
Sesampainya di ruang makan, Naila disambut hangat oleh Vivi dengan pelukan. Vivi benar-benar memanjakan Naila seperti anak kecil, meski usianya sudah terbilang cukup dewasa. Vivi seperti itu bukan berarti dia membuat Naila supaya tumbuh menjadi anak manja, melainkan dia hanya tidak ingin kedua anaknya memiliki rasa iri yang berujung dendam.
Meakipun Naila diperlakukan seperti anak kecil, Naila tetap tumbuh menjadi anak mandiri yang tidak selalu bergantung pda kedua orang tua.
"Hai, Sayang. Udah dong, jangan sedih lagi, sini-sini peluk Bunda!"
Naila memeluk Vivi dari arah samping dengan wajah yang masih cemberut. Vivi menyandarkan pipinya di atas kepala Naila, lalu menciumnya sesekali.
"Naila sedih Ade sakit, pasti gara-gara Naila ajak main terus ya, Bun?" tanya Naila, mendongak ke atas menatap sang bunda.
"Enggak kok, Sayang. Ade lagi dalam masa pertumbuhan, lagi pula tadi Bunda udah ke dokter katanya Ade cuman sakit karena mau numbuh gigi. Jadi, wajar kalau dia sering rewel, badan panas. Nanti kalau giginya udah mulai kelihatan pasti bakalan sehat lagi."
"Serius, Bun?" Naila melepaskan pelukan Vivi, lalu mentapnya dengan intens. "Berarti bentar lagi Ade bisa makan daging dong? Wah, Naila seneng dengernya. Jadi, nanti Naila bisa makan bareng sama Ade pakai nasi goreng, ayam goreng, dag---"
"Husss, enak aja. Kamu kira gigi Ademu sekali tumbuh langsung sepaket, gitu? Mana ada, paling juga satu-satu itu pun makannya masih bubur bayi. Nanti kalau udah ada giginya empat atau lebih, baru bisa makan daging yang lembut, gak langsung numbuh gigi makan daging seperti khayalanmu itu. Dasar aneh!
Naila tertawa geli saat melihat reaksi wajah Vivi yang terkejut. Sebagai permintaan maaf, Naila kembali memeluknya sekilas. Lalu, mereka duduk bersama di kursi masing-masing untuk makan siang.
Vivi mengambilkan makanan ke atas piring sang anak, baru mengambil untuknya sendiri. Mereka makan dengan menu nasi goreng dan lauk udang goreng crispy. Meskipun Vivi sudah makan, tetap saja dia menemani Naila makan meski hanya sedikit.
Melihat Naila kembali bersemangat, membuat Vivi merasa senang. Dia tidak menyangka sesayang itu Naila terhadap adiknya sendiri, padahal usia mereka terpaut sangat jauh yaitu kurang lebih 15 tahun lebih.
__ADS_1
Namun, tidak membuat Naila merasa tersaingi karena Vivi dan Leon selalu membagi kasih sayang secara adil. Ya, walaupun mereka lebih sibuk dengan si kecil tetap saja Naila berusaha untuk mengerti tentang kondisi sang adik yang belum bisa melakukan semua sendiri seperti dirinya.
15 menit berlalu, mereka sudah selesai makan siang Naila dan Vivi langsung bergegas pergi ke arah kamar untuk melihat si kecil yang masih tertidur pulas.
Tangan Naila langsung mengusap wajah sang adik penuh kasih sayang dari dalam box bayi. Sediki sedih, tetapi tidak apa-apa yang penting sang adik tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Kurang lebih 10 menit Naila duduk di kursi rias yang dia tarik supaya bisa terus mengelus pipi sang adik. Sayangnya, tidak lama dari itu sang adik kembali menangis membuat Vivi segera menenangkan.
Ayunan di dalam pelukan Vivi menjadi salah satu cara untuk bisa menenangkan si kecil, tidak lupa Vivi juga memberikan walau hanya sedikit demi sedikit bisa masuk ke dalam tubuh sang anak.
"Bun, Naila bobo siang di sini sama Ade, ya? Bunda jangan taruh Ade di box, tapi di kasur aja Naila jagain sambil tidur. Please!"
