Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kebahagiaan Keluarga Joey


__ADS_3

Sungguh, keajaiban Tuhan memang luar biasa. Hati sekeras batu mampu dilelehkan hanya dengan cinta kasih yang selama ini tertutup oleh keegoisan. Ragil tak menyangka Rani bisa mengambil keputusan dua langkah jauh di depannya.


Wajah syok Ragil tidak bisa disembunyikan ketika mendengar keputusan dari Rani yang sangat diluar dugaan. Ragil tidak pernah mengira kalau Rani mengambil keputusan sendiri sejauh ini.


Setahu Ragil, Rani bukanlah wanita yang mudah untuk mengambil keputusan sebesar ini. Apa lagi, Ragil menyaksikan bagaimana Rani menekuni semua pekerjaan hingga akhirnya dia mulai mencapai kesuksesan dengan tanpa bantuan orang lain.


Pekerjaan merupakan impian juga kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari Rani, tetapi berkat hati nurani seorang ibu keluar dari dalam benak Rani. Kini, dia telah membuktikan bahwa keluarga memang diatas segalanya.


"Su-sungguh, ka-kamu benar-benar sudah melakukan itu?" tanya Ragil memastikan. Matanya mulai berkaca-kaca penuh kemerahan ketika menahan air mata yang ingin jatuh.


"Ya, aku sudah melakukan semua itu tepat pagi hari ini," jawab Rani penuh keyakinan.


"A-apa kamu sadar melakukan semua itu? I-ini bukan keputusan yang mudah, Sayang. Aku tahu pekerjaan itu bagian dari hidupmu, lantas kenapa kamu memutuskan semuanya sendiri?" tanya Ragil, kembali.


"Aku paham ini memang bukan keputusan yang mudah untukku, tapi aku sudah memikirkan matang-matang resiko yang akan aku hadapi nantinya. Sehingga aku sudah menyiapkan mental, jika nanti aku hanya berdiam diri mengurus rumah dan keluarga. Setidaknya anakku akan tetap bersamaku!" ucap Rani begitu tegas.


"Ba-bagaimana jika nanti kamu menyesal dengan keputusan ini? Apa kamu sudah----"


"Penyesalan itu pasti ada, Sayang. Cuman aku akan jauh lebih menyesal, kalau suatu saat nanti kita terlambat untuk menyadari kesalahan ini. Keluarga adalah harta yang paling berharga, tidak bisa dibeli dengan apa pun!"

__ADS_1


"Jika aku telah kehilangan salah satu dari kalian, itu artinya aku telah gagal! Jadi, sebelum terlambat aku harus segera menyadari kesalahan ini. Kita sudah terlalu jauh melangkah sampai melupakan tentang isi hati Joey yang menginginkan seperti anak-anak lainnya."


"Aku tidak mau kehilangan anak satu-satunya yang aku dapatkan atas anugerah Tuhan. Banyak diluar sana yang tidak bisa memiliki anak sampai harus berjuang puluhan tahun demi mendapatkannya. Namun, aku? Sudah diberikan anugerah jauh lebih cepat dari mereka, tetapi malah menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu bisa aku dapatkan kembali."


"Untuk itu, aku sudah bertekat ingin memperbaiki rumah tangga kita dan hubungan kita dengan Joey. Hidup menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumah juga keluarga, sama halnya seperti aku bekerja di kantor. Namun, bedanya hanya tentang pembayaran. Di kantor aku mendapatkan uang dan impian, lalu di rumah aku mendapatkan cinta kasih dan kebersamaan. Jadi, jangan khawatir, Sayang. Kamu harus tetap mengurus Perusahaanmu itu, kamu sudah berjuang dari titik nol sehingga tidak boleh disia-siakan."


"Ingat! Perusahaanmu kelak bisa menjadi harta turun temurun untuk anak dan cucu kita agar mereka tidak pernah merasakan kesulitan seperti kita waktu muda. Berbeda sama aku ... Aku bekerja dibawah kendali orang meski jabatanku tinggi tetap saja sampai detik ini aku belum bisa mencapai impianku. Itu artinya, Tuhan memang tidak mengizinkanku untuk menggapainya karena Tuhan mau aku menjadi ibu yang baik untuk Joey serta istri yang bisa melayani suami tanpa rasa lelah dengan bayaran surga, bukan dunia!"


Perasaan yang Rani ungkapkan pada sang suami berhasil membuat Ragil tidak berkutik. Dia hanya bisa memeluk Rani hingga tangisnya pecah sepecah-pecahnya.


Mereka berpelukan bersama dalam waktu kurang lebih 5 menit, ketika Ragil mulai tenang Rani melepaskannya dan menghapus air mata sang suami penuh cinta.


"Keputusanku sudah keputusan terbaik, Sayang. Kita mulai dari nol lagi ya, bimbing aku untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Jangan lelah untuk menasihatiku ketika aku salah dengan cara lembut, bukan kekerasan. Satu lagi, jangan pernah ada niatan berhenti untuk terus mencintaiku disegala kekuranganku karena kamu, pria yang sangat aku cintai melebihi diriku sendiri!"


Rani tersenyum menghapus semua air mata suaminya yang dari tadi terus mengalir. Tidak lupa Rani mencium seluruh wajah Ragil mulai dari pipi, kening dan bibir. Kemudian mereka kembali sekilas berpelukan sambil mengungkapkan rasa sayang satu sama lain.


Setelah selesai membicarakan semua itu, merek langsung kembali mencuci muka agar lebih segara sebelum bertemu dengan Joey. Ragil yang masih belum percaya dengan semua ini, berulang kali terus meyakinkan Rani apakah ini sudah keputusan terbaik bagi mereka atau keterpaksaan demi menahan Joey.


Namun, jawaban Rani tetap sama dan tidak berubah kalau dia akan berusaha mengembalikan keadaan rumah tangga yang hampir berantakan menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


Joey yang sudah mendengar semua penjelasan dari Ragil terkait keputusan yang mereka ambil, benar-benar tercenga ketika Rani bisa memutuskan semua itu dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Ya, meskipun diawali dengan pilihan dari Joey tetap saja Rani melakukan semua itu karena memang ingin memperbaiki hubungannya bukan semata-mata rasa ego sesaat.


"Apa yang Papih katakan itu benar, Mam? Ja-jadi, Mamih ...."


"Ya, Sayabg. Mamih sudah memutusakn semua itu agar Mamih bisa menemani Joey ke mana pun Joey mau. Kita akan mulai dari nol, dan Mamih akan ikuti semua kegiatan Joey sampai pengobatan Joey. Mamih janji, Mamih akan menjaga Joey agar suatu saat nanti Joey bisa sembuh dari rasa sakit yang Joey rasakan. Keputusan Mamih ini sudah bulat, Mamih mohon Joey percaya sama Mamih. Kali ini Mamih tidak main-main, Mamih rela kehilangan semuanya asalkan tidak dengan Joey dan Papih. Bagi Mamih keluarga segalanya, Joey mengerti?"


Tanpa berkata apa-apa Joey langsung memeluk Rani begitu erat, untuk pertama kali Rani mendapatkan ciuman dari sang anak yang sudah lama tidak dia dapatkan. Begitu juga Ragil, Joey pun merasa bangga sama mereka ternyata ancaman yang Joey berikan bukan sekedar ancaman biasa. Melainkan sebuah ancaman yang berujung kebahagiaan, hingga wajah mereka terlihat begitu senang sambil berpelukan bersama persis seperti teletubbies.


Joey benar-benar tidak menyangka, keluarganya sudah kembali. Di mana Ragil bekerja karena memang sudah tugas sebagai suami sekaligus ayah, dan Rani akan selalu ada di dekat Joey untuk menemaninya tanpa paksaan.


Kini, keluarga Joey telah kembali bahagia seperti apa yang Joey harapkan. Dia tidak lagi merasa iri ketika melihat teman-temannya bisa sedekat itu dengan keluarga karena Joey juga bisa seperti mereka. Harapan mereka setelah kembalinya kebahagiaan ini, semoga saja tidak ada lagi keegoisan-keegoisan diantara mereka semua.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2