
" Maklumin saja yah."
" Bagaimana Ayah memakluminya, mereka itu ciuman seperti tidak tau tempat, Ayah yang melihat jadi malu sendiri, mungkin mereka juga akan malu jika tau Ayah melihat kelakuan mereka."
" Hahaha, jadi mereka?" Tanya Mirna sambil tertawa
" Iya mereka tidak jelas, bagaimana kalau di lihat pelayan, dasar anak muda jaman sekarang, ada-ada saja."
" Yang penting mereka akur dan romantis, biarkan saja Ayah."
" Iya, mah, Ayah juga sangat senang melihat mereka berdua."
...****************...
Lisa langsung menggigit bibir suaminya. Ardi langsung menghentikan aksinya. Ardi menatap mata istrinya dengan tatapan tajam yang tidak bisa di artikan
" Tolong lepaskan tanganku, aku mohon."
" Kau harus bilang mau jadi istri yang baik, dan berjanji akan tinggalkan Livino, aku pasti akan melepaskanmu."
Ardi masih menatap mata istrinya dengan tatapan tajam. Bibir Ardi sedikit lecet karena istrinya menggigit bibir bawahnya
" Sudah aku bilang, aku akan menjadi istri yang baik, tapi kau harus berjanji akan menceraikanku, atau kau mau aku seperti mayat hidup diam tanpa kata tinggal pilih?"
__ADS_1
" Jika kau seperti kemarin-kemarin lagi, aku tidak akan segan-segan untuk melakukan lebih dari ini." Ucap Ardi masih menatap mata istrinya dengan tatapan sinis
Lisa yang mendengar perkataan suaminya dirinya langsung meneteskan air mata, dirinya merasa seperti sampah di hadapan suaminya. Lisa mengingat masa lalu dirinya berlutut di kaki Ardi mengharapkan agar tidak putus, sekarang dirinya harus seperti wanita murah yang harus menghargai pria yang telah membuat dirinya kehilangan harga diri. Ardi yang menyadari istrinya meneteskan air mata, dirinya merasakan sakit hati, tidak mudah untuk mendapatkan cinta Lisa lagi
" Kau kenapa sayang?"
Tangan Ardi menghapus air mata istrinya. Lisa tidak menjawab, air mata dirinya semakin deras, dada yang mulai sesak, dirinya merasa mengenal Ardi adalah kesialan. Ardi langsung menarik istrinya ke dalam pelukunya
" Maafkan aku Lisa, aku tau, aku sangat egois, tapi jika aku harus menceraikanmu, bagaimana dengan kehidupan aku, kehidupan yang selama ini terus saja terbayang-bayang oleh wajah cantikmu, senyuman manismu, watak keras kepalamu, semuanya sangat aku rindukan." Batin Ardi
" Apa benar, suamiku benar-benar mencintaiku, atau menghargai aku karena aku ini istrinya, di saat di peluk seperti ini, aku sangat merindukan sosok seorang Ardi, tapi jika mengingat masalalu Ardi minta putus padaku, rasanya sangat sakit, apa aku harus menerima Ardi lagi, atau aku harus mengabaikan Ardi, sudah cukup 5 tahun itu membuat aku hampir gila, tidak, aku tidak akan menerima bajingan ini lagi, ngapain juga tadi aku menganggap pria ini sebagai suami, tidak ada kata suami buat pria ini" Batin Lisa
" Sayang, apa ada sesuatu hingga kau menangis?"
