
Jika di rumah kediaman Naku sedang di selimuti oleh tangisan kehancuran. Berbeda dengan Naila, dia merasa begitu bahagia karena Bunda dan Ayahnya baru saja mengikuti program hamil.
Mesekipun terbilang hanya akan ada 10 persen untuk mencapai ke suksesan itu. Akan tetapi, Naila sangat berharap kalau suatu saat nanti dia akan mendapatkan seorang adik yang lucu.
Setelah makan malam selesai, Naila dan kedua orang tuanya selalu berkumpul di ruang keluarga untuk meluangkan waktu bersama sambil menonton televisi. Dimana Naila selalu bermanja dengan Bundanya, sementara Ayahnya selalu merasa kesal karena istrinya tidak pernah memanjakannya seperti memanjakan Naila.
Namun, di balik itu semua. Mereka merupakan keluarga yang sangat harmonis dan juga penuh kasih sayang yang luar biasa. Kebalikan dengan Naku yang di selimuti oleh kehancuran keluarganya.
"Bun, tadi udah ke rumah sakit sama Ayah 'kan? Terus kata dokter apa?" tanya Naila sambil tiduran di paha Bundanya.
Suami-istri itu saling menatap satu sama lain, wajahnya seketika berubah yang tadinya tersenyum kini menjadi datar. Terlihat sekali bila mereka sedikit bingung untuk menjelaskan pada Naila, apa yang mereka dengar dari sang dokter.
"Bun, Yah? Kenapa kalian diam? Aku 'kan nanya," cicit Naila, langsung terbangun dari tidurannya.
"Jangan bilang Naila tidak bisa punya adik?" ucap Naila kembali, menatap mereka berdua secara bergantian.
Tangan Bundanya langsung mengusap-usap kepala Naila sampai ke punggungnya sambil tersenyum. "Kita serahkan sama sama Tuhan, jika memang Bunda dan Ayah bisa memberikanmu adik itu tandanya mukjizat. Namun, bila tidak bisa. Setidaknya Bunda sama Ayah dan juga dokter sudah berusaha untuk mewujudkan itu semua, tetapi takdir yang belum merestui. Yang penting, Bunda dan Ayah sudah punya kamu."
Naila menatap sedih ke arah Bundanya, karena di balik senyumnya itu Naila bisa merasakan kalau mereka sedikit tertekan atas permintaannya.
Jika bukan dengan begitu, bagaimana Naila bisa merasakan punya adik? Apa lagi, bagi Naila menjadi anak tunggal itu tidak enak. Semuanya serba di lakukan sendiri, berbeda jika ada teman main ataupun berbicara.
Namun, di balik itu Naila juga merasakan bila menjadi anak tunggal cukup lumayan enak, karena dia bisa di manja sampai kapanpun. Hanya saja, Naila tidak di biasakan untuk hidup dalam kemanjaan seperti anak tunggal pada umumnya.
__ADS_1
Vivilia Emeline Leonid, wanita cantik yang berusia 32 tahun. Vivi selalu berusaha untuk menjadi Ibu terbaik bagi Naila yang penuh kasih sayang. Walaupun dia suka merasa sedih melihat anaknya tidak memiliki teman saat bermain, tetapi Vivi bisa menjadi teman terbaik sepanjang hidup Naila.
Sementara Leon Adelard Leonid merupakan seorang pengusaha tampan dan juga suami Vivi yang berusia 35 tahun. Walau terkenal dengan sifatnya yang galak dan tegas, tetapi di balik itu Leon adalah Ayah yang baik, penyayang, dan juga humble.
Leon yang melihat raut sedih di wajah anaknya, hanya bisa mengukirkan senyuman kecil. Tanpa mereka sadari, Leonlah orang yang paling menginginkan anak kedua mereka, tapi dia berusaha untuk tetap merasa cukup saat sudah memiliki Naila.
"Sudahlah, anak itu adalah rezeki. Kalau memang Tuhan mengabulkan doa kita, artinya itu rezeki kita. Tapi, jika tidak. Ya, sudah. Setidaknya kita bisa hidup bahagia bertiga tanpa ada kata perpisahan!"
Ucapan yang Leon sampaikan kepada istri dan anaknya, berhasil membuat Naila langsung kembali memeluk Vivi. Tidak lupa dia mencium pipi sebelah kanannya dan terus memberikan semangat.
"Bunda harus semangat terus ya, Naila yakin kok. Suatu saat nanti, Naila pasti punya adik cowok. Jadi, kalian tunggu saja. Naila tidak akan pernah berhenti berdoa sampai Tuhan capek mendengar doa Naila, jadi Tuhan menyerah dan langsung memberikannya adik untuk Naila."
Senyuman lebar terukir di bibir Naila yang membuat Vivi memeluknya sangat gemas sambil berulang kali mencium wajahnya sampai Naila pun ikut membalasnya.
"Sudah malam, kembali ke kamarmu. Terus istirahat tidur, jangan sampai nanti Ayah lihat kamu masih nonton drakor ya! Jika itu terjadi maka, Ayah akan memberikanmu hukuman selama 1 bulan penuh untuk tidak boleh yg namanya megang ponsel, laptop stau gadget lainnya. Mengerti?"
Tatapan tajam dari Leon berhasil menakuti Naila. Hanya saja, respon ke takutan itu Naila ganti oleh cengengesan yang cukup menjengkelkan Leon.
"Hehe, piss ... Ayah tampan, janganlah galak-galak. Nanti kalau Ayah galak, bisa-bisa Bunda berpaling loh, 'kan serem hihi ...."
"Oh ya, terus aja ya. Terus ledek Ayahmu ini, hem! Terusin aja, biarin aja nanti Ayah potong uang jajanmu!"
__ADS_1
"Hyakk, Bunda! Lihat itu Ayah, masa uang jajan Naila mau di potong. Nanti Naila jajannya gimana?"
Naila langsung memasang wajah cemberut, kamudian mengadu pada Vivi menggubakan caranya yang sangat menggemaskan. Sehingga, Leon yang mendengar itu semakin kesal campur takut. Sebab, bila Vivi sudah marah maka jatah untuk malam ini akan hilang begitu saja.
"Leon!" ucap Vivi penuh penekatan sambil menatapnya.
"Ma-maaf, ha-habisnya dianya ngeselin dulu--"
"Baiklah, malam ini aku akan tidur bersama Naila. Bye!"
Vivi langsung mengajak Naila pergi ke kamarnya meninggalkan Leon yang terus memanggilnya. Naila menoleh ke arah belakang sambil tersenyum penuh kemenangan serta menjulurkan lidahnya.
Dimana Leon langsung memasang wajah marah sampai menunjukkan tangannya yang akan mencekram Naila. Akan tetapi Naila malah kembali merengek hingga Vivi berhenti di tengah tangga sambil menatap suaminya.
Leon langsung mengalihkan pandangannya menatap televisi, setelah itu Vivi kembali pergi bersama Naila. Sedangkan Leon yang merasa kesal menjambak rambutnya frustasi sambil erteriak di dalam hatinya. Kemudian dia pergi ke kamarnya untuk beristirahat dengan cepat, apa lagi tidak ada Vivi di sampingnya.
Akan tetapi, tepat di malam hari. Vivi yang merasa kesepian setelah Naila tertidur, lalu kembali ke kamarnya dan melihat suaminya masih berusaha tertidur hanya saja tidak bisa. Vivi perlahan memeluk suaminya yang membuatnya terkejut, lalu mereka pun berpelukan satu sama lain karena merasa kangen.
Ya, begitulah Leon dan Vivi. Mereka marah hanya sebentar, lantaran mereka tidak bisa jauh dari pasangan satu sama lain. Apa lagi di balik marahnya mereka, itu adalah bukti sayang terhadap Naila. Walau terlihat sedikit ngeselin.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung