
Arga masih terus berdiri, hingga ia sudah benar-benar lelah, ia langsung mondar-mandir lagi di depan pintu kamarnya. Asisten rumah tangga yang berdiri di depan kamar itu sedikit pusing, saat melihat tuan mudanya terus saja mondar-mandir di situ, tapi ia tidak bisa apa-apa, ia hanya diam sambil berbicara di dalam hatinya
" Kepalaku sangat pusing, melihat tuan muda yang terus saja mondar-mandir di situ, siapa sebenarnya Gadis yang terluka itu, bahkan ini pertama kalinya tuan muda membawa seorang Gadis ke kamarnya." batin Arga
Arga memang jarang ke London, ia lebih memilih tinggal di Indonesia, tapi kamarnya tidak boleh ada yang masuk, selain ibunya. Sedangkan ibu Arga jarang sekali ke Indonesia, ia memiliki perusahaan di London, dan ia juga asli orang London, sedangkan ayah Arga, ia asli dari Indonesia, dan selalu tinggal di Indonesia, tapi untuk saat ini, ibunya dan ayahnya sedang ada di London, karena tadi orang tuanya pergi untuk menghadiri pernikahan anak dari temannya. Arga langsung melihat jam tangannya lagi, ternyata baru sekitar 8 menit, ia langsung berdecik kesal
" Kenapa sepertinya sudah lama, kenapa aku merasa sudah 3 jam di luar kamar, tapi ternyata baru sekitar 8 menit."
Asisten rumah tangga yang mendengar pembicaraan tuan mudanya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tau, kalau tuan mudanya sangat kuatir pada Gadis yang di bawanya. Setelah sekitar 47 menit, dokter itu langsung keluar dari kamar Arga, hingga ia sampai di pintu. Arga yang melihat dokter itu, langsung menyuruhnya untuk duduk di sofa depan kamarnya
" Silahkan duduk dok."
" Iya tuan muda."
Dokter itu dan Arga langsung duduk. Arga langsung bertanya pada dokter itu tentang keadaan Jenni
" Dokter, bagaimana keadaan Jenni?"
" Luka di kepala nona Jenni lumayan parah, tadi sampai 14 jahitan, dan kemungkinan besar, nona Jenni tidak akan sadarkan diri untuk beberapa hari, luka nona Jenni juga tidak di bagian kepala saja, tapi tubuh nona Jenni juga terluka, dan tuan muda harus memanggil dokter Calista, untuk mengecek seluruh tubuh nona Jenni."
Dokter itu, mengatakan itu karena ia tidak berani untuk memeriksa tubuh pasien, bukan apa-apa, keluarga Argantara tidak memperbolehkan mengobati bagian di tubuh wanita, jadi dokter itu tidak ingin mengambil resiko, walaupun keadaan tubuh pasien tadi sangat terluka parah, tapi ia lebih memilih memberitahu terlebih dahulu, agar ia tidak memiliki masalah dengan keluarga Argantara. Arga yang mendengar penjelasan dari dokter itu, ia merasa dadanya tertindih batu besar, dadanya sangat sakit, dan sulit untuk bernafas, tapi ia mencoba untuk tegar
" Baiklah, saya akan menghubungi dokter Calista, terimakasih atas penjelasannya."
__ADS_1
" Sama-sama tuan muda, kalau begitu saya permisi dulu tuan muda."
" Iya, silahkan."
Dokter itu langsung berdiri, lalu langsung pergi dari situ, di antara oleh asisten rumah tangga hingga di depan pintu luar. Arga langsung mengambil ponselnya, lalu langsung menghubungi asisten ibunya, setelah di angkat, ia langsung berbicara lebih dulu
" Leo, tolong kau hubungi dokter Calista sekarang juga, dan cepat suruh ke rumah, kalau sudah datang, kau langsung suruh masuk ke dalam kamar saya."
" Baik tuan muda."