" Kau tau, pelukan ini adalah pelukan sama persis ketika aku takut kehilanganmu, tapi kau tidak membalas pelukan aku, bahkan kau tidak mengatakan sepatah katapun kesalahan aku, kau sangat egois Ardi." Batin Lisa
Air mata Ardi semakin deras karena istrinya tidak menjawab pertanyaan dan tidak membalas pelukan dari dirinya
" Apa aku harus merelakan, kau bersama Livino, lalu bagaimana dengan hidupku nanti tanpamu, kenapa kita harus mengalami kisah cinta yang sangat rumit. Lisa, aku harus berbuat apa, agar kita seperti dulu." Batin Ardi
Ardi sebelum melepaskan pelukannya dirinya menghapus air mata di pipinya sendiri, meskipun dirinya sangat sedih, tapi tidak ingin menunjukkan kesedihan itu pada istrinya, Ardi lalu melepaskan pelukannya. Lisa menatap mata suaminya dengan tatapan tajam dirinya melihat mata suaminya sedikit merah
" Dia benar-benar menangis, untuk apa kau tangisi hubungan yang sudah retak." Batin Lisa
__ADS_1
Lisa langsung berdiri lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga, perasaan dirinya campur aduk, rasa kacau dan sedih setelah melihat mata suaminya merah, lalu Lisa masuk kamar dirinya langsung membaringkan tubuhnya di sofa
" Harusnya, tangisan itu kau berikan saat 5 tahun yang lalu, bukan sekerarng" Batin Lisa
Lisa memikirkan tentang suaminya hingga tertidur. Ardi setelah cukup lama diam di meja makan dirinya langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya. Ardi melihat ke sofa dirinya melihat istrinya yang sedang tidur pulas. Ardi langsung mendekati istrinya dirinya duduk di lantai lalu Ardi langsung mencium kening istrinya sekilas, dirinya menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih, dirinya tidak tau sekarang harus berbuat apa agar bisa mempertahankan rumah tangganya yang sudah hampir satu bulan, tapi tetap dirinya masih menjadi orang asing, tepatnya sekarang menjadi seperti musuh, sedikit saja Ardi menyentuhnya, maka siap-siap di buatkan makanan sepesial yang tidak ada duanya
" Lisa, tolong beri aku kesempatan, untuk menebus semua kesalahanku di masalalu, aku sangat mencintaimu. Sendainya kau tau, aku juga susah hidup tanpamu selama 5 tahun ini." Ucap Ardi dengan lirih
Lisa yang di kecup sekilas dirinya terbangun, tapi dirinya masih tetap pura-pura tidur, hingga Lisa mendengar perkataan suaminya, air mata Lisa langsung menetes di pipinya, dirinya juga sudah mulai memiliki perasaan lagi, tapi karena takut kejadian masalalu akan terulang lagi, membuat dirinya menjadi wanita keras kepala
" Apa, kau tidak akan pernah meninggalkan aku lagi kak, semua rasa takut di masalalu masih selalu ada, aku terlalu takut untuk mencintaimu lagi. Aku juga sangat merindukanmu, tapi hingga saat ini kau tidak menjelaskan dari mulutmu, kenapa kau meninggalkanku." Batin Lisa
Ardi yang melihat wajah istrinya meneteskan air mata dirinya langsung menghapusnya dengan lembut, Ardi pikir istrinya mimpi buruk
" Apa yang kau mimpikan Lisa, hingga sampai menangis, apa mimpi buruk, atau kau memimpikan perkataanku di meja makan, aku tidak pernah bermaksud mengancammu, aku hanya ingin di hargai sebagai suamimu, dan beri aku kesempatan kedua." Batin Ardi
Ardi langsung berdiri lalu berjalan ke ranjang untuk mengambil bantal, dirinya sudah tidak peduli mau di dorong lagi ke lantai atau di jailin istrinya, yang dirinya pedulikan adalah untuk mempertahankan rumah tangganya. Ardi mengangkat istrinya untuk menggesernya lalu dirinya langsung merebahkan tubuhnya di sisi istrinya sambil memeluk istrinya
" Bajingan, kau tidur bersamaku lagi, dasar mesum, bagaimana aku harus mendorongnya, karena yang Ardi tau, aku sudah tidar. Jangan berharap kau bisa mendapatkan cintaku lagi. Aku sekarang bukan wanita bodoh yang mudah kau permainkan, kau bahkan tidak menjelaskan kenapa minta putus, kenapa harus sahabatmu yang menjelaskan, kenapa bukan kau Ardi." Batin Lisa
Ardi langsung duduk, dirinya menatap istrinya karena nafas istrinya tidak beraturan seperti sedang menahan emosi
" Lisa, apa kau sebenarnya tidak tidur, apa tadi juga menangis karena ancamanku, maafkan aku, aku pikir tidak akan seperti ini, tapi ternyata membuatmu menangis, apa kau sangat tidak ingin aku sentuh." Batin Ardi
__ADS_1
lalu Ardi berbaring lagi sambil memeluk istrinya, dirinya akan selalu pasrah apa yang akan terja besok pagi, tetapi yang terpenting dirinya bisa membuat Lisa nyaman lagi pada dirinya tanpa adanya jarak