Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Yola Kabur


__ADS_3

Semua orang terlihat bahagia ketika melihat Naku dan Joey terlalu kompak untuk bersemangat sampai lupa, jika ada gadis kecil yang sedang meratapi kesedihannya.


Senyuman diwajah mereka mulai memudar setelah pandangannya teralihkan melihat respons Yola yang tidak bersemangat saat mendengar gender sang adik.


Harapan Yola langsung hilang begitu saja kepada sang adik lantaran semua ini tidak sesuai ekspetasinya. Apalagi saat melihat Naku yang begitu bahagia ketika mendapatkan adik laki-laki, membuat Yola enggan untuk menatapnya.


"Hei, Sayang. Ada apa, hem?" tanya Becca menatap Yola sambil mengusap pipi gembulnya. Wajah Becca terlihat khawatir saat menyaksikan salah satu anaknya terpurung seperti ini.


"Yola, sakit, Nak? Daddy panggilkan dokter, ya?" tanya Rio yang ikut cemas melihat peri kecilnya merasa tidak bersemangat atas kelahiran Baby Boy.


"Laa, kamu gapapa, 'kan? Apa kamu laper?" Joey ikut menanyakan karena melihat ada sesuatu yang janggal dari sikap Yola.


"Dek, kenapa? Katakan pada kita biar kita tahu apa penyebab kamu sedih kaya gini, apa kamu terharu sama kelahiran adik kita? Atau kamu sakit? Atau kenapa, katakan, Dek. Ayo, bicaralah!"


Kepanikan yang begitu besar terlihat diwajah Naku, mereka semua bisa menyaksikan betapa besarnya kasih sayang Naku terhadap Yola. Sehingga, rasa panik itu malah membuat Yola menjadi tidak nyaman dan langsung berlari keluar begitu saja.


Semua yang ada di dalam kamar Becca langsung terkejut ketika melihat Yola pergi tanpa pamit atau berbicara satu kata pun. Naku spontans ingin mengejar Yola, tetapi ditahan oleh Joey hingga membuatnya kesal.


"Lepasin tangan gua, gak! Gua pengen ngejar Yola, minggir lu!" pekik Naku, berusaha melepaskan diri dari tangan Joey.

__ADS_1


"Tunggu, Kak. Biar aku saja, kalau Kakak yang mendekat takutnya Yola kurang nyaman. Nanti aku akanbkabarin kalian, permisi!"


Joey melepaskan tangan Naku, lalu berlari kencang menyusul Yola yang sudah tidak terlihat. Akan tetapi, Joey tidak kehabisan akal. Dia mencoba menanyakan pada beberapa orang lewat ataupun duduk tentang keberadaan Yola saat ini.


Naku memekik keras, melihat Joey pergi lebih dulu menyusul adik kesayangannya. Baru juga Naku ingin menyusul keluar kamar Becca, Rio segera menahan demi kenyamanan yang mereka sendiri belum tahu penyebab Yola marah karena apa.


"Tunggu, Kak. Jangan kejar adikmu, biarkan Joey yang mengatasi semua ini. Kakak lihat, bukan? Saat kita menanyakan sesuatu Yola malah memilih kabur. Mungkin dia butuh ruang buat menyendiri, kita tunggu kabar dari Joey, oke?"


Rio berusaha untuk menjelaskan kepada anak laki-lakinya agar tidak melanjutkan untuk mengejar sang adik dalam kondisi yang masih panas.


"Daddy apa-apaan sih, hahh? Yola itu adikku, bukan adik Joey. Jadi, aku yang berhak untuk mengejarnya bukan dia, Daddy paham itu, 'kan!"


"Kakak, hentikan nada bicaramu itu! Dia, Daddymu bukan musuhmu, kau paham itu!" ucap Becca menekankan kata-katanya sambil memegangi perut yang sangat terasa sakit.


"Sabar, Nyonya Becca. Jangan banyak bergerak, Nyonyabitu baru selesai operasi. Ingatlah, jika Nyonya emosi seperti ini maka jahitan diperut akan terbuka kembali," ucap Rani, refleks menahan Becca agar tidak bangun dari tidurnya sebelum mendapatkan perintah dari dokter.


"Ckk! Aarrgghh ...." Naku berteriak sekeras mungkin sambil mengunyel-nguyel kepalanya.


"Tenanglah, percayakan Yola pada Joey. Dia pasti bisa mengatasi semuanya supaya Yola merasa tenang, setelah itu mereka akan kembali ke sini," ucap Ragil yang berusaha membantu Rio untuk menstabilkan emosi Naku.

__ADS_1


Mereka semua mengerti bagaimana khawatirnya Naku pada Yola, sama halnya dengan Rio dan Becca. Hanya saja jika mereka memaksakan keadaan, bukannya Yola kembali malah akan semakin menjauh. Harapan satu-satunya bagi mereka adalah Joey karena emosi Yola hanya bisa dikendalikan oleh pria yang sering membuat sang kakak merasa cemburu.


"Bagaimana aku bisa tenang, hahh? Adikku tiba-tiba pergi tanpa alasan yang jelas, dengan mudah kalian berkata seperti itu. Cihhh!"


"Kenapa sih, Daddy sama Mommy lebih percaya sama anak manja itu. Dia bukan siapa-siapa kita, harusnya Daddy biarkan aku pergi mengejar Yola bukan malah ditahan seperti ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu sama Yola, apa kalian tidak akan menyesal nantinya, hahh?"


"Apa-apa Joey, apa-apa Joey. Joey, aja terus, Dad. Joey terus, Mom! Ada apa sih, dengan kalian, hah? Jangan bilang kalian sedang merencanakan perjodohan mereka, iya?"


Naku menatap tajam ke arah semua yang ada di sana secara bergantian. Rani hanya bisa duduk di samping Becca sambil menenagkan dengan cara mengelus lengannya. Mereka semua tidak ingin terpancing emosi hanya karena Naku yang dalam keadaan panik.


Mereka paham, dan wajar saja apabila Naku sekhawatir ini pada Yola. Inilah tanggung jawab seorang kakak untuk menjaga adik-adiknya agar tidak sampai ada yang terluka atau merasa bersedih. Dengan ditahannya Naku, malah membuatnya merasa seperti gagal akibat dibandingkan oleh Joey, orang baru dikenal.


Tanpa harus berkata apa-apa, Rio hanya bisa memeluk Naku agar emosi di dalam hati mulai mereda. Rio sangat mengenal watak Naku, semakin dikeraskan maka Naku akan semakin keras. Dia tidak akan memandang tua ataupun muda yang saat ini sedang dilawannya, sehingga jalan terbaik hanya cinta kasihlah yang menjadi air untuk memadamkan kobaran api di dalam hati Naku.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2