Arga langsung memutuskan sambungan telponnya, ia langsung memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana, setelah itu ia langsung meremas rambutnya dengan kasar, ia benar-benar sangat menyesal, tapi ia sedikit heran dengan bawahannya, jelas-jelas bawahannya itu terluka parah, tapi tadi bawahnya masih bisa tersenyum dan masih bisa mengatakan ia cengeng
" Jenni, kau memang Gadis aneh, kau terluka parah, tapi kau masih bisa tersenyum, masih bisa mengatakan aku pria cengeng, seolah-olah lukamu seperti tidak parah, aku tau, seluruh tubuhmu berlumur dengan darah, tapi saat melihatmu tersenyum, aku tidak sekuatir itu, aku pikir lukamu tidak parah, maafkan aku Jenni, yang bisa aku ucapkan hanya kata maaf padamu." batin Arga
" Jenni, kau harus bertahan, andaikan nyawa bisa di tukar, biarkan aku yang mengalaminya Jen, aku tidak ingin melihatmu seperti ini, kau tau, saat aku mendengar Erick kehilangan jejakmu, aku sangat kuatir, hingga aku menangis, dan kau tau, ini pertama kalinya lagi aku menangis, aku juga tidak tau, kenapa aku menjadi cengeng lagi."
Arga juga tidak tau, kenpa ia menjadi cengeng, bahkan saat mendengar Lisa masuk rumah sakit, ia sangat kuatir, tapi kuatir itu sangat berbeda, tidak seperti kuatir terhadap bawahannya, bahkan ia langsung menangis, saat mendengar Erick kehilangan jejak bawahannya, membuat ia juga sedikit bingung, kuatirnya ia itu sepertinya tidak wajar, tidak biasanya ia kuatir pada orang lain seperti itu. Tangan kiri Arga mengusap lembut pucuk kepala bawahannya, sambil terus menangis, bahkan matanya sudah sangat merah. Jika ada yang melihat ia pun sudah bisa di menebak, kalau ia habis nangis. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu
Tok-tok
Arga yang mendengar ketukan pintu, ia langsung menghapus air matanya, lalu langsung menyuruhnya untuk masuk
" Masuk."
__ADS_1
Leo yang mendengar teriakkan dari tuan mudanya, untuk menyuruh ia masuk, ia langsung masuk bersama dokter Calista, hingga mereka sampai di belakangnya. Leo langsung menyapa tuan mudanya sambil membungkukkan badan
" Selamat sore tuan muda, dokter Calista sudah datang."
" Iya, kau boleh pergi."
" Baik tuan muda."
Leo langsung membungkukkan badan pada tuan mudanya, lalu ia langsung pergi dari kamar tuan mudanya. Arga langsung melepaskan tangan bawahannya, lalu ia langsung berdiri, setelah itu ia langsung melihat ke arah dokter Calista, lalu langsung berbicara pada dokter Calista
" Dokter, tolong selamatkan Jenni, lakukan yang terbaik untuknya, dan periksa seluruh tubuhnya, saya takut ada luka-luka lain di tubuhnya."
Calista yang mendengar penjelasan dari Arga, dan melihat mata Arga merah, ia tau kalau Arga habis menangis, membuat Calista penasaran dengan status Gadis yang terbaring di atas ranjang Arga
" Siapa sebenarnya Gadis itu." batin Calista
Setelah itu, Calista langsung menjawab penjelasan dari Arga
" Baik tuan muda."
Sebelum keluar kamar, Arga mengelus lembut pucuk kepala bawahannya sambil berbicara
" Kau harus bertahan Jenni."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Arga langsung berjalan keluar kamarnya, hingga ia sampai di depan kameranya. Seperti biasa, Arga mondar-mandir di depan pintu kamarnya dengan perasaan kuatir, bahkan air mata yang ia hapus tadi, saat ada dokter Calista, sekarang sudah mengalir lagi, ia bukan hanya merasa bersalah, tapi perasaannya terhadap Jenni memang sangat berbeda, tapi ia juga tidak tau perasaan apa