
Setelah Ardi pulang Yoga masih saja terus menatap foto Intan, ia masih di atas ranjang dari tadi, bahkan air matanya saja masih terus mengalir di pipinya. Tidak lama ada yang mengetuk pintu
Tok-tok
Yoga yang mendengar ketukan pintu, ia langsung meletakkan foto Intan, lalu langsung menghapus air matanya, setelah itu langsung menyuruhnya masuk
" Masuk."
Setelah mendengar teriakan dari dalam, Herman langsung membuka pintu, lalu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar anaknya hingga ia sampai di depan anaknya. Herman langsung duduk di atas ranjang bersama anaknya. Herman dan Yoga saling bertatap mata. Herman memutuskan berbicara terlebih dahulu pada anaknya
" Yoga, ayah mau menjodohkanmu dengan sesaorang, apa kau mau menerima wanita pilihan ayah?"
Setelah mendengar ucapan ayahnya, detik jantung Yoga sangat kencang, ia tidak percaya kalau ayahnya akan menjodohkanya dengan wanita pilihan ayahnya, lalu ia memutuskan untuk bertanya siapa wanita itu
__ADS_1
" Siapa wanita itu ayah?"
Herman langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan anaknya, dan melihat wajah anaknya sedikit tegang, lalu ia langsung menjawab pertanyaan anaknya
" Karina, bukan'kah kalian berdua sudah lama salah kenal, dan ayah juga menyukai gadis itu, dia wanita yang sangat baik, perhatian, apa lagi dia juga masih seorang gadis muda."
Setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Yoga langsung menghela nafas berat, tapi ia tidak berani untuk menolak permintaan ayahnya, yang ia punya sekarang hanya seorang ayah, lalu ia berpikir tentang hubungannya dengan Intan
" Bagaimana hubunganku dengan Intan, pertama aku meminta mengakhiri hubungan ini agar Intan tidak tau kebenaranya, tapi ternyata sekarang aku benar-benar menyakiti perasaan Intan, jika aku menikah dengan wanita lain, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan ayah, aku tidak ingin melihat ayah sedih." batin Yoga
" Ayah, Karina hanya menganggap aku sebagai Kaka, tidak mungkin Karina akan menerimanya, apa ayah benar-benar yakin dengan perjodohan ini?"
Setelah mendengar pertanyaan dari anaknya, Herman masih tersenyum, ia sangat beruntung memiliki anak seperti Yoga, yang tidak pernah melanggar satu kata pun darinya, anaknya selalu menerima keputusan apa pun yang di berikan olehnya, dan Herman juga berpikir, mungkin ini cara satu-satunya membiarkan anaknya bahagia, Karena sudah cukup dari ibunya masih hidup anaknya selalu merasakan tertekan dengan keadaan ibunya, bahkan sampai ibunya meninggal, anaknya lebih terpuruk, dengan kenyataan yang harus anaknya terima, untuk itu ia menghilangkan rasa benci itu, walaupun ia sangat benci terhadap Veronica, tapi ia tidak ingin membenci anaknya, ia tidak ingin melihat anaknya lebih menderita dengan keadaan yang harus anaknya terima, ia ingin melihat anaknya bahagia seperti sahabatnya yaitu Ardi yang sebentar lagi akan menjadi ayah, lalu Herman langsung menjawab pertanyaan anaknya
__ADS_1
" Yoga, Karina sebenarnya tidak pernah menganggapmu sebagai Kaka, dia sangat mencintaimu, ayah akan mengadakan pernikahan itu di gedung Haivel, karena ayah dan ibumu, menikah di gedung Haivel. Ayah juga sudah menentukan tanggal yang sama dan jam yang sama untuk kalian menikah, ayah ingin kau menikah hanya satu kali seperti ayah dan ibumu, untuk itu semuanya sudah ayah rancangan dengan sebaik mungkin."
Setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Yoga ingin sekali menangis, ia juga ingin sekali menolak pernikahan itu, tapi ia juga tidak bisa melihat ayahnya sedih, apa lagi sekarang, ia melihat ayahnya yang begitu bahagia, ayahnya terus saja memancarkan senyuman di bibirnya, membuat ia tidak bisa menolak keinginan ayahnya. Yoga langsung memejamkan mata ia berharap perkataan ayahnya adalah sebuah mimpi buruk baginya, ia berharap setelah membuka mata semuanya berubah menjadi seperti dulu lagi, yang tidak merestui hubunganya dengan Intan, dari pada harus menikah dengan Karina, wanita yang selalu dirinya anggap seorang adik, bahkan usianya saja berbeda sangat jauh, tapi sekarang wanita yang di anggap adik itu akan menjadi istrinya. Herman terus menatap anaknya yang memejamkan mata, ia sebenarnya tidak tega untuk berbohong pada anaknya, tapi hari pernikahan itu adalah hari ulang tahun Yoga, ia berusaha untuk menutupinya, ia ingin memberi kado terindah yang belum pernah anaknya dapatkah. Setelah beberapa menit Yoga langsung membuka mata, ia langsung menatap mata ayahnya, ternyata permintaan ayahnya itu bukan sebuah mimpi, itu benar adanya, ia ingin sekali menolak perjodohan itu, tapi ia lagi-lagi takut mengecewakan ayahnya, ia hanya bisa diam, bahkan ia juga ingin hari pernikahan orang tuanya adalah hari ulang tahunnya, lalu Yoga langsung berpikir tentang kado
" Minggu ini kado terburuk yang harus aku terima di tahun ini, begitu banyak yang harus aku terima, dari tidak setuju dengan Intan dan sekarang harus menikah dengan Karina, dia hanyalah seorang gadis kecil, kenapa dia bilang mencintaiku pada ayah, bukan'kah dia menganggap aku sebagai Kaka, kenapa dia tega menginginkan perjodohan ini, apa benar perhatian Karina padaku karena cinta, tapi saat aku bersama Intan, dia sama sekali tidak cemburu, apa jangan Karina yang bilang sama ayah, kalau Intan adalah anak kandung Veronica, agar kita di jodohkan, benar-benar seperti ulat, kau diam-diam menghancurkan segalanya, lihat saja, aku akan buat hidupmu di neraka, jangan berharap kau bisa mendapatkan cintaku." batin Yoga
Yoga terus saja berpikir tentang Karina, ia tidak pernah menyangka, wanita yang selalu di anggap sebagai adik itu, ternyata dialah yang menghancurkan segalanya, walaupun Yoga belum menemukan kebenaran itu, rapi ia terlebih dahulu benci pada wanita yang selama ini ia anggap sebagai adik. Herman masih terus saja tersenyum karena melihat anaknya yang diam, bahkan anaknya sama sekali tidak menolak, membuat Herman bahagia, dan pasrah, apa pun yang akan terjadi di masa depan, yang penting ia tidak membuat anaknya menderita, ia ingin membiarkan anaknya menentukan pilihannya, ia hanya bisa berharap agar pernikahan itu berakhir dengan bahagia, dan bisa menjadi seorang kakek seperti teman-temannya yang sudah menjadi seorang kakek, lalu ia memutuskan untuk bertanya pada anaknya, kenapa anaknya tidak menolak keinginannya
" Yoga, kenapa kau tidak menolak keinginan ayah?"
Setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya, Yoga mencoba untuk tersenyum, ia tidak ingin membuat ayahnya sedih, lalu ia langsung menjawab pertanyaan ayahnya
" aku tidak ingin mengecewakan ayah, , apa pun yang ayah inginkan, aku akan menurutinya selama aku bisa."
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari anaknya, Herman langsung memeluk anaknya sambil meneteskan air mata, ia tau, anaknya menginginkan dirinya tidak ingin kecewa, tapi ia telah membuat anaknya kecewa selama 3 hari ini, ia tidak ingin lagi menjadi orang tua yang egois. Yoga juga membalas pelukan itu sambil meneteskan air mata. walaupun Yoga sangat sedih, tapi ia juga merasakan kebahagiaan karena melihat ayahnya tersenyum, bahkan senyuman itu tidak pernah Yoga lihat setelah meninggalnya ibunya, ayahnya tidak pernah tersenyum, tapi kali ini ayahnya terus saja tersenyum
" Ayah, aku tidak akan pernah mengecewakan ayah, aku akan selalu sebisa mungkin untuk membuat ayah bahagia, untuk itu, apa pun akan aku lakukan." batin Yoga