
Lisa masih diam dirinya masih di atas tubuh suaminya, dirinya masih masih memikirkan apa yang di maksud perkataan ibu mertua dan suaminya
" Kata mamah suruh lanjut, kata Ardi suruh lanjutkan sesuatu, apa maksud mereka." Batin Lisa
Ardi menatap wajah istrinya dengan tatapan mata tajam, lalu dirinya melihat istrinya sedikit bingung
" Apa Lisa tidak mengerti maksud mamah dan maksudku, kenapa Lisa seperti orang bingung, bukankah saat bertengkar Lisa mengaku sudah tidur bersama Livino, tapi kenapa sekarang seperti gadis polos, atau Lisa membohongiku, kalau sudah pernah tidur dengan Livino agar aku menceraikannya, tapi kenapa jawaban Livino dan Lisa sama saat itu, apa mereka berdua memiliki hubungan yang tidak aku ketahui selain hubungan kekasih." Batin Ardi
Lisa sadar kalau dirinya masih di atas tubuh suaminya dari tadi lalu dirinya langsung berdiri
" Jadi tadi maksud mamah, lanjutkan itu. Dasar ibu sama anak sama-sama mesum." Ucap Lisa yang menatap mata suaminya dengan tatapan sinis
Ardi masih berbaring sambil tersenyum mendengar perkataan istrinya
" Pantas saja dari tadi Lisa seperti orang bingung, ternyata dirinya benar-benar tidak paham maksud mamah." Batin Ardi
Lisa langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi dengan penuh kesal
" Mertua aneh, bukankah baju aku masih lengkap dan hanya berbaring di tubuh Ardi, kenapa mereka kira aku sedang, ah sudah kalau terus memikirkan itu kapan aku mandi." Batin Lisa
Lisa langsung menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya, tapi pikiran Lisa masih mengingat kejadian tadi tentang perkataan ibu mertua
" Ah sial, kenapa perkataan mamah masih terus terdengar di telingaku. Aku sangat malu untuk melihat Ayah sama mamah, mereka pikir pasti aku nyosor duluan." Batin Lisa
Ardi masih setia tiduran di sofa. Senyuman Ardi tidak pernah pudar setelah mengetahui istrinya masih tidak paham dengan hal tadi, tiba-tiba ponsel Lisa bergetar
Drett..drett..
__ADS_1
Ardi mengambil ponsel istrinya ingin tau siapa yang mengirim pesan, dirinya melihat nama di layar ponsel istrinya. Livino. Wajah Ardi mulai merah, setelah melihat siapa yang mengirim pesan pada istrinya
" Lisa, kau masih berhubungan dengan Livino, ternyata permintaanku benar-benar kau abaikan, dasar pria brengsek, sudah tau Lisa sudah menikah, tapi tetap saja masih mengirim pesan pada istriku." Batin Ardi
Ardi menaro kembali ponsel istrinya ke tempat tadi, tanpa membuka pesan apa dari Livino, dirinya langsung berbaring lagi di sofa, pikiran Ardi mulai tidak karuan
" Pesan apa dari Livino, apa lebih baik aku buka saja pesan itu, tapi bagaimana jika Lisa marah padaku, karena membuka pesan dari Livino." Batin ardi
Ardi mengambil lagi ponsel istrinya lalu dirinya membuka kunci ponsel istrinya, ternyata kunci ponsel Lisa masih sama seperti 6 tahun yang lalu
" Lisa, masih menggunakan kunci ponsel yang sama, tanggal jadian kita, apa Lisa sebenarnya masih mencintaiku. Jika tidak mencintaiku, harusnya Lisa mengganti kunci ponsel ini, karena ponsel ini juga ponsel baru." Batin Ardi
Ardi mengurungkan niatnya untuk membuka pesan dari Livino, lalu dirinya langsung menaro kembali ponsel istrinya, karena dirinya sudah menemukan jawaban kalau istrinya masih mencintai dirinya. Ardi tersenyum manis setelah tau kunci layar ponsel istrinya masih sama, tapi dirinya masih sedikit penasaran pesan apa yang Livino kirim
" Apa lebih baik aku buka saja ya pesan itu, aku juga sangat ingin tau, siapa yang sebenarnya mengirim pesan duluan." Batin Ardi
Sayang, Kaka baik-baik saja, maafkan Kaka baru balas pesanmu sekarang, ingat perkataan Kaka, anggap ibu dan ayah mertuamu seperti orang tuamu, mereka tidak salah dalam hubungan kalian, dan tolong turuti permintaan Kaka, jadilah istri yang baik, lakukanlah tugasmu sebagai seorang istri, mungkin kau sangat kesal dengan permintaan terakhir Kaka, tapi Kaka menginginkan kau bahagia, menjadi Gadis yang lembut, sabar dan ceriah, jadilah Gadis seperti pertama kita bertemu. Itulah isi pesan dari Livino. Setelah membaca pesan dari Livino, Ardi langsung duduk di lantai, wajah Ardi mulai merah penuh kesedihan
" Jadi, Livino bukan seperti yang aku pikirkan, ternyata Livino yang meminta Lisa agar menghargai kedua orang tuaku, ternyata istriku yang mengirim pesan duluan padanya, perkataan Livino ternyata benar, kalau Lisa yang sangat mencintai Livino, awalnya aku tidak percaya, tapi sekarang aku benar-benar percaya, terus kenapa kunci layar ponselmu tanggal jadian kita, kalau hatimu hanya untuk Livino." Ucap Ardi dengan lirih
Ardi langsung meneteskan air mata dirinya sangat kecewa pada istrinya. Setelah 20 menit Lisa keluar dari kamar mandi, dirinya menghentikan langkahnya saat melihat suaminya yang sedang duduk di lantai
" kenapa wajah Ardi penuh dengan kecewa dan seperti sedang menangis, bukankah saat aku masuk kamar mandi dirinya masih menaburkan senyuman padaku, apa kekasihnya meminta putus sampai membuat Ardi menangis. Jika benar karena putus hubungan dengan kekasihnya, aku sangat bahagia itu balasan karena dulu kau meninggalkan aku." Batin Lisa
Lisa langsung berjalan ke meja rias, dirinya mengoleskan krim wajahnya smbil mata Lisa tetap fokus melihat suaminya dari pantulan kaca. Ardi menghapus air matanya dengan kasar, dirinya melihat istrinya yang sedang berdandan
" Lisa, apa kau tidak bisa memberi aku kesempatan kedua di hatimu lagi, aku sangat mencintaimu." Batin ardi
__ADS_1
Ardi langsung berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekati istrinya, setelah sampai di sisi istrinya. Lisa melirik sekilas pada suaminya yang berdiri di dekat dirinya. Ardi menarik tangan Lisa, hingga Lisa berdiri di depan Ardi. Lisa menatap mata suaminya penuh pertanyaan, tapi dirinya tidak ingin menanyakan kenapa suaminya menangis, lalu Ardi langsung memeluk istrinya
" Apa dia gila, kenapa memelukku seperti ini, apa ada sesuatu yang Ardi sembunyikan." Batin Lisa
" Sayang, katakan apa ke inginanmu. Aku akan turuti, tapi jangan pernah meminta untuk bercerai dariku?" Tanya Ardi yang masih memeluk istrinya
Lisa makin bingung dengan maksud suaminya
" Apa maksud pria bajingan ini, kenapa Ardi mengatakan itu tiba-tiba, apa yang di sembunyikan oleh Ardi." Batin Lisa
Lisa masih tidak ingin bertanya apa maksud suaminya dan dirinya juga tidak menjawab perkataan suaminya
" Kenapa Lisa tidak menjawab pertanyaanku." Batin Ardi
Setelah pikiran Ardi sudah tenang dirinya melepaskan pelukannya lalu menatap mata istrinya dengan tatapan penuh kecewa Lisa yang merasa tatapan suaminya dengan tatapan penuh kecewa, dirinya terus bertanya-tanya kenapa suaminya, tapi dirinya masih terus menahan karena dirinya dulu mengatakan tidak akan ikut campur tentang suaminya
" Sayang, apa bisa kau menerimaku lagi? Tanya Ardi dengan lirih
" Apa yang kau maksud, menerima atau tidak semua jawaban ada padamu. Jika aku tidak menerimamu juga kau tetap tidak akan menceraikanku."
" Sayang, apa tidak ada rasa cinta sedikit pun untukku?"
Lisa tidak menjawab pertanyaan suaminya, dirinya langsung memegang kening suaminya
" Kau tidak sakit, tapi kenapa pertanyaanmu sangat tidak masuk akal?"
" Sayang, pertanyaanku ini masuk akal, apa bisa kau memberi aku kesempatan kedua?"
__ADS_1
" Ardi, jangan terus bertanya seperti itu, karena aku tidak akan menirima kau lagi mengerti."