
Naku terus menatap Joey untuk mencari celah agar bisa meluluhkan hati pria itu demi menjauhkannya dari samg adik. Akan tetapi, Naku sama sekali tidak melihat emosi sedikit saja dari wajah Joey.
Sungguh, di luar dugaan. Perkataan yang benar-benar menurut Naku sudah sangat menyakitkan, tetap tidak membuat Joey gentar akan ancaman tersebut. Bagi pria itu selama dia melakukan hal yang positif kenapa harus takut. Setidaknya masih banyak yang mendukung Joey untuk bisa menjadi teman Yola yang akan membawa pengaruh baik.
"Kenapa senyum? Kalau mau nangis, udah nangis aja ngapin juga ditahan. Toh, gua emang orangnya kaya gitu. Lu gak suka itu sih, bodo amat. Gua gak peduli!"
Nada Naku terdengar begitu jutek, tetapi dibalik itu dia juga merasa sedikit khawatir kalau Joey akan merasakan sakit hati padanya. Apa lagi, Naku merasa kata-kata yang diucapkan itu sudah sangat keterlaluan. Hanya saja dia tidak punya cara lain sehingga terpaksa harus melakukan semua ide itu demi menjauhkan Joey dari Yola.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku paham, kok. Kakak melakukan semua ini juga karena Kakak sangat menyayangi Yola, malah aku senang banget. Seandainya aku punya adik, pasti aku akan belajar banyak dari Kakak bagaimana cara menjadi seorang Kakak yang baik agar bisa selalu melindungi serta menjadi adiknya."
"Jika aku boleh jujur, kata-kata Kakak memang terdengar begitu menyakitkan untuk anak seusiaku. Belum lagi kalau orang tua kita sampai mendengar itu semua sudah pasti mereka akan sangat memarahi Kakak. Untungnya yang Kakak marahi aku di belakang mereka semua, jadi aman hehe ...."
Joey tertawa receh membuat Naku syok bukan main. Seharusnya Joey itu nangis, lalu marah hingga tidak ingin kembali mengenal keluarga Yola. Akan tetapi, Joey malah membela Naku sampai membanggakan atas kehebatannya menjadi seorang kakak terbaik untuk Yola.
__ADS_1
Sumpah, ini anak kayanya sakit jiwa, deh. Perasaan gua dari tadi udah ngata-ngatain, ngehina segala macem, tapi kenapa dia tetap aja bersikap baik sama gua? Apa dia salah satu manusia yang tidak memiliki perasaan marah, dendam atau apalah itu? Akhh, tidak mungkin. Setiap manusia akan punya titik marahnya sendiri, itu artinya kata-kata gua belum terlalu sakit untuk pria kaya Joey!
Apa harus gua lebih keras lagi sama dia? Cuman kalau gua melakukan itu, takutnya nanti Yola tahu malah tambah marah sama gua, gimana? Tahu sendiri 'kan, tadi aja Yola bilang gak akan mau ngomong seandainya gua sama Joey tidak baikan. Aarrghh ... Syarat macam apa ini, Yola! Kamu benar-benar membuat Kakak frustasi, sumpah!
Mana mungkin Kakak baikan sama dia, kalau Kakak lakukan itu pasti kamu sama Joey akan semakin dekat sampai kapanpun. Kakak cuman takut nanti kedekatan kalian itu malah membuatmu malas belajar, lalu bagaimana dengan cita-citamu yang mau jadi dokter? Kamu pasti akan susah meraihnya setelah kamu mengenal cinta, apa lagi usiamu itu masih sangat kecil, Dek!
Andaikan kamu tahu, selama ini Kakak hanya fokus belajar agar Kakak tidak sampai berpikir ke arah situ. Dibalik sifat Kakak yang keras seperti ini, Kakak hanya tidak ingin kamu tersakiti sama seperti Mommy dulu. Mungkin jika Kakak yang disakiti, Kakak masih bisa menahannya. Namun, kalau kamu? Kakak tidak bisa menjamin apakah kamu aman kuat atau tidak ketika hatimu telah dipatahkan oleh harapan yang begitu besar dari seorang pria. Maka dari itu, Kakak melakukan semua ini demi menjaga hatimu agar tidak merasakan apa yang Mommy rasakan dulu!
Percayalah, Dek! Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala itu semua bisa Kakak lakuin hanya untuk membela hakmu. Kakak juga bisa menjadi orang yang sangat kejam demi membalaskan rasa sakit hatimu itu, jadi Kakak mohon, semoga saja kamu mengerti atas semua yang Kakak lakuakan ini semata-mata bukan untuk melarangmu, melainkan menjagamu dari pria-pria yang kelak akan melukai hatimu!
Namun, setelah dijalani Naku malah menyayangi Yola begitu dalamnya sampai dia sendiri harus melakukan semua demi menjaga sang adik. Terlepas cara Naku itu salah atau benar, pria itu tidak peduli sama sekali. Intinya sekarang, Naku harus memikirkan caranya menjauhi pria yang belum tentu baik untuk menjadi teman Yola.
"Kakak pernah berpikir tidak, seumpama nanti Tuhan akan memberikan seorang jodoh jauh lebih cepat sebelum Yola mendapatkan cita-citanya. Apakah Kakak akan menolaknya? Sementara, Om Rio sendiri selaku ayah dari Yola telah menyetujui jodoh yang Tuhan kirim untuk kebahagiaan anaknya. Apakah Kakak tetap akan melawan keputusan Om Rio?"
__ADS_1
Bibir yang dari tadi terbuka untuk mengucapkan kalimat-kalimat kasar demi membuat hubungan pertemanan Yola dan Joey berantakan, sekarang tidak lagi.
Bibir itu terbungkam rapat-rapat karena Naku tidak menyangka, jika pertanyaan Joey mampu menjebaknya agar sulit keluar dari pertanyaan tersebut.
"Kenapa Kakak diam? Bukannya tadi Kakak banyak berbicara tentang masa depan Yola bahkan jodohnya yang masih sangat jauh. Aku tahu, Kak. Aku masih kecil dibawah umur Kakak, tapi aku juga tahu kalau apa yang Kakak lakukan itu ada plus dan minusnya. Ibaratkan 70 persen Kakak benar, tapi sisa 30 persen yang salah dan harus segera dibenahin kelak tidak akan membuat Kakak merasa menyesal!"
"Maaf, apabila perkataan Joey cukup menyinggung Kakak. Joey tahu banget Kakak itu sayang sekali sama Yola, cuman Joey hanya ingin memberikan sedikit saran kepada Kakak. Cobalah bijak dalam menyikapi keadaan, mengatasi masalah dan mencegah apa yang akan kerjadi. Tindakan Kakak untuk melindungi Yola patut aku acungkan jempol, tapi sikap Kakak yang terlalu keras pada Yola akan membuat Yola merasa tertekan. Joey takut jika Kakak terus bersikap keras seperti sekarang, Yola akan berpikir kalau Kakak tidak punya hati. Kakak selalu melarang hal-hal positif yang dia lakukan dengan mengatas namakan kepedulian, cinta kasih, dan status sebagai seorang kakak!"
"...."
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...