Naila berdiri memoho dihadapan Vivi yang lagi menggendong sambil menyusui sang anak. Vivi tersenyum menganggukan kepalanya pertanda kalau permintaan Naila telah disetujui.
"Oke ...."
Dengan wajah senang, Naila langsung naik ke atas kasur Vivi sambil menyentel televisi dengan suara kecil agar tidak mengganggu sang adik. Selepas tertidur, sang adik di letakkan di atas kasur dengan kedua sisi diberikan guling kecil untuk menjaganya.
Tidak henti-hentinya Naila menciumi pipi mulus sang adik dengan sangat lembut tanpa menganggu jam tidurnya yang kurang beraturan. Vivi juga ikut merebahkan tubuhnya di sisi lain sesekali memainkan ponselnya untuk membalas pesan singkat dari suami tercinta.
Lama kelamaan, Naila mulai mengantuk. Mata Naila sudah terpejam begitu saja tepat di samping sang adik. Wajah polos anak-anak ketika tertidur, tidak lepas dari kamera Vivi. Dia memotret momen tersebut untuk diberikan pada Leon, di mana Leon tersenyum di sela-sela meeting pembahasan satu proyek.
__ADS_1
Rasa lelah yang tadi sudah mulai terasa, kini hilang begitu saja ketika Leon melihat wajah kedua anaknya yang sangat akur. Rasa sayang Naila terhadap sang adik memang tidak bisa diragukan oleh Leon, tetapi satu perasaan mengganjal di dalam hati. Apakah semua kehangatan ini akan tetap bertahan selamanya, ataukah suatu saat nanti akan terpecah seperti mimpi buruk yang selalu Vivi rasakan?
Itulah yang beberapa kali sempat Leon pikirkan. Dia memang tidak menunjukkan kecemasan itu di depan Vivi karena tidak ingin menambah rasa gelisah di hatinya. Lebih baik Leon telan semua sendiri sambil menjaga kebahagiaan keluarga kecilnya tersebut.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Jam terus berjalan, hingga hanya menyisakan beberapa jam dari waktu yang sudah Joey berikan kepada kedua orang tuanya. Ragil dan Rani benar-benar pusing, mereka tidak tahu harus mengambil keputusan apa untuk mempertahankan sang anak agar tetap bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, berarti hanya tersisa kurang lebih 3 jam lagi. Mereka masih terlihat gelisah, selesai bersih-bersih setelah pulang kerja Ragil dan Rani langsung berbicara penuh keseriusan. Tatapan mata keduanya tidak lagi dipenuhi oleh keegoisan seperti bisa, sebab hari ini adalah hari di mana mereka akan menentukan pilihan terbaik.
Sementara Joey, berdiam diri di dalam kamar selepas pulang sekolah. Joey merasa tidak tenang karena sampai detik ini kedua orang tuanya tidak ada satu pun yang menemui Joey di kamar untuk membahas jawaban yang sudah dipilih.
Berbagai cara Joey lakukan demi membuat detak jantungnya kembali tenang, tetapi tetap saja. Semakin berputarnya jarum jam, semakin napas Joey mulai tidak beraturan. Tinggal 1 jam lagi Joey akan mendapatkan keputusan dari kedua orang tuanya, apakah dia akan tetap berada di dekat mereka atau menjauh sejauh-jauhnya.
"Kenapa perasaanku tidak karuan begini sih, lagian juga ngapain aku khawatir. Paling juga mereka tetap masih egois, enggak ada yang mau ngalah. Jika pun ada yang ngalah, pasti itu Papih tidak mungkin Mamih. Tahu sendiri bagaimana ambisinya Mamih saat dia mendapatkan jabatan baru, berasa dia yang jadi pemilik Perusahaan. Sementara Papih punya Perusahaan sendiri, tetap saja bekerja kaya bawahan yang harus giat tanpa kenal waktu. Dasar orang tua aneh!"
"Dahlah, lebih baik aku tidur saja. Percuma juga nungguin mereka, paling mereka lupa dengan semuanya. Dari pada kepalaku semakin pusing, lebih baik aku istira----"
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...