
Becca tidak sampai kepikiran sejauh ini, kalau hubungan mereka bisa melebihi kasoh sayang sebagai sahabat ataupun saudara. Mungkin, karena kedekatan yang sering terjadi juga kebaikan Rio yang selalu ada tanpa di minta membuat mereka memiliki perasaan yang lebih.
Ingin rasanya Becca menjawab semua lamaran itu tanpa menolaknya. Hanya saja, ada satu yang menjadi penghalang untuk Becca menerima semuanya. Sebab, Rio melamar Becca tidak di depan Naku atau tanpa seizinnya.
Dari tatapan Becca, Rio bisa melihat adanya pertimbangan besar yang sedang dia pikirkan. Entah itu pikiran apa, intinya Rio hanya bisa menebak bahwa Becca masih mengharapkan keluarga kecilnya kembali utuh.
Padahal jauh dari itu semua Becca sudah mulai mempunyai perasaan yang lebih pada Rio. Akan tetapi, semua itu terhalang oleh restu Nakunyang belum bisa Becca dapatkam sepenuhnya mendapatkan.
"Kenapa diam? Apa kamu berat untuk menolakku? Apa kamu kasihan padaku? Tenang saja, Ca. Aku sudah siap untuk menerima semua resiko itu. Namanya juga cinta, pasti akan ada persetujuan kedua pihak atau menolakan dari salah satu pihak. Niatku seperti ini bukan untuk mendapatkan belas kasihan, melainkan aku hanya ingin mengutarakannya agar kedepannya aku bisa jauh lebih baik menjalani kehidupan tanpa di hantui oleh rasa takut untuk akan kegagalan."
"Ingat, Ca! Aku sudah biasa hidup sendiri dengan anakku, jadi kalau pun kamu menolakku itu tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah lega mengatakan semua itu di hadapanmu, meski hasilnya tidak seperti apa yang di harapkan. Cuman, aku senang. Akhirnya aku bisa jujur sama kamu di hari ini, tentang perasaanku padamu."
"Jadi, jawablah semuanya sesuai dengan perasaanmu. Aku akan terima kok, tanpa harus merasakan sedih sedikitpun. Kalau aku tidak bisa jadi pasanganmu, 'kan kita masih tetap menjadi sahabat sekaligus saudara. Untuk itu, jangan takut menjawab tawaranku. Karena sampai kapanpun, aku akan tetap selalu ada di sampingmu juga Naku."
Rio tersenyum sedikit mendongak menatap wajah Becca. Air matanya masih berlinang ketika kata-kata Rio selalu berhasil mengobrak-abrikkan isi hatinya.
Rasanya Becca ingin berteriak untuk menerima Rio, tetapi dia tidak bisa melangkahi Naku sebelum mendapatkan lampu ijo untuk melangkah atau menentukan jawaban dari semua tawaran Rio.
Tawaran kebahagiaan seumur hidup, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sementara Becca, dia mendapatkan semua itu tepat di depan matanya. Di tambah pria yang ada di hadapannya ini, tipikal pria yang sudah sangat matang. Jauh dari pria yang sempat ada di dalam masa lalunya (Gala).
Bibir Becca sempat bergetar, dia bingung mengatakan semua itu harus dari mana. Intinya, Becca harus hati-hati mengatakannya agar tidak membuat Rio menjadi tersinggung.
"Ka-kak, a-apa benar kakak me-mencintaiku setulus hati kakak, tanpa mengharapkan apapun?" tanya Becca.
"Apa kamu tidak percaya padaku, hem?" tanya balik, Rio. Wajahnya begitu tenang saat menghadapi situasi yang cukup menegang, padahal hatinya tidak setenang yang di lihat.
__ADS_1
"A-aku pe-percaya, Kak. Tapi---"
"Tapi, apa?"
"Tapi, kalau kakak benar-benar mencintaiku. A-apakah kakak bisa me-menungguku sedikit lagi. Se-setelah itu aku bisa menjawab semuanya."
"Kenapa aku harus menunggu? Apa alasanmu menyuruhku menunggu? Memangnya tidak bisa kamu menjawabnya sekarang?"
Pertanyaan Rio langsung membuat Becca terdiam mematung. Dia tidak tahu harus menjawabnya seperti apa, akhirnya Becca memutuskan untuk terdiam sejenak menarik napasnya perlahan. Setelah itu Becca menundukkan sedikit badannya mengangkat kedua bahu Rio untuk berdiri.
"Bangunlah, Kak! Jangan seperti ini ya, aku tidak enak."
"Aku tidak akan bangun, sebelum kamu menjelaskan padaku. Apa alasan kamu memintaku untuk menunggu?"
"Baiklah, aku bangun."
Rio perlahan bangun dibantu Becca, di mana cincin yang ada di tangan Rio masih menjadi perhatian Becca. Akan tetapi, dia menahan semua itu dan menutupnya agar tidak terjatuh dan hilang.
Kemudian mereka berjalan memasuki rumah pohon dan duduk di tempat yang sudah di siapkan. Lalu, mereka meminum minuman yang telah di siapkan.
Setelah itu, Rio kembali menatap Becca membuatnya langsung mengerti arti dari tatapan yang Rio berikan. Dia masih penasaran sama jawaban yang Becca berikan.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kakak. Maksud aku bukan untuk memberikan harapan palsu atau menolak kakak. Jujur, kalau untuk perasaan. Aku memang memiliki perasaan sama seperti kakak, hanya saja aku belum tahu bagaimana pendapat Naku. Aku tidak mau melangkahi anakku, karena Naku satu-satunya sekeluarga yang aku punya. Jika dia mengizinkan maka, kita bisa bersama. Kalau tidak, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Naku merupakan bagian dari hidupku, jadi aku tidak bisa bertindak semauku begitu saja. Aku takut, jika aku menerima perasaa, tanpa persetujuan Naku. Itu akan membuat hubungan kalian kembali memburuk, aku tidak mau. Maka dari itu, bisakah kakak berikan waktu 3 hari saja untukku agar aku bisa mengatakan apa keputusanku atas lamaran kakak hari ini."
__ADS_1
Bukannya Rio merasa sedih, tetapi dia malah tersenyum lebar menanggapi jawaban dari Becca. Sehingga, Becca menjadi bingung ketika melihat Rio.
"Ke-kenapa kakak ketawa? A-apa ada perkataanku yang me-menyakiti kakak? Jika itu benar, aku minta---"
"Ssttt, jangan teruskan lagi. Aku gapapa, kok. Malah aku senang. Dibalik semua penjelasanmu yang seperti itu, aku bisa menyimpulkan kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku."
"Ya, memang. Aku juga mencintai kakak, tapi aku tidak bisa memutuskan semuanya sepihak. Aku harus menunggu jawaban dari Naku, setelah itu baru aku bisa memberitahu pada kakak."
"Untuk masalah itu, kamu tidak perlu meminta izin padaku. Sampai kapanpun aku akan menunggumu, dan aku juga akan berjuang untuk mendapatkan restu itu. Jadi, kamu jangan khawatir. Kalau pun Naku tidak mengizinkan, aku punya seribu cara mendapatkan lamph ijo darinya."
"Aku takut, Kak. Takut kalau Naku tidak bisa menerima semua ini, kakak tahu sendiri bagaimana sikap Naku. Waktu itu saja saat Yola memintaku untuk menjadi ibu sambungnya, Naku menolak keras. Apa lagi sekarang, aku harus memberikan pengertian sebisa mungkin agar Naku bisa mengizinkan kita."
Rio menaruh kotak cincin yang dia pegang diatas meja, lalu mengubah posisinya sedikit miring menghadap Becca. Kemudian kedua tangannya langsung menggenggam tangan Becca sambil mengelus punggung tangannya.
Senyuman lebih Rio berikan pada Becca agar tidak membuatnya semakin cemas. Perlahan Rio memberikan pengertian sama Becca, kalau dia akan tetap berjuang apapun cobaan serta ujiannya di depan nanti, maka Rio akan terus berada di samping Becca dan memperjuangkan cinta mereka, tanpa rasa lelah.
Becca lagi-lagi terharu. Dia tidak bisa membayangkan, sendainya Becca sudah berusaha memberikan pengertian, tetapi Naku masih belum bisa memahaminya. Apa dia akan menyia-nyiakan kebahagiaanya, atau dia akan tetap meneruskan cinta sampai mendapatkan restu anaknya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1