Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 206. Buku harian


__ADS_3

Setelah memutuskan telpon dengan Romi, Jenni terus saja mondar-mandir di depan ranjang sambil memikirkan ucapan Romi


" Kalau memang itu namanya cinta, lalu aku harus bagaimana berbicara pada Arga, tidak mungkin aku menyatakan cinta pada Arga, itu sama saja aku merendahkan harga diriku." batin Jenni


Jenni melihat jam tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 23.54 WIB, lalu ia langsung membuka laci, ia langsung mengambil buku harian, ia hanya menatap buku itu. Buku harian itu hanya berisi tentang ia dan Arga saat kecil dulu. Jenni langsung berbicara lagi di dalam hatinya


" Mungkin ini memang benar cinta, aku tidak pernah menulis tentang hari-hariku dengan siapapun, hanya dengan Arga yang aku tulis saat kecil." batin Jenni


Setelah berpikir, Jenni langsung melihat jam tangannya lagi, sekarang sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB, Jenni langsung berjalan ke luar kamar sambil membawa buku harian itu, ia memutuskan untuk memberikan buku itu pada Arga, dan berharap, Arga peka pada maksud ia memberikan buku itu. Jenni memberikan buku itu sebagai ungkapan hatinya, karena di buku itu hanya tetang ia dan Arga saat kecil. Setelah di depan kamar Arga, Jenni langsung mengetuk pintu


Tok-tok


Arga masih belum bisa tidur, karena kamar itu sangat sempit, terutama di ruangan itu hanya memakai kipas angin, membuat ia tidak bisa tidur. Arga yang mendengar ketukan pintu, ia langsung mendekati pintu, lalu langsung membuka pintu itu. Jenni yang melihat Arga, ia langsung mengucapkan selamat ulang tahun


" Selamat ulang tahun Arga, semoga."


Jenni belum juga menyelesaikan pembicaraan, Arga langsung memotong ucapan Jenni


" Semoga, aku dan kau berjodoh."


Jenni yang mendengar ucapan seperti itu, ia langsung berdecik kesal

__ADS_1


" Arga! Aku belum selesai bicara!"


" Tidak perlu mengucapkan apapun, aku melihatmu saja sudah sangat bahagia."


" Arga, ini buku harianku, anggap saja ini kado ulang tahunmu."


Arga langsung mengambil buku harian Jenni sambil menjawab dengan anggukan kepala. Jenni langsung berpamitan untuk ke kamarnya lagi


" Arga, aku ke kamar dulu."


" Tunggu Jen, kau belum memberikan kado sepesail selain ini."


" Arga, pejamkan matamu."


Arga hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu ia langsung memejamkan mata. Wajah Jenni langsung mendekati wajah Arga, setelah mendekati wajah Arga sekitar satu cm, ia merasakan dadanya berdetak lebih kencang, bahkan ini belum pernah ia rasakan pada siapapun, lalu ia langsung mencium pipi Arga sekilas, setelah itu ia buru-buru lari masuk ke dalam kamarnya, bahkan hingga ia menutup pintu dengan kencang


Bruk...


Arga yang mendengar suara pintu, ia langsung membuka matanya, dengan mata yang berbinar-binar, ia memang sudah tidak melihat Jenni, ia tau Jenni malu, walaupun ia ingin sekali melihat wajah malu Jenni, tapi mau bagaimana lagi, ia lebih baik diam dari pada membuat Jenni malu. Arga langsung memegang pipinya yang di cium Jenni sambil tersenyum. Setelah itu Arga langsung masuk ke dalam kamarnya, ia langsung duduk di atas ranjang, lalu langsung membuka buku harian dari Jenni. Arga membaca beberapa lembar buku itu, bahkan di situ juga ada harapan Jenni yang ingin bertemu ia, Setelah sekitar 1 jam, Arga menyelesaikan membaca buku harian Jenni, ia sekarang bisa menyimpulkan kalau Jenni mencintai ia, hanya saja Jenni terlalu tidak peduli dengan hal seperti itu, dari keinginan Jenni ingin bertemu dengan ia, itu artinya Jenni memang mencintainya, tapi ia tidak mengerti kenapa Jenni memberikan buku hariannya


