
Namanya juga Yola, kalau bukan iseng ya bukan Yola. Mumpung dia menemukan sesuatu yang berhasil membuat Naku terlihat kesal. Siapa suruh Naku cuek, bagian adiknya mendapatkan perhatian dari pria lain baru dia menjadi ketar-ketir untuk mencegahnya.
"Apaan sih, gatel banget jadi cewek! Lepasin tangannya enggak, atau aku bilangin sama Mommy!" ucap Naku, mengancam Yola. Dia berusaha untuk melepaskan tangan Yola yang menempel lekat di tangan pria lain.
"Bilang aja sana, nanti aku bilang balik. Kalau kakak tidak membantuku malah membiarkanku kesulitan, gimana? Paling juga kakak yang kena omel Buma, wleee ...."
Naku terdiam sejenak mencerna jawaban dari Yola yang memang benar adanya. Apapun yang Naku adukan, selalu saja terkesan kalau dirinya yang belum bisa menjadi seorang kakak.
Maklum saja, seorang kakak pasti akan selalu salah di mata ibunya karena hanya bisa membuat adiknya selalu mengeluh setiap saat. Begitulah Yola, dia sudah menjadi anak kesayangan Becca.
Berbeda sama Rio, dia selalu berusaha tetap bersikap adil apa bila Naku yang salah maka Naku yang di nasihatinya. Jika Yola yang bersalah, dia pula yang akan terkena nasihat olehnya. Jadi, tidak sedikit pun Rio membedakan keduanya. Baginya Naku dan Yola tetaplah anaknya, walau status mereka masih belum resmi.
"Yayaya, aku aja terus yang kena. Mentang-mentang anak kesayanga Mommy!"
"Lagian juga kamu kenapa sih jadi cewek kok gatel banget, ini juga jadi cowok murah banget. Pokoknya aku tidak mau tahu, sekarang lepasin tangan kalian!"
Naku berusaha melepaskan tangan Yola, sayangnya tidak bisa. Yola terus saja merekatkan pelukannya pada lengan Joey, sementara Joey sendiri merasa bingung sama perdebatan kedua saudara yang random ini.
"Aku tidak mau melepaskan Kak Joey, kakak pergi aja sana. Toh, kakak tidak peduli sama aku 'kan! Jadi, buat apa kakak ada di sini. Mendingan kakak main basket lagi sana, aku udah tidak butuh pertolongan kakak. Sekarang udah ada Kak Joey yang bisa membantuku mengambil boneka itu. Huss, huss, sana ...."
__ADS_1
Yola sedikit mendorong tubuh Naku agar menjauhi mereka berdua. Hanya saja, Naku menolak itu semua karena dia tidak rela adiknya dekat-dekat oleh seorang pria selain dirinya.
"Udah, udah ... Jangan pada berantem. Kalian 'kan bersaudara jadi tidak boleh begini. Kasihan orang tua kalian, pasti sedih melihat anaknya pada ribut ter--"
"Berisik, lu! Udah diem aja, mending pergi sono!"
Bentakkan Naku membuat Joey berhenti melerai mereka berdua. Yola yang melihat Naku berulah, langsung kembali membela Joey, agar semakin membuat Naku menjadi panas.
"Udahlah, dari pada kakak marah-marah begini. Lebih baik kakak tunjukkan saja sama aku, kalau kakak bisa mengambil salah satu dari boneka itu. Aku akan ikut kakak, tapi kalau Kak Joey yang bisa mengambilnya kakak harus biarkan aku main bersamanya dan jangan ganggu kami. Deal!"
Tantangan dari Yola membuat Naku dan Joey saling menatap satu sama lain. Rasanya Joey tidak enak jika dia harus melawan kakak dari Yola, tapi tidak ada pilihan lagi. Joey juga ingin memiliki teman bermain, setelah sekian lama dia bermain sendiri di Mall sebesar ini.
"Siap, Kak. Aku akan terima tantangan ini, tapi kalau aku yang menang. Kita berteman ya?"
"Dihh, ogah banget. Temenan aja sono sama yang lain!"
"Astaga, Kak Naku! Bisa enggak sih kalau ngomong itu jangan pakai urat, udah kaya baso aja. Di sini aku yang menjadi wasitnya, jadi kalian harus nurut sama aku. Bukan menentukan semuanya sendiri. Paham!"
"Ckk ... Yayaya, bawel! Udah ayo mulai, tanganku udah gatel banget pengen ambil 3 boneka sekaligus, supaya tuh orang bisa segera pergi!"
__ADS_1
"Nyenyenye ...."
Yola kembali menyibirkan bibirnya ke arah Naku sambil menggoyangkan lehernya seakan meledeknya. Berbeda sama Joey, dia tetap bersikap cool tanpa harus banyak berbicara seperti Naku. Padahal di dalam hatinya, Joey sedang tertawa melihat kelucuan wajah Yola yang meledek sang kakak.
Naku melirik Joey dengan sangat tajam, tetapi Joey menanggapinya penuh senyuman. Setelah itu Naku menatap serta mengarahkan jari berbentuk V ke arah kedua matanya, lalu berbalik mengarahkan ke wajah Joey untuk menantangnya
Kelihatan sekali kesombongan yang ada di dalam diri Naku, sehingga dia begitu percaya diri untuk bisa memenangkan tantangan dari Yola. Padahal, dibalik kekaleman sosok Joey. Dialah suhu di balik semua permainan di sini.
"Lihat aja, sebentar lagi gua akan buktikan sama lu kalau gua jauh lebih jago dari pada lu. Dan gua bisa pastikan, Yola akan kembali berada di pihak gua!" ucap Naku di dalam hatinya, penuh rasa emosi menatap Joey.
"Sepertinya Kak Naku sangat menyayangi Yola, walaupun mereka kayanya bukan saudara kandung. Cuman, di balik sifatnya yang terbilang cuek dia tidak ingin adiknya sampai di sakiti. Apa aku mengalah saja ya, biar dia menang. Mungkin dengan begitu dia tidak akan ketakutan kalau adiknya memihakku. Namun, kalau aku menyerah, aku malah membuat kesombongan di dalam hatinya semakin membesar. Itu 'kan tidak akan baik buat Kak Naku!" ucap Joey di dalam hatinya sambil tersenyum.
Yola melirik ke arah mereka secara bergantian. Yola bisa melihat bila Naku menatap Joey seperti saingannya, sementara Joey menatap Naku bagaikan temannya. Entah mengapa rasanya Yola begitu bahagia, karena baru kali ini dia menjadi rebutan kedua pria sekaligus. Meski, Joey tidak merebutkannya. Akan tetapi, terlihat dari sifat Naku yang mulai posesif terhadapnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...