
"Antarkan saya ke Apartemen aja, saya tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Itu bisa membuat istri dan anak saya khawatir," jawab Gala, mulutnya sudah bau minuman alkohol.
"Njirr, i-ini seriuskah? Ka-kalau gua bawa dia ke Apartemen itu artinya gua punya peluang lebih banyak lagi untuk mendekatinya, dan bisa gua pastikan semua ini tidak akan terlewatkan. Lalu, Tuan Gala akan menjadi milik gua, tidak peduli dia punya istri anak atau apalah itu. Terpenting, Tuan Gala bisa dekat dengan tanpa bisa lepas*," gumam hati Lola, tersenyum lebar penuh kelicikan.
"Ba-baiklah, saya akan antarkan Tuan ke Apartemen, setelah itu saya kembali ke rumah. Tuan tinggal sebutkan saja alamatnya, mari saya bantu!" titah Lola, perlahan berjalan sambil memapah Gala yang tubuhnya sudah mulai sempoyongan.
Saat perjalanan keluar BAR, Gala menyebutkan nama Apartemen, lantai, nomor dan sebagainya. Setelah itu, mereka naik taksi yang sudah di carikan oleh security yang ada di BAR.
Mereka duduk di belakang supir, di mana keadaan Gala sudah tidak berdaya. Dia terus mengoceh kesal akibat Perusahaannya yang hampir hancur, kemudian tiba-tiba saja meminta maaf kepada Naku dan juga Becca.
Lola yang mendengar itu, hanya bisa menatapnya. Dia merasa iri dengan Becca, karena bisa mendapatkan pria sebaik dan sesayang ini terhadapnya, berbeda sama nasibnya yang di tinggal begitu saja hanya karena tidak mendapatkan restu.
Dari situlah rasa ke inginan Lola untuk memiliki Gala semakin besar, dia langsung memberitahukan alamat Apartemen Gala kepada supir taksi tersebut.
Kurang lebih 35 menit, mereka ada di perjalanan. Akhirnya sampai di depan Apartemen, Lola segera memapah Gala memasuki Apartemen menuju lantai yang di sebutkan oleh Gala.
"Tuan, kita sudah di depan pintu Apartemen milik Tuan. Di mana kuncinya? Sini saya bantu bukakkan!" ucap Lola langsung membuat Gala merogok sakunya untuk mengambil dompetnya.
Satu buah kartu akses untuk masuk, Gala berikan pada Lola. Kemudian menyebutkan pin yang harus dia ketik untuk memasuki Apartemen tersebut.
Tidak lama pintu terbuka, mereka masuk ke dalam bersamaan sama pintu yang tertutup dan terkunci sendiri. Perlahan Lola memapah Gala menaiki tangga, di mana kamar Gala berada atas petunjuk dari Gala sendiri.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, lalu Gala masuk dan perlahan di rebahkan oleh Lola sambil membukakan sepatu yang dia kenakan. Bagaikan seorang istri yang mengurus suaminya, Lola melakukan semua itu sangat hati-hati.
Ketika dia sudah menyelimuti Gala, terus berpura-pura untuk meninggalkannya. Tiba-tiba saja bayangan Becca hadir memenuhi pikiran Gala dan membuat Lola memiliki kesempatan banyak untuk bermalam dengan pria yang sudah berhasil menghadirkan cinta di hatinya.
Lola tidak menolak sedikit pun, dia malah menikmatinya dan bermain bagaimana pemain yang handal untuk memuaskan pelanggannya. Begitu juga Gala, dia menikmati dengan suara indah saat melakukannya bersama Lola, menggunakan bayangan Becca.
Tidak hanya itu, Lola juga mengikuti pikiran Gala. Dia berpura-pura menjadi Becca sehingga mereka menikmati sentuhan demi sentuhan dalam keadaan Gala terpengaruh oleh minuman keras.
Hampir 5 kali mereka melakukan pelepasan, di mana Lola pada saat itu segera membersihkan tubuhnya tidak lupa dia meminum sesuatu yang akan menghambat proses benih yang Gala tanam. Semua itu untuk menjaga apa bila Gala tidak mau bertanggung jawab, maka setidaknya Lola sudah menyicipi tubuh atasannya sendiri.
Selesai melakukannya, Gala tertidur pulas dalam keadaan puas. Sementara Lola dia kembali membuat rencana untuk mencari cara bagaimana dia bisa membuat adegan, seolah-olah Gala yang telah merenggut hidupnya.
Perlahan, Lola menaburkan sedikit cairan itu di atas spray putih tersebut. Apa bila sudah terlihat seperti nyata, barulah dia bisa tertidur pulas sambil memeluk Gala.
"Terimakasih, Tuan. Kau telah mempermudah jalanku untuk mendapatkanmu, harapan dan doaku semoga kita bisa bersama. Aku tidak masalah bisa menjadi simpanan atau istri keduamu. Terpenting, aku bisa berada di sampingmu dan aku tidak akan melepaskanmu!"
"Good night, Tuan Gala. Semoga mimpimu indah, dan i love you more, Pangeran tampanku!"
Lola berbicara sambil berbisik, kemudian dia mencium pipi Gala dan tertidur dalam posisi tubuh mereka yang habis tempur.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
__ADS_1
Pagi hari, pukul 6. Lola bangun lebih dulu, dia melihat wajah Gala untuk pertama kalinya saat dia terbangun. Rasanya hati Lola begitu nyaman, dia ingin seperti ini selamanya. Tidak peduli hambatan apa yang akan dia hadapi, dia tetap akan melakukan segala cara agar Gala selalu berada di genggaman tangannya.
Saat melihat pergerakan Gala yang mulai terbangun, Lola langsung duduk dan melakukan aksi berikutnya. Dia menarik selimutnya sebatas dada dalam posisi duduk menyandar di sandaran ranjang.
"Hiks, Tu-tuan, jahat! Tuan sudah menodaiku, aku tidak menyangka Tuan bisa sebe*jat ini. Apa salahku sama Tuan, hahh? Apa, Tuan. Apa!"
Lola berteriak penuh ketakutan, di mana tangannya menggenggam erat spray yang ada di dadanya. Tangisan air mata buaya mulai menetes, entah apa yang Lola pikirkan saat ini sampai dia bisa memerani perannya sedalam itu.
Gala yang masih sangat pusing, perlahan memegangi kepalanya. Rasa pusing sangat mengganggu kepala Gala, dia mulai membuka matanya di saat teriakan Lola menggema di telinganya.
Namun, ketika Gala bangun dia di kejutkan oleh hadirnya Lola tepat di samping kanannya dengan keadaan yang sangat di luar ekspetasinya.
Gala langsung duduk, wajahnya mulai pucat. Dia benar-benar syok ketika melihat tubuh mereka tidak menggunakan satu helai pakaian pun. Di tambah, Lola menangis tidak karuan serta mengumpati Gala dengan kata-kata yang cukup kasar, layaknya seorang korban.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1