Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 49. Diana


__ADS_3

Sudah 3 hari masalah kejadian foto itu. Lisa juga sudah 3 hari murung di kamar dengan wajah yang sangat lesu karena terus saja memikirkan perkataan Intan, tapi pagi ini dirinya sedang siap-siap karena harus pergi ke rumah Diana. Intan sudah 2 hari masuk kerja di rumah sakit Harapan dengan wajah yang sangat bahagia karena melihat Lisa yang terus murung. Mirna juga semalam sudah menghubungi asisten pribadi Ardi untuk segera pulang karena dirinya menghubungi Ardi tidak di angkat-angkat ia selalu lupa dengan ponselnya jika sudah fokus kerja bagi Mirna tidak aneh. Mirna menyuruh Ardi segera pulang karena dirinya kuatir dengan sikap menantunya selama 3 hari ini, dirinya berpikir kalau Lisa sangat merindukan Ardi untuk itu dirinya menyuruh Ardi pulang, mau proyek itu selsai atau tidak Mirna tidak peduli atau harus menanggung kerugian yang besar juga dirinya tidak peduli, karena dirinya lebih peduli dengan menantunya. Mirna setiap melih menantunya memiliki kenyamanan tersendiri membuat dirinya akan melakukan apapun selama dirinya bisa membuat menantunya bahagia. Pagi hari Mirna, Ardian dan Intan sudah duduk di meja makan hanya Lisa yang belum turun karena masih sibuk siap-siap. Tidak lama Lisa pun turun ia mendekati meja makan


" Pagi Ayah, pagi mah, pagi Intan."


" Pagi juga nak."


" Pagi juga Lisa."


" Pagi juga menantu mamah yang cantik."


Mirna langsung menggeser kursi untuk duduk menantunya, lalu Lisa duduk. Mirna masih berdiri di samping menatunya ia membelai rambut menantunya lalu mencium kening menantunya


" Sayang mau kemana?"


" Lisa, mau ke rumah Diana."


" Oh, kalau begitu nanti supir mamah yang antar."


" Tidak mau mah."


" Sayang, sekarang wajahmu masih sangat pucat, kalau kau berangkat bawa mobil sendiri nanti membuat mamah tidak tenang, mamah tau, Lisa tidak suka di antara oleh supir, tapi kali ini mamah mohon."


" Baiklah mah, Lisa akan pergi dengan supir mamah."


Lisa sudah tidak bisa menolak, memang wajah dirinya sangat pucat, apa lagi ibu mertuanya itu sampai memohon pada dirinya itu artinya ibu mertua dirinya sangat sayang pada dirinya. Intan yang melihat Tantenya terlalu memanjakan Lisa dirinya sangat marah


" Dasar wanita sialan, lagi-lagi kau selalu di manja, apa cantiknya sih." batin Intan


Mirna pun mengambil makanan untuk menantunya setelan meletakkan di meja depan menantunya lalu dirinya pun duduk. Mereka memulai sarapan seperti biasa tidak ada pembicaraan sedangkan Mirna sarapan sambil melihat menantunya yang terus saja mengaduk-aduk makannya, dirinya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, hati Mirna benar-benar sangat sedih melihat menantunya


" Lisa, sabar sayang, mamah sudah menelpon Santi untuk menyuruh Ardi segera pulang." batin Mirna


Ardian juga melihat menantunya dirinya sangat sedih, kalau saja tau akan membuat menantunya seperti ini, dirinya pasti menyuruh Ardi untuk membatalkannya, Ardian pun membuka pembicaraan sebagai basa-basi dan agar menantunya tidak banyak berpikir


" Nak, apa sarapannya tidak enak, apa perlu bibi buatakan sarapan lain?"

__ADS_1


" Tidak perlu Ayah, Lisa hanya sedang tidak selera."


" Nak, Ardi akan secepatnya kembali, jadi jangan terlalu di pikiran."


" Iya Ayah, Lisa mengerti."


Lisa pun langsung berdiri. " Mah, Ayah, aku berangkat dulu."


" Iya nak."


" Iya sayang, hati-hati."


" Iya mah."


Lisa langsung berjalan keluar rumah itu, mendekati supir ibu mertuanya. " Pak, tolong antar saya ke jalan Cempaka nomer 5."


" Baik nona muda."


