi bagian hidup Kaka, aku sangat bahagia, apa lagi melihat kalian yang suap-suapan, aku benar-benar sangat bahagia." batin Sella


Setelah selesai makan. Arga langsung membawa piring kotornya ke westapel, ia pun langsung mencuci piring. Jenni yang melihat tuan mudanya mencuci piring, ia langsung berbicara


" Arga, biarkan saja, nanti aku yang nyuci."


" Tidak apa-apa Jen, tadi kau sudah masak, jadi sekarang biar aku yang mencuci piring."


Sebenarnya Arga tidak pernah mencuci piring, tapi untuk meringankan pekerjaan Jenni, untuk itu ia langsung mencuci piring. Jenni yang mendengar jawaban dari tuan mudanya, ia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Jenni tau, tuan mudanya tidak pernah mencuci piring, tapi tuan mudanya sekarang mau mencuci piring, ia tau alasannya, agar ia tidak terlalu capek, dan itu membuat Jenni bertanya-tanya di dalam hatinya


" Apa aku menerima Arga saja, dia benar-benar sangat tulus denganku, tapi aku takut, aku belum bisa mencintainya hingga sekarang, aku takut membuatmu kecewa Arga." batin Jenni

__ADS_1


Arga pun selsai mencuci piring, ia langsung membalikkan badannya menghadap ke arah Jenni. Arga langsung tersenyum melihat Jenni, ia memang sangat bahagia, karena kedua orang tua Jenni merestuinya, walaupun ia juga tau, Jenni belum mencintainya


__ADS_2