" Buku harian ini tidak ada pria manapun selain aku, itu artinya jenni mencintaiku, hanya saja ia tidak pernah peduli dengan perasaannya, lalu apa artinya Jenni memberikan ini, apa Jenni sekarang menerimaku, dan tadi Jenni juga mencium pipiku, bahkan Jenni wanita yang sulit di sentuh, tapi dia menciumku, iya mungkin itu jawaban dari Jenni." batin Arga

__ADS_1


Setelah berpikir cukup lama, Arga langsung tersenyum lagi, ternyata selama ini Jenni juga mencintai ia. Setelah itu Arga langsung melihat jam dinding, jam itu baru saja menujukan pukul 01.09 WIB, lalu ia langsung menghela nafas panjang, setelah itu ia langsung berbicara di dalam hatinya


" Lama sekali, aku ingin cepat-cepat pagi, aku ingin mengungkapkan isi hatiku lagi, dan aku berharap Jenni menerimaku, apa aku sekarang saja mengetuk kamar Jenni, tapi bagaimana kalau Jenni sudah tidur?, ini sudah satu jam lebih dari Jenni memberikan buku harian padaku, tapi kalau tidak tidur juga tidak enak hati pada orang tua Jenni, aku takut mereka mengira aku pria brengsek."


Jenni yang duduk di kamar, ia terus saja memegang dadanya sendiri, karena jantung berdetak lebih kencang, bahkan ia tidak memiliki riwayat jantung


" Apa yang sebenarnya terjadi denganku, bukan'kah aku tidak memiliki riwayat jantung, kenpa jantungku berdetak lebih kencang, apa yang salah dengan makananku?, tidak mungkin aku mendadak memiliki riwayat jantung, apa seperti itu yang di namakan cinta?, tidak, mungkin saja aku salah memakan sesuatu, besok aku harus pergi ke klinik untuk memeriksa jantungku ini." batin Jenni


Jenni memang Gadis yang sangat cerdas, tapi ia tidak pernah tau yang namanya cinta, tidak tau perasaan cinta seperti apa, tidak pernah menyukai film remaja, bahkan jam istirahat ia habiskan untuk membaca informasi dan informasi, untuk menambah wawasannya agar lebih luas, tapi ia tidak pernah peduli dengan namanya cinta, membuat ia tidak mengerti cinta, hingga ia anggap itu adalah riwayat sakit jantung. Setelah berpikir Jenni pun diam sesaat sambil memikirkan ucapan nya tadi


" Tidak, tidak mungkin aku memiliki riwayat sakit jantung, sejak kapan aku memiliki riwayat sakit jantung?, iya itu berarti benar, itu adalah cinta, jantungku belum pernah berdetak lebih kencang, ini pertama kalinya saat aku dan Arga jaraknya lebih dekat, dan Romi bilang, aku juga sebenarnya mencintai Arga, hanya saja aku kurang menyadarinya." batin Jenni


Jenni berpikir dan terus berpikir, ia benar-benar menjadi Gadis bodoh karena kata cinta, yang membuat ia terus saja berpikir dan berpikir, hatinya antara yakin itu cinta, dan tidak yakin itu namanya cinta. Setelah itu Jenni langsung mengacak-acak rambutnya sendiri sambil berbicara


" Ah, Jenni, sejak kapan kau menjadi wanita bodoh."


Setelah mengatakan itu, Jenni memutuskan berbaring, sudah sangat lama ia duduk, ia pikir tuan mudanya akan mengetuk pintu, setelah membaca buku harian itu, tapi hingga sekarang tuan mudanya masih saja belum muncul, dan itu membuat Jenni tambahan prustasi, lalu ia langsung berbicara di dalam hatinya


" Apa Arga tidak membaca bukunya?, dan bagaimana kalau Arga tidak benar-benar membacanya?" batin Jenni


Jenni sekarang merasa kuatir, ia takut kalau tuan mudanya tidak membaca buku itu, pedahal ia sudah ingin mendengar tuan mudanya mengungkapkan perasaannya pada ia, dan ia akan langsung menerimanya, karena ia tidak ingin tuan mudanya di ambil oleh Gadis lain, itu adalah ucapan Romi, yang selalu terdengar di kepalanya, dan membuat ia terus berpikir tentang cinta

__ADS_1


__ADS_2