Pak Rusdi segera membuka pintu mobil untuk nona muda, lalu Lisa pun langsung masuk. Pak Rusdi juga langsung masuk ia langsung melanjutkan mobil itu ke tempat yang di suruh nona muda


...****************...


Lisa sudah duduk bersama Diana dan Yoga karena besok Diana harus kembali ke luar negeri, untuk itu dirinya ingin bertemu Lisa dan Yoga, karena mereka berdua sahabat terdekat Diana, tapi sebenarnya dirinya mengenal Lisa itu dari Ardi jadi Diana belum sepenuhnya tau tentang Lisa, tapi melihat Lisa yang sangat baik membuat dirinya ingin bersahabat dengan Lisa


" Diana, kau yakin tidak naksir dengan Yoga, karena setiap aku datang pasti selalu ada Yoga?"


" Apaan sih Lisa, kami hanya sahabat tidak lebih."


" Iya deh."


Diana langsung mengelus perut rata sahabatnya ia pun mendekatkan kepalanya pada perut Lisa


" Aku belum hamil."


" Yah, benih-benih cinta cepat jadi biar aku di panggil Tante cantik."

__ADS_1


" Ngarep banget sih."


" Bukan begitu Yoga, tapi mereka itu terlalu lama, apa jangan-jangan semalam kau hanya sekali?"


" Apa yang sekali?" Lisa sama sekali tidak paham maksud perkataan dari sahabatnya


" Itu loh, main di ranjang."


" Oh."


" Bukanya di jawab malah oh, dasar wanita dingin kumat."


Lisa tidak menjawab lagi perkataan sahabatnya itu. Yoga menatap Lisa ia pun memutuskan untuk membicarakan tentang Intan karena dirinya takut rumah tangga yang baru saja membaik itu akan terkena masal lagi


" Lisa, aku mau bicara serius."


" Iya apa Yoga?"


" Aku harap kau tidak percaya apapun yang Intan katakan, kau tidak boleh goyah dan tetap memiliki pendirian karena Ardi benar-benar sangat mencintaimu."


Setelah mendengar perkataan dari Yoga detak jantung Lisa sangat kencang, dirinya salah mengartikan maksud dari Yoga dirinya berpikir kalau dirinya wanita bodoh yang tidak pernah tau, kalau suaminya pernah memiliki hubungan bersama adik sepupunya itu, karena Yoga saja menasehati dirinya itu jelas kalau Yoga tau segalanya tentang suaminya dan Intan. Lisa memutuskan untuk berpamitan ia tidak ingin lagi mendengar penjelasan atau perkataan apapun tentang suaminya bersama Intan karena akan membuat dirinya semakin sakit hati


" Yoga, Diana, aku pamit dulu, karena aku berangkat kesini tidak bilang dengan ibu mertuaku."


" Aku masih kangen tau Lisa, tapi iya kau juga sekarang sudah memiliki tanggung jawab sebagai istri jadi apapun yang kau lakukan harus ijin."


" Iya Diana."


Lisa pun langsung berdiri lalu ia berjalan keluar di ikuti Yoga dan Diana sampai di depan mobil, setelah di depan mobil Lisa langsung masuk sebelum pak Rusdi membuka pintu mobil dirinya sudah membuka pintu mobil duluan


" Hati-hati Lisa."


" Iya Yoga."


Pak Rusdi pun langsung melajukan mobil itu untuk pulang. Lisa langsung menangis di dalam mobil, dirinya mengingat foto-foto yang Intan tujukan saat itu. Setelah menempuh perjalanan 30 menit Lisa pun sampai di depan rumah dirinya langsung turun sebelum supir itu membuka pintu mobil, dirinya masuk ke dalam rumah lalu langsung menaaiki tangga, setelah dirinya sampai di dalam kamar. Lisa langsung menghubungi suaminya karena emosinya yang sudah tidak bisa dirinya tahan, tapi ternyata telepon dirinya tidak di angkat. Lisa terus saja menelpon suaminya itu tapi tetap tidak ada jawaban karena sangat kesal Lisa langsung melempar ponsel itu ke tembok hingga ponsel itu rusak

__ADS_1


" Pria brengsek! Kau kemana apa di luar sana juga kau main bersama wanita-wanita murahan seperti kau bermain dengan Intan, dasar brengsek!"


Lisa tidak pernah tau kalau suaminya itu orang yang tidak pernah memegang ponsel jika di luar, bahkan membuat dirinya berpikir yang tidak-tidak pada suaminya itu


__ADS_2