
Di sebuah Mall yang besar, terdapat sebuah keluarga yang terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Hanya saja masih ada jarak yang membuat mereka tidak bisa terlalu dekat.
Kebahagiaan yang terlihat, selalu bersifat sementara. Dikarenakan, kehidupan mereka yang masih belum sepenuhnya bersatu.
Namun, di balik itu semua. Mereka sudah cukup senang atas cinta kasih yang hadir tanpa paksaan juga tuntutan. Semua murni dari ketulusan yang berasal dari dalam hati.
"Kakak, kita main itu, yuk!" ajak seorang anak kecil, yang sudah beranjak menjadi gadis cantik tiada duanya. Siapa lagi jika bukan Yola, anak kesayangan dari Rio.
"Nantilah, kamu main sendiri aja. Aku lagi main ini!" ucap sang Kakak, Naku.
"Isshh ... Mana bisa aku main itu, beberapa kali aku coba selalu kalah. Makannya aku mau ajak Kakak, siapa tahu aku bisa dapet salah satu dari boneka itu," ucap Yola, wajahnya terlihat sedih.
Perlahan Naku menoleh sambil melemparkan bola basket ke ring, di mana Yola menundukksn wajahnya sambil meminkan jarinya. Merasa tidak tega, akhirnya Naku mengiyakan apa yang Yola inginkan selagi itu bisa membuatnya bahagia.
"Baiklah, tapi tunggu sampai aku selesai. Oke?" ucap Naku, langsung di angguki oleh Yola dengan wajah sumringah.
"Oke, aku bakalan tungguin Kakak. Janji ya, nanti capitin 2 boneka buat aku. Oke?"
Naku menganggukkan kepalanya, lalu kembali menyelesaikan permainannya. Sementara Yola memberikan semangat kepada Naku dengan cara melompat-lompat penuh kegembiraan.
Melihat suasana yang cukup menyejukkan hati, membuat orang tua mereka tersenyum lebar dari arah kejauhan.
"Aku enggak nyangka, Kak. Hubungan Naku dan Yola sudah mulai dekat, tidak seperti waktu pertama kali mereka kenal. Ya, meski selalu ribut masalah sepele. Cuman kalau lagi lihat mereka begini rasanya sweet banget, enggak sih?" tanya Becca, matanya terus menatap mereka dari jarak kurang lebih 3 sampai 5 meter.
__ADS_1
"Mereka memang sweet, lebih sweet lagi Mommynya," jawab Rio tanpa di sadari.
Becca refleks menoleh lalu menatap wajah Rio dengan wajah terkejut, "Ma-maksudnya gimana, Kak? Mo-mommynya?"
Rio langsung menoleh, lantaran dia menyadari ada yang salah pada ucapannya. Di mana sesuatu yang Rio katakan mulai kelepasan dan tidak terkontrol.
"A-akhh, a-apa? O-ohh, i-itu ... Ma-maksudnya mendiang istriku sangat sweet. Jadi, sudah pasti Yola akan tumbuh menjadi gadis yang sweet," jawab Rio, terbata-bata. Kemudian, tersenyum canggung saat rasa gugup mulai menyelimuti hatinya.
"Ohh gitu, aku kira yang sweet itu aku. Ehh, tahunya bukan. Mana udah sempet percaya diri lagi hihi ...." sahut Becca, sedikit menggoda Rio, meskipun di dalam hatinya merasa bersedih.
Rio tidak menyangka, kalau Becca bisa membaca arah ucapannya. Akan tetapi, akibat rasa malu membuat Rio bingung untuk menjawabnya. Jika dia membantah, pasti akan menyakiti Becca.
Namun, bila dia jawab jujur pasti akan membuat jarak di antara mereka menjadi renggang. Apa lagi Rio belum tahu pasti bagaimana perasan Becca saat ini padanya, apakah dia sudah bebas move on dari mantannya atau masih terikat akan masa lalunya.
"Loh, a-ada apa sama Kakak? Apa Kakak lagi sakit?" tanya Becca, khawatir.
"E-enggak, kok. A-aku baik-baik aja," jawab Rio tersenyum.
"Bohong, kalau baik-baik aja terus kenapa dahi Kakak keringetan coba? Padahal di sini pendingin ruangan cukup mengkerutkan kulit," sahut Becca, heran.
"A-aku ti---"
Ucapan Rio langsung terpotong begitu saja, ketika dia syok melihat sifat Becca yang sedikit menegangkan. Tanpa di minta, tangan kosong Becca mengelap air keringat di dahi Rio yang perlahan mulai menetes.
__ADS_1
Mungkin jika wanita yang terlalu menye-menye akan merasa jijik mengelap keringan tanpa tissu, berbeda sama Becca. Tanpa rasa jijik, Becca berusaa mengelap semuanya tanpa tissu dan hanya mengandalkan tangan kosongnya.
Jantung Rio semakin bergejolak, tidak tahu mengapa intinya semakin mereka sering bersama. Semakin kiat perasaan Rio pada Becca, sehingga sulit untuk dikendalikan atau dikontrol.
Setiap kali mereka berdua, perasaan cangung dan juga gemetar selalu tiba-tiba muncul tanpa di undang membuat Rio menjadi salah tingkah. Persis seperti ketika perasaan itu hadir pertama kali, saat Rio tahu bahwa dia telah jatuh cinta pada Becca, adik kelasnya.
"Apa Kakak udah makan?" tanya Becca, lembut.
"Eee ... U-udah, ehh ... Be-belum deh," jawab Rio, tersenyum malu.
"Jadi yang bener, udah apa belum nih?" tanya Becca, memastikannya lagi.
"Belum, lagian aku lagi malas makan. Nanti aja barenga anak-anak," ucap Rio, kembali menatap anak-anak untuk mengalihkan tatapannya dari Becca yang berhasil membuatnya tidak fokus.
"Kalau nunggu anak-anak selesai main, kasihan Kak Rio. Kalau ganggu mereka main, kasihan anak-anak juga. Mending aku cari cemilan dulu deh, biar bisa ganjel perut. Terpenting, Kak Rio tidak sampai kelaperan dan jatuh sakit," gumam Becca di dalam hatinya sambil memperhatikan wajah Rio yang mulai pucat.
Becca berdiri lalu, meminta izin pada Rio untuk ke kamar mandi sebentar. Tidak lupa menitipkan anak-anak pada Rio agar selalu dijaga, supaya tidak menimbulkan pertengkaran.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...