
...*Maaf ya guys, kalau besok-besok kalian melihat judul novel ini berbeda. Soalnya author lagi pengajuan ganti judul sama perbaikan sedikit cover novelnya supaya tidak terlalu berat. Jadi jangan bingung ya, dan jangan lupa berikan dukingan sebanyak-banyaknya biar author lebih semangat lagi. Terimakasih.*...
...🌟...
...🌟...
"Jadi begini ceritanya, Tante."
Pagi hari pukul 7. Naila di antar oleh Ayahnya ke sekolahan yang baru, sebab Naila dan keluarganya baru saja pindah dari kota A ke kota B, 2 bulan yang lalu.
Harusnya saat ini Naila sedang berinteraksi dengan teman baru di kelasnya sambil mengikuti pelajaran. Akan tetapi, saat Ayahnya pergi diam-diam Naila pun keluar dari sekolahnya dan tidak jadi mengikut pelajaran pertamanya.
Dia malah memilih segera mengikuti Ayahnya dengan cara menyetop taksi. Lalu menyuruh sang supir untuk terus membuntuti Ayahnya dari jarak yang tidak terlalu dekat.
Naila sangat tahu jika Ayahnya akan pergi ke rumah sakit, maka dari itu Naila terus mengikutinya karena dia belum terlalu hapal dengan jalan di kota ini.
Naila kabur dari sekolah, bukan berarti dia merupakan anak yang nakal. Melainkan dia anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya, maka dari itu Naila sudah meminta pada Ayahnya agar dia bisa menemani Bundanya yang ada di rumah sakit.
Namun, Ayahnya bersikeras menolak itu. Dari situlah Naila nekat tidak masuk sekolah, demi bisa menemani Bundanya di rumah sakit.
"Taraaa ... Bunda, Naila cantik dan imut yang super duper menggemaskan telah datang. Aaa ... Naila kangen banget sama Bunda!"
Naila masuk ke dalam kamar rawat Bundanya dengan ekspresi yang sangat bahagia. Hampir 2 hari dia tidak bertemu Bundanya, sekarang telah berhasil memeluknya sangat erat.
"Aduh, Sayang. Bukannya Ayah sudah mengantarmu ke sekolah, terus kenapa kamu ada di sini?" ucap Bundanya yang cukup terkejut saat anaknya memeluk dirinya.
__ADS_1
"Hehe ... Habisnya Naila sudah bilang sama Ayah. Kalau Naila mau sekolah, di saat Bunda sudah sehat dan pulang lagi ke rumah. Bukan malah--"
"Apa, hem? Apa! Jauh-jauh Ayah nganterin kamu ke sekolah, bahkan susah payah Ayah mendaftarkan kamu masuk ke sekolah elite itu. Nyatanya kamu malah bolos di hari pertama, dasar anak menyebalkan!"
Wajah Ayah Naila langsung berubah menjadi sangat marah, semua ini bukan berarti dia tidak menyangi Naila. Hanya saja, dia sedikit kecewa. Jelas-jelas dia sudah menasihati Naila berulang kali, kalau sekolah itu lebih penting dari pada menjenguk Bundanya yang sakit karena kelelahan.
Naila malah membantah semua itu. Sebab, bagi Naila Ayah dan Bundanya adalah segalanya untuknya dari apapun. Kedua orang tuanya sangat bangga ketika memiliki anak seperti Naila, mereka tidak menyangka sebesar itu rasa sayang Naila kepadanya.
Naila yang masih mencurahkan rasa rindunya pada sang Bunda langsung dia tarik perlahan oleh Ayahnya.
"Lepaskan istriku! Pokoknya hari ini kamu harus tetap sekolah. Paham!"
"Ayahku yang baik dan tidak sombong, Naila mau di sini nemenin Bunda. Titik! Jadi Ayah--"
"Baiklah, jika kamu tetap memilih untuk berada di sini, maka berikan ponselmu pada Ayah. Sekarang!"
"Isshh, Ayah. Pokoknya Naila tidak mau pergi dari Bunda, dan juga Naila tidak mau kasih ponsel ini. Wleeee ...."
"Hyaaak, dasar anak nakal!"
"Huaaa ... Bunda, tolongin Naila. Ayah jahat banget, sumpah! Masa ponsel Naila mau ambil sih. Nanti kalau Naila ketinggalan berita tentang Oppa, gimana? Bisa-bisa Naila di anggap sebagai fans gadungan. Huaa, tidak, tidak, tidak! Pokoknya tidak mau!"
Naila berlari kesana-kemari untuk menghindari Ayahnya yang terus mengejarnya. Sementara Bundanya hanya bisa menepuk dahinya sendiri, sebab ini bukan yang pertama bagi mereka bertingkah layaknya musuh.
Sampai akhirnya Naila pergi ke luar kamar Bundanya dan berlari menelusuri setiap lorong. Kini, napas Ayahnya mulai sedikit tersendat-sendat membuat dia berhenti sejenak. Kemudian kembali mengejar Naila sampai-sampai meminta pertolong pada beberapa suster untuk membantunya menangkap Naila.
__ADS_1
Meskipun Naila terbilang polos dan juga tubuhnya yang sedikit menggemaskan, masalah berlari dia memang jagonya. Sampai beberapa suster kesulitan menangkap Naila, akibat tubuhnya yang lincah bagaikan seekor belut.
Pada akhirnya Naila melihat Ayahnya tertinggal cukup jauh, langsung masuk ke ruangan Naku tanpa permisi. Dia segera naik ke atas bangkar serta meminta tolong pada Naku, agar mengizinkannya untuk bersembunyi di dalam selimutnya.
Awalnya Naku ingin bersembunyi di kamar mandi ataupun lemari, hanya saja pasti Ayahnya akan mudah menemui keberadaannya. Jadi mau tidak mau, Naila nekat melakukan itu demi menyelamatkan dirinya dan juga ponselnya.
Sementara Ayahnya yang tidak menemukan Naila dimana-mana, baik di setiap ruangan maupun di ruangan Naku segera kembali ke kamar istrinya dalam keadaan wajah begitu kelelahan penuh keringat dan juga napas yang tidak beraturan.
Setelah sampai di kamar rawat istrinya, Ayahnya langsung meminum minuman istrinya sampai habis tidak tersisa sedikit pun.
Disitu istrinya hanya bisa terkekeh melihat wajah suaminya yang kucel, padahal dia harus pergi ke kantor beberapa jam lagi.
Namun, saat menyaksikan kondisinya seperti itu suaminya memutuskan untuk libur masuk kantor dan sedikit menyandar di bangkar istrinya sambil duduk di kursi tunggal.
Tidak lupa tangan istrinya mengusap kepala suaminya penuh cinta, kemudian dia mulai menasihatinya agar tidak terlalu keras untuk mendidik anaknya. Mau bagaimana pun Naila, dia adalah anak yang baik yang begitu menyayangi kedua orang tuanya melebihi apapun.
Suaminya menganggukan kepalanya, dia juga tidak ingin seperti ini. Akan tetapi apa daya, dia hanya ingin Naila tumbuh menjadi anak yang mandiri dan juga berprestasi.
Ya, mungkin caranya saja yang sedikit terlihat kasar, tetapi di balik itu semua rasa sayang kedua orang tuanya, lebih besar dari rasa sayang Naila kepadanya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung