
Mereka melakukan perjalanan kurang lebih sekitar 15 menit. Hingga akhirnya, sampailah di suatu tempat makan yang tidak terlalu mewah, tetapi sangat nyaman untuk bisa menikmati suasana yang berbeda dari biasanya.
Black Plate Resto merupakan tempat makan ternyaman bagi orang-orang yang tidak terlalu suka kebisingan atau kemewahan yang terkesan sudah terlalu bisa. Restoran tersebut identik berwarna hitam sebagai tanda ketenangan.
Biasanya warna hitam adalah warna yang sebagian orang takuti karena melambangkan warna kegelapan yang cukup menyeramkan. Hanya saja, Restoran ini didesain agar lebih berbeda dari Restoran lainnya dan memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun dominan dengan warna hitam, tetapi tidak membuatnya terlihat menyeramkan.
Keluarga kecil Rio turun bersamaan dengan keluarga kecil Ragil. Mereka berjalan memasuki Restoran dalam keadaan tersenyum. Ragil, Rani juga Joey tidak menyangka jika di daerah tersebut ada Restoran sebagus itu dan jauh dari suara kebisingan kendaraan seperti Restoran di dekat jalan raya.
Mereka semua duduk di satu meja panjang saling berhadapan satu sama lain. Rio memanggil salah satu pelayan untuk membawakan buku menu yang akan mereka pesan. Satu persatu memesan makanannya sendiri, setelah itu mereka kembali melanjutkan pembicara yang sempat tertunda.
"Yola seneng deh, akhirnya kita ketemu lagi, terus juga Yola bisa kenalan sama orang tua Kakak. Jadi, tambah seru hehe ...."
"Aku juga senang bisa ketemu kamu dan keluargamu, meskipun tanpa disengaja. Oh, ya. Mommymu lagi hamil, ya?" tanya Joey menatap ke arah Becca.
"Hehe, iya, Joey. Tante lagi hamil anak pertama dari Om, doa'in ya, supaya sehat dan lancar sampai lahiran nanti."
Joey dan Ragil tersenyum menganggukan kepalanya, berbeda sama Rani. Wajahnya terlihat bingung atas perkataan Becca yang cukup mengganjal, tanpa ingin menyinggung perasaan semuanya Rani meminta maaf dan menanyakan hal tersebut kepada Becca.
"Ma-maaf sebelumnya, Nyonya Becca. Ta-tadi, Nyonya bilang kalau ini adalah anak pertama dari Tuan Rio. Lantas, Yola dan Naku ...."
Rani menggantungkan perkataannya supaya tidak membuat mereka semua merasa tersinggung atas ucapannya. Ragil yang sedikit panik langsung meminta maaf pada mereka semua atas perkataan sang istri karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Tuan. Santai saja," ucap Becca tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oleh istrimu tidak salah, Tuan. Maklum saja, istri saya memang selalu setengah-setengah jika berbicara. Jadi, membuat Nyonya Rani merasa bingung," jawab Rio mendapat tawakan kecil dari Becca.
"Maafkan istri saya, Tuan. Dia---"
"Santai aja, Tuan. Saya dan istri saya menikah ketika sudah memiliki anak masing-masing dari masa lalu kami. Yola anak dari mendiang istri saya yang pertama, lalu Naku anak dari mantan suami pertama istri saya, Becca."
"Kami menikah belum lama ini kurang lebih setengah tahunan, dan yang istri saya kandung adalah anak pertama kami. Akan tetapi, dia akan menjadi anak ketiga. Bagi kami, Naku adalah anak pertama kami, kemudian Yola dan ketiga si kecil. Beginilah, keluarga kami. Tidak peduli apa kata orang, bagi saya ataupun Becca, mereka tetap anak kandung kami tanpa harus membedakan statusnya."
Mendengar penjelasan dari Rio mampu menyentuh hati Rani maupun Ragil. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti. Keduanya tidak menyangka ada keluarga terbentuk dari perpisahan bisa menjadi satu keluarga yang sangat sempurna. Sementara keluarga mereka terbentuk dari kesempurnaan, hanya karena rasa ego hampir membuat mereka menghancurkannya.
Pantas saja Joey selalu membandingkan kedua orang tuanya dengan kedua orang tua Yola. Ternyata, keluarga mereka memang ditanamkan cinta kasih yang sangat luar biasa. Tidak peduli bekas siapa dan anak siapa. Intinya mereka adalah satu keluarga yang harus bahagia bersama.
Melihat suasana mulai canggung, Rio mencoba untuk memancing Ragil menanyakan tentang bisnis yang dijalani. Begitu juga Becca yang berbincang bersama Rani sambil tertawa. Lain sama anak-anak mereka yang dari hanya tadi terdiam. Bagaimana tidak, baru Yola ingin menanyakan sesuatu sama Joey, Naku sudah langsung meliriknya tajam. Sehingga Yola hanya bisa melipat kedua tangan di meja sebagai bantalan untuk pipinya.
Yola berbicara di dalam hatinya denga wajah cemberut sedikit besan. Tingkah lucu Yola di saat gabut membuat Joey hanya bisa menahan tawanya, keposesifan Naku benar-benar persis seperti pasangan yang sedang menjadi kekasihnya agar tidak diambil oleh orang lain.
Namun, apa daya. Semua itu tidak bertahan lama ketika satu persatu makanan datang dan diletakkan tepat di atas meja secara tersusun sesuai pesanan masing-masing.
Mereka mulai berdoa lalu, melahap makanannya secara perlahan. Betapa terkejutnya Rani, Ragil juga Joey saat menikmati cita rasa yang jauh berbeda dari biasanya. Rasa di Restoran ini memang terbilang unik, tetapi sangat enak. Sehingga mereka menjadi ketagihan memesan makanan tertentu untuk dibawa pulang.
Disela-sela mereka makan, Yola mulai berbicara kepada Joey untuk meminta kontaknya. Bersamaan dengan itu, Naku tersedak saat mendapati sikap agresif sang adik yang mulai bertingkah. Baru Naku ingin menghentikan semua itu, tetapi tidak bisa. Tatapan dari Becca membut Naku kesal, dia tidak bisa mencegah semua itu.
Wajah Yola terlihat bahagia saat mendapatkan nomor Joey, begitu juga sebaliknya. Joey hanya tersenyum menjaga perasaan Naku agar tidak semakin panas. Berbeda sama Naku, cara makan yang tidak seperti biasanya mewakilkan rasa kesal di dalam hati kecilnya.
"E,ehh ... Yola lupa, tadi mau nanya kenapa Kakak bisa ada di rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit, apa Tante sama Om yang sakit?" tanya Yola.
__ADS_1
"Oh, itu. Biasa Joey harus melakukan pemeriksaan rutin setiap bulannya," jawab Rani tersenyum menatap Yola sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Pemeriksaan rutin? Memangnya, Joey sakit apa?" tanya Becca mewakilkan pertanyaan mereka.
"Joey terkena penyakit ...."
Ragil menggantungkan perkataannya saat Joey langsung memotong perkataannya demi menjaga sesuatu yang tidak boleh Yola ketahui.
"Pe-penyakit lambung, Tante. Biasa Joey sering telat makan jadi sampai kena lambung deh, hehe ...."
"Oalah, makannya lain kali jangan telat makan. Bahaya loh, kalau bisa hindari makanan yang pedas supaya gak memicu penyakitnya kambuh."
"Hehe, iya, Tan. Terima kasih atas sarannya," ucap Joey, gugup.
Rani dan Ragil saling menatap satu sama lain, mereka tidak mengerti sama apa yang diucapkan oleh sang anak. Setahu mereka, lambung Joey baik-baik saja hanya hatinya yang kurang baik. Akan tetapi, Joey malah melesetkan semua itu demi menjaga penyakitnya karena Joey tidak ingin mendapatkan belas kasihan dari orang.
Lirikan mata Joey seperti memberikan sinyal agar kedua orang tuanya tidak sampai membeberkan tentang penyakit tersebut. Mungkin Yola, Becca dan Rio bisa saja dibohongi. Akan tetapi, tidak dengan Naku. Dia melihat adanya kejanggalan dari jawaban yang Joey berikan. Jika tidak ada yang disembunyikan tidak mungkin Joey memotong pembicaraan orang tua, sebab Naku cukup memahami sifat Joey yang tidak pernah memberikan kesan tidak sopan pada orang yang lebih tua dari usianya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1