
Selesai makan malam keluarga Naila lamgsung berpamitan kepada keluarga Naku, tak lupa mendoakan Yola agar segera kembali sembuh. Apalagi, setelah dokter mengecek kondisi Yola sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya dan panas yang tadinya 43 derajat celcius sekarang sudah turun menjadi 38 derajat celcius.
Benar bukan? Ternyata sakit yang Yola alami itu semua lantaran gadis itu memendam rasa rindu kepada sang pria, di mana keadaan prianya sedang tidak baik-baik saja.
Selepas perginya keluarga Naila, Becca langsung pergi ke arah kamar sebelah untuk menidurkan Juan yang sedikit rewel. Sementara Rio mengurus pekerjaan kantor sambil mengecek email yang dikirimkan asisten pribadinya di ruang tengah. Jadi, hanya Nakulah yang menjadi sang adik di kamar sambil memainkan ponsel.
[Oppa gimana keadaan Yola, apakah dia sudah bangun?]
Begitulah isi pesan yang dikirim Naila ketika baru saja sampai di rumah. Naku hanya sekedar membaca notif pesan tersebut lantaran pria itu sedang asyik-asyiknya bermain games. Namun, saking geregetnya Naila tidak mendapatkan balasan, gadis itu langsung melakukan panggilan terhadap sang pria di detik-detik kemenangannya.
"Ckk, apaan sih, ini orang ganggu aja sumpah. Udah tahu lagi asyik main malah nelpon, gaje!" ucap Naku kembali meneruskan permainan tanpa memperdulikan notif tersebut.
Tidak ada tanggapan apa-apa, Naila beralih menghubungi Becca dan langsung diangkat. Gadis itu menanyakan tentang keberadaan Naku, kenapa dari tadi dihubungi tidak dibalas, dia pikir sang pria ketiduran. Akan tetapi, ketika Becca mendekati Naku sekalian ingin menemani sang suami dikala Juan sudah tertidur pulas malah dikejutkan oleh sang anak yang sedang asyik bermain games.
Becca menggelengkan kepala melihat kelakuan Naku. Bilang ingin menjaga adiknya, tetapi dia malh asyik sendiri sampai tidak tahu jika di depan pintu kamar Becca sedang berdiri menatap tajam ke arahnya.
"Kakak ...." panggil Becca dengan nada lembut, tetapi tidak disahuti oleh sang anak.
"Kakak." panggil Becca kedua kalinya dengan nada kesal. Sang anak tetap terdiam dan fokus pada games di saat kemenangan tim sudah di depan mata.
"Kakak!" pekik Becca membuat Rio mengusap dada lantaran terkejut mendengar suara istrinya cukup melengking.
"Astaga, By. Kecilkan suaramu, ini sudah malam. Kasihan Juan nanti bangun lagi, kamu yang repot nidurinnya," ucap Rio menoleh ke arah istrinya.
__ADS_1
"Lihatlah, anakmu! Tiga kali aku panggil tetap dia fokus pada gamesnya. Padahal, Naila dari tadi nelpon masa iya, gak ada notif. Apa dia sengaja gak mau mengangkatnya?"
Becca langsung mengeluarkan unek-uneknya di saat panggilan Naila masih tersambung, sehingga gadis itu mendengar jelas apa yang mereka obroli.
"Kakak, dengar Daddy gak! Itu Mommymu manggil, coba dijawab dulu. Jangan bikin Mommymu naik darah terus, dia udah capek ngurus semuanya apa kamu tidak kasihan, hem?Jangan sampai Daddy udah benar-benar marah, Daddy gak akan banyak bicara, tapi Daddy akan sita semua gadgedmu, gimana?"
Naku langsung berdiri, lalu berlari kecil mendekati sang mommy yang sudah memasang wajah kesal menatap anaknya. Sementara itu, Rio menggelengkan kepala dan kembali mengerjakan pekerjaan kantor karena besok akan digunakan sebagai bahan rapat.
"A-ada apa, Mom? Ke-kenapa?" tanya Naku, terbata-bata. Akan tetapi, tangan masih memainkan ponselnya sesekali mata melirik bagaimana caranya dia daoat menyelesaikan games tersebut supaya tidak games over.
"Terus aja matanya ke ponsel, orang lagi ngomong bukannya tatap Mommy ini malah ke ponsel. Keluarin itu games, atau Mommy minta Daddy buat sita semua gadgedmu selama 1 Minggu ke depan!"
Ancaman Becca memang tidak main-main, sehingga sang anak langsung menyudahi semua itu dan mengeluarkan permainan dengan wajah sedikit takut. Entahlah, semenjak Becca menikah dengan Rio, Naku merasa tidak berani untuk melawannya berbeda ketika sang mommy masih bersama daddy kandungnya.
"A-ada apa, Mom? Ma-maaf kalo Naku salah, suer deh, Naku gak denger Mommy manggil. Soalnya Naku pakai Heandset Bluetooth jadi gak dengar Mommy ngomong. Maaf ya, Mom."
Tatapan Becca tidak dapat dibohongi. Naku melihat adanya kekesalan sang mommy padanya. Tidak ada cara lain, Naku cuma menundukkan kepala menunggu apa yang akan diucapkan Becca padanya.
"Apa kamu tahu kesalahanmu?" tanya Becca. Naku menggelengkan kepala karena memang sang anak tidak mengetahuinya.
"Kenapa Naila mencoba menghubungimu tidak diangkat?" tanya Becca kembali. Naku langsung mengangkat kepalanya, sekarang dia tahu jika sang mommy marah akibat ulah gadis itu yang mengadu padanya.
"Naila ngadu sama Mommy?" tanya balik Naku, dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Berani kamu natap Mommy kaya gitu, ayo coba lagi, mau Mommy colok. Iya!" sahut Becca, membuat sang anak menunduk kembali.
"Ma-maaf, Mom. Habisnya Naku kesel aja, kenapa dia harus ngadu-ngadu sama Mommy coba. Nanti juga kalau games selesai Naku pasti bales. Lagian jadi cewek cerewet banget. Apa-apa minta dibales mulu chatnya, emang dia kira Naku cowok apaan."
Jawaban Naku berhasil membuat Rio menoleh. Mungkin jawaban itu simpel, tetapi jika sampai Naila mendengarnya sudah pasti gadis itu akan sakit hati. Ternyata benar, Becca melihat ke arah ponsel di mana panggilan tersebut sudah berakhir.
"Semua wanita memang ditakdirkan cerewet, Boy. Namun, cerewet yang kamu maksud itu bukan karena Naila ingin selalu kamu kabari. Akan tetapi, gadis itu hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Lagian, ponsel yang kamu pakai itu ponsel canggih. Apa salahnya kamu main games sambil bales chat dari notif. Simpel, 'kan? Kamu hanya perlu bilang, sebentar ya, aku main dulu. Kalau udah selesai aku kabarin. Selesai, tidak harus membuat gadis itu merasa sedih. Gimana kalau nanti ada seorang pria yang menghapus kesedihannya? Apa kamu sanggup kehilangannya? Kamu yang menyakiti, tapi pria lain yang bersyukur mendapatkannya."
Penjelasan yang Rio sampaikan benar-benar membuat hati Naku bergetar. Baru akhir-akhir ini pria itu mengutarakan isi hatinya pada kedua orang tua untuk meminta dukungan mereka, tetapi keegoisan dan sikapnya yang menyebalkan membuat Becca dan Rio pun kesal.
Meskipun Naila tidak menerima pernyataan cinta dari Naku, tetapi gadis itu sangat nyaman dengannya. Sehingga, tanpa perlu mengungkapkan dia sudah merasakan dari perilaku spesial yang Naku berikan. Namun, ketika mendengar jawaban sang pria yang terakhir seperti mengiris hati hingga dia memilih untum mematikan sambungan telepon. Gadis itu tidak ingin mendengarkan perkataan Naku jauh lebih dalam yang nantinya akan lebih menyakiti hatinya.
"Sepenting itu games untukmu ketimbang gadis yang kau cintai itu, hem? Apa kamu udah bosen sama dia, sehingga kamu lupa tujuanmu untuk menjadikannya istrimu ketika semua pendidikanmu selesai? Bukannya waktu di hari ulang tahunnya kamu bilang sama kami untuk membantumu, menyediakan hadiah spesial untuknya sebagai simbol kalau kamu benar-benar menginginkannya. Tapi, dengan caramu seperti ini. Mommy lebih mendukung Naila mencari pria lain yang lebih menghargai perasaannya daripada bersama pria yang dicintai tetapi, hanya bisa menyakitinya. Percuma!"
Sungguh, kata-kata pedas dari Becca keluar begitu saja membuat Naku tidak dalat berkutik sedikit pun. Di usia yang masih labil, Naku harusnya bersukur mendapat dukungan penuh dari keluarga yang jarang sekali anak-anak lain dapatkan.
Akan tetapi, pria itu malah menyia-nyiakannya sehingga membuat kedua orang tua menjadi murka, juga kecewa atas sikap Naku yang sangat menyebalkan dan tidak sedewasa umurnya. Namun, tidak ada cara lain selain Naku meminta maaf pada kedua orang tua. Hanya saja Becca memilih untuk pergi ke kamar menemani putra kecilnya, sementara Rio memilih tetap fokus pada pekerjaannya sesekali berjaga demi mengawasi kondisi Yola.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...