
Pagi hari Intan sudah ada di gedung Haivel, ia duduk di tempat meja rias bersama orang yang sedang membantunya menggunakan mekup. Intan memandang wajahnya di cermin dengan tatapan yang sedih, bahkan mata Intan hingga sembab akibat terus saja menangis, bahkan tukang mekup saja sangat susah merias wajah Intan, karena Intan terus saja menangis, ia semalam sudah memikirkan untuk kabur sendiri, tapi ia berpikir lagi, Yoga saja menerima perjodohan itu, kenapa ia tidak, untuk itu ia tidak jadi kabur, tapi air matanya terus saja mengalir di pipinya. Tukang mekup yang dari tadi tidak membuka suara, ia pun memutuskan bertanya, kenapa terus saja menangis
" Nona, kenapa terus saja menangis?, bukan'kah harusnya nona bahagia karena akan menikah."
Intan yang mendapat pertanyaan dari tukang mekup itu, ia pun menjawab dengan jujur
" Mungkin kebanyakan orang menikah akan bahagia, tapi tidak seperti aku, aku tidak bahagia sama sekali, karena aku menikah tidak dengan orang yang aku cintai, bahkan rupanya saja aku tidak tau."
Tukang mekup yang mendengar cerita dari Intan, ia hanya menghela nafas panjang, ia sangat kasihan, ia memang sudah sering menemukan calon pengantin yang seperti ini, yang selalu di jodohkan oleh orang tuanya, dan kebanyakan karena ingin menyatukan perusahaan mereka, lalu ia pun berbicara lagi
" Nona yang sabar, mungkin pria pilihan orang tua nona adalah yang terbaik buat nona, kita berdo'a saja semoga pria itu orang yang sangat baik pada nona, dan bisa membuat nona bahagia, nona tidak perlu sedih berlarut-larut, semuanya terjadi karena sudah takdir."
" Terimakasih, kau sudah menasehatiku, semoga saja pria itu sangat baik."
Setelah mendengar kata takdir, Intan langsung menghapus air matanya, ia pun akhirnya berpikir tentang takdir
" Apa aku dan Yoga berpisah karena sudah takdir kita yang tidak bisa bersama, kalau Yoga memang bukan takdirku, aku berharap Yoga bisa bahagia dengan pilihan ayahnya, dan aku juga bisa bahagia dengan pria yang aku nikahi." batin Intan
Intan terus saja berpikir tentang hal itu, air mata yang tadi mengalir deras, perlahan mulai hilang, ia mencoba akan menerima perjodohan itu, walaupun dihatinya tidak bisa menerima itu, tapi kata tukang mekup itu, semuanya sudah takdir, lalu ia langsung berpikir lagi tentang kata takdirnya
" Kalau memang sekarang aku tidak bisa bersama, aku berharap suatu saat nanti takdir percintaanku bersama Yoga, bisa bersama." batin Intan
Intan terus saja berpikir. Tiba-tiba ponsel Intan bergetar
__ADS_1
Dreet....dreet...
Intan yang mendengar getaran ponselnya ia langsung melihat ponselnya, ternyata yang menelpon itu adalah Yoga, lalu ia memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dulu sebelum mengangkat telpon darinya
" Aku akan ke kamar mandi dulu."
" Baik nona."
Intan langsung berjalan ke dalam kamar mandi hingga ia sampai di dalam kamar mandi, lalu ia langsung mengangkat telpon dari Yoga, setelah itu ia berbicara lebih dulu
" Hallo, ada apa Yoga?"
" Intan, ayo kita kabur, aku tidak ingin berpisah denganmu, aku sepanjang malam terus saja memikirkanmu, setelah kita kabur, kita nanti menikah."
" Aku minta maaf Yoga, aku tidak bisa kabur denganmu, aku akan menikahi pria pilihan mamah."
" Intan, aku mohon beri aku kesempatan, aku tau kemarin tidak ingin kabur, tapi sekarang aku tidak ingin berpisah denganmu, ayolah Intan, kita tidak punya banyak waktu, aku tidak bisa berpura-pura mencintai Karina, karena hatiku hanya untukmu."
" Yoga, kau harus berpikir dengan jernih, semua tamu sebentar lagi akan datang, dan mungkin ada beberapa orang juga yang sudah datang, aku tidak bisa membuat mamah malu, aku akan turuti keinginan mamah, sekali lagi aku minta maaf Yoga."
" Aku mohon Intan, aku hanya mencintaimu, aku tidak ingin menikah dengan wanita manapun selain bukan dirimu."
" Yoga, seharusnya kau katakan itu kemarin, bukan sekarang, sekarang tidak ada gunanya kita kabur, kau harus ingat, Karina memiliki penyakit jantung, kau tidak boleh menyakitinya, kau harus menikah dengannya, mungkin kita memang tidak berjodoh Yoga, jadi kau jangan pernah mengajak aku untuk kabur."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Intan langsung meneteskan air mata, seandainya Yoga menerima tawarannya kemarin, ia sekarang tidak akan jadi menikah dengan pria yang tidak di kenal, tapi karena Yoga menolak, mau tidak mau ia harus menikah dengan pria pilihan ibunya, lalu ia menunggu Yoga berbicara lagi
" Intan, kau adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta, dan memperjuangkan cinta, aku mohon, tolong kau beri aku kesempatan untuk memperbaiki sikapku kemarin."
" Yoga, tolong kau hargai keputusanku, aku juga mencintaimu, dan akan tetap mencintai, tapi aku juga tidak bisa membuat orang tuaku sedih dan malu olehku."
" Apa kau yakin tidak menyesalinya Intan?, apa kau akan melayani suamimu sepenuh hatimu?"
" Aku tidak tau akan melayani suamiku atau tidak, dan aku juga tidak tau, aku akan menyesalinya atau tidak, tapi yang jelas aku tidak bisa memenuhi keinginanmu."
Intan juga sebenarnya sangat ingin kabur, tapi ia tidak bisa melihat orang tuanya sedih dan malu, untuk itu ia tidak ingin kabur lagi karena sisa waktu yang di miliki tinggal 3 jam lagi. Intan yang tidak mendengar suara Yoga lagi, ia pun memanggilnya
" Yoga."
" Iya Intan."
" Kau tidak perlu sedih, mungkin semua itu sudah takdir, aku hanya berharap takdir berpihak padaku dan bisa membuat kita bersama. Yoga, kau adalah pria yang bisa mengubah hidupku, kau adalah pria yang menyayangiku apa adanya, aku tidak akan pernah melupakanmu, semoga kita bisa bersama suatu saat nanti. Aku minta kau jangan pernah melupakan aku, kalau kau sudah bisa mencintai Karina nanti, tolong kau katakan."
" Intan, kenapa kau mengatakan itu, kenapa kau tidak mau kabur denganku, kau masih mengatakan berharap kita bisa bersama, itu tidak mungkin, kita tidak akan bisa bersama kalau memang kita tidak kabur sekarang, karena setelah mengucapkan kata janji dengan nama Tuhan, itu artinya aku sudah memiliki tanggung jawab untuknya, maafkan aku Intan, kalau setelah menikahinya, aku tidak bisa menceraikannya, pranikah itu bukan untuk permainan, kalau memang tidak bisa kabur dan kau memilih menikah, semoga pria yang kau nikahi pria baik, selamat tinggal."
Setelah mengatakan itu, Yoga langsung memutuskan sambungan telpon, tanpa memberi kesempatan untuk Intan berbicara lagi, Intan yang mendengar ucapan Yoga, lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, ia langsung terduduk sambil menyadarkan kepalanya di pintu, lalu langsung menangis
" Hiks...hiks...Aku minta maaf Yoga, tidak bisa memenuhi keinginanmu, tapi aku tidak pernah berharap kalau kau akan mengatakan tidak akan pernah bercerai, itu sama saja kau yang sangat menerima perjodohan itu, hiks...hiks.."
__ADS_1
Intan terus saja menangis hingga tersedu-sedu