
Rio berdiri menunggu kabar tentang Becca yang masih dalam penanganan sang dokter. Beberapa kali Rio duduk, berdiri, lalu jalan kesana-kemari bagaikan orang yang gelisah karema istrinya melahirkan.
Sikap seperti itu menunjukkan bahwa Rio sangat takut akan kehilangan Becca, dia terlihat tidak tenang saat Becca berada di dalam ruangan seorang diri.
"Kamu harus bertahan, Ca. Pokoknya harus! Aku tidak mau kehilanganmu, aku mau kita sama-sama terus. Tidak masalah kalau aku hanya bisa menjadi sahabatmu, asalkan aku bisa selalu bersamamu sampai kapan pun!"
"Kasihan Naku, Ca. Dia sangat menyesalin semua perbuatannya, Naku juga sangat ingin kamu kembali supaya dia bisa meminta maaf atas semua kesalahannya. Intinya kamu harus sehat, titik!"
Rio mengoceh tanpa henti di hatinya dalam kondisi kaki terus berjalan sambil menggigiti jarinya. Wajah cemas mulai menyelimutinya, begitu juga hati.
Rio mulai merasakan getaran yang cukup kencang di dalam hatinya, ketika dia begitu mengkhawatirkan kondisi Becca setelah tenggelam di laut.
Tidak lama, pintu UGD terbuka bersamaan munculnya sang dokter. Rio yang menyadari itu, langsung berlari di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.
"Dok, bagaimana kondisinya? Apakah dia baik-baik aja? Soalnya 1 jam yang lalu dia sempat tenggelam, kemudian saya segera membawanya ke rumah sakit. Tadi sih tidak apa-apa, setelah itu pingsan dan saya tidak tahu lagi," jelas Rio, membuat sang dokter tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Baiklah\, saya mengerti sekarang Tuan. Soalnya ketika saya periksa\, di dalam tubuh pasien terdapat air dengan kandungan garam yang cukup tinggi. Sehingga tekanan da*rah pasien lumayan tinggi\, dari pada tekanan normal umumnya. Tuan tenang saja\, saat beberapa hari pasien di rawat maka sudah paati akan seger kembali pulih. Mungkin\, akibat tekanan da*rah yang tiba-tiba tinggi membuat pasien langsung jatuh pingsan\," jawab sang dokter tersenyum kecil.
"Syukulah, itu artinya dia baik-baik aja 'kan, Dok? Tidak sampai ada penyakit yang berbahaya di dala tubuhnya?" tanya Rio, berulang kali untuk meykinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak ada\, Tuan. Semua baik-baik saja\, hanya tekanan da*rah saja yang tinggi. Untungnya itu hanya sisa air saja\, kalau masih ada air laut yang di konsumsi secara berlebihan tanpa di sengaja pun itu bisa menyebabkan tekanan da*rah meninggi hingga menyebabkan penyakit jantung\, atau stoke\," sahut sang dokter\, membuat Rio sedikit merasa lega.
"Akhhh ... Syukulah, saya jadi lega. Untung tadi saya sempat memberikan napas buatan untuk membantu Becca tersadar, supaya air yang di komsumsi bisa keluar lebih dulu. Beberapa kali saya coba pompa dada dan perutnya tidak mempan, Dok. Ketika saya berikan napas buatan barulah dia bereaksi lalu btuh sambil mengeluarkan air yang telah terminum sebelum dia pingsan."
"Itu bagus, Tuan. Pertolongan pertama memang sangat di butuhkan, jika tadi Tuan terlambat kemungkinan pasien akan mengalami gangguan di jantungnya akibat air yang di minum berhasil menghambat kinerja jantung secara normal."
Rasanya Rio benar-benar sangat lega, sebab dia telah berhasil menyelamatkan Becca dari bahaya yang hampir merenggut nyawanya.
Penjelasan dari dokter pun membuat Rio malah semakin bersemangat untuk menjaga Becca. Dokter kira, Becca adalah istri Rio karena wajahnya terlihat begitu mengkhawatirkan.
Wajah Rio tidak henti-hentinya terus memerah akibat rasa malu yang tidak sudah-sudah. Sang dokter hanya bisa terkekeh, ketika mendengar penjelasan dari Rio tentang siapa Becca.
Selepas memberikan kabar mengenai kondisi Becca, sag dokter pun pergi bersama asistennya. Tidak lupa Rio segera menemui Becca di dalam dengan bantuan suster yang berjaga di dalam, sambil mengurus perpindahan kamar Becca.
Melihat Becca terbaring lemah membuat Rio tidak kuat, hatinya begitu sedih melihat orang yang di cintai bisa jatuh sakit seperti ini.
Tanpa di sengaja tangan Rio menggenggam serta mengusap pipi Becca secra perlahan dalam bentuk kasih sayangnya.
Becca membuka matanya dan langsung menatap manik mata Rio tanpa bisa mengalihkannya. Wajah Rio serta Becca begitu dekat karena Rio sedikit membungkukkan badannya untuk bisa mengusap pipi serta kepala Becca sesekali tangan satunya mengelus tngan Becca.
__ADS_1
"Cepat sehat ya, Ca. Aku tidak ingin melihatmu sakit seperti ini, jika ada masalah hatusnya kamu lari ke aku bukan ketempat yang berbahaya. Seandaikan aku telat atau tidak datang, bagaimana nasibmu? Apakah kamu akan selamat atau kamu pulang hanya tinggal nama?"
"Itu yang sangat-sangat aku takutkan, karena aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya. Jadi, aku mohon padamu. Janganlah bertingkah konyol yang bisa membahayakanmu nyawamu sendiri!"
"Aku lebih suka kamu lari padaku, cerita padaku atau pun marahin aku apa bila kamu sedang kesal sama seseorang. Dari pada harus lari ke tempat yang kamu sendiri tidak bisa menjamin tentang keselamatan hidupmu!"
"Intinya, cukup ini yang terakhir. Aku tidak mau lagi mendengar atau melihatmu berbuat yang tanpa kau sadari itu adalah berbahaya. Paham?"
Becca hanya bisa menganggukan kepalanya ketika telinganya mendengar kata-kata yang sangat menyentuh hatinya.
Perhatian yang tidak sengaja keluar dari dalam diri Rio, membuat Becca terkejut. Akan tetapi, Becca bukannya marah karena sikap Rio yang mulai tidak sopan memegang tangan serta wajahnya. Kini, malah membuatnya merasa terbang ke atas langit. Hatinya yang menyimpan segudang luka, seketika menjadi taman bunga yang sangat indah.
Entah perasaan apa yang sedang Becca rasakan, terpenting Becca hanya bisa berharap jika perhatian yang berasal dari hati Rio tidak sampai berlalu atau pun menghilang.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung