Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Nama-nama Burung


__ADS_3

Perlahan Rio membuka kaca mobilnya bersamaan munculnya seorang pria dengan atribut lengkap. Belum lagi di depan mobil Rio, terdapat beberapa motor parkir yang di duga adalah teman dari pria tersebut.


"Permisi, Tuan. Saya dari kepolisian ingin melihat data-data mobil beserta identitas kalian berdua, bisa di tunjukkan sekarang?" ucap pria itu, sambil memberi hormat.


"Bi-bisa, Pak. Sebentar!" ucap Rio, langsung mencari dompetnya untuk mengeluarkan identitasnya.


Setelah itu membuka daspor mobil dan mengeluarkan data-data mobilnya. Sama halnya dengan Becca, dia memberikan identitasnya pada Rio agar bisa di berikan pada polisi tersebut.


Becca melirik ke arah beberapa orang dengan sedikit rasa bingung, di sela-sela polisi itu sedang memeriksa semua data. Dengan berani, Becca segera menanyakan penyebab mereka kepung seperti ini.


"Maaf, Pak. Ada apa ini ya? Perasaan kami tidak melakukan pelanggaran apa pun, terus kenapa kami di periksa?"


Salah satu polisi sedikit membungkuk menatap Becca, lalu menjawab apa yang Becca tanyakan, "Ya, memang betul, Nyonya. Kalian tidak melakukan pelanggaran, hanya saja dari kejauhan kami melihat ada yang aneh dengan mobil ini."


"Kami kira tidak ada penghuninya, saat kami dekatkan lagi ternyata kami melihat mobil ini bergoyang. Saat kami telusuri ke dalam, ternyata Nyonya dan Tuan hampir melakukan hal tidak senonoh di dalam mobil. Maka dari itu, saya segera menghentikan dan mengecek semua keaslian identitas semuanya."


Rio langsung menoleh ke arah Becca, dan sebaliknya. Mereka tidak menyangka, aksi bercandanya malah membuat seseorang berpikir jelek padanya.


"Semua identitas Tuan, Nyonya dan mobil ini tidak ada masalah. Hanya saja, apa bila kalian ingin melakukan adegan hubungan suami-istri sebaiknya lakukan di rumah saja. Itu jauh lebih baik, dan tidak akan membuat badan Tuan dan Nyonya merasakan pegal."


"Dari pada di tempat sepi seperti ini, dengan penerangan lampu yang kurang, bahkan tempat yang sempit. Itu akan memicu munculnya kejahatan dari berbagai sudut. Nanti yang ada Nyonya sama Tuan bukannya merasakan enak-enak, malah menjadi panik karena ada orang jahat yang akan mencoba mencelakai."


"Nah, benar itu, Tuan, Nyonya. Apa yang di katakan oleh Komandan kami. Bagaimana kalau si Dedek sudah masuk dan mulai nyaman, lalu baru saja ingin muntah. Ehhh, tiba-tiba di hentikan oleh aksi orang-orang jahat. Bisa-bisa bukan kepala bawah lagi yang pening, kepala atas juga akan ikutan pening karen si Dedek tidak jadi muntah. Hihi ...."


Beberapa rekan polisi yang lainnya ikut tertawa ketika mendengar kata-kata tersebut. Belum lagi, ada beberapa rekan polisi yang terus mengajak mereka bercanda agar tidak membuat keduanya menjadi tegang.


Wajah Rio langsung memerah, perlahan tangannya mencoba untuk menutupi si Adik kecil yang sudah lama tertidur kembali menunjukkan jati dirinya.


Sementara Becca, bukannya malu malah ikut nimbrung candaan para polisi yang semakin menyudutkan Rio.


"Nahkan, apa yang aku bilang, Sayang. Untung kita belum melakukannya, coba kalau udah. Bisa-bisa menjadi tontonan gratis Bapak polisi ini!"


"Huhh, dasar Ipul-Ipul. Kalau udah pengen susah banget buat di tahan. Maaf ya, Pak. Suami saya memang begini, kalau lagi kumat. Jangan di mobil, di semak-semak pun jadi dia mah, hihi ...."


Kata-kata Becca benar-benar berhasil membuat Rio semakin malu, wajahnya sudah bagaikan tomat yang kematangan. Sedangkan beberapa polisi malah tertawa, sebab mereka pun bisa merasakan apa yang Rio rasakan ketika pengen.


"Hyakkk ... Dasar istri lucknut! Bisa-bisanya Nama burungku Ipul, kaya enggak ada yang bagusan dikit aja!" pekik Rio, tidak terima burungnya bagus-bgus malah di namain seperti itu.

__ADS_1


"Itu udah pas sayang, Ipul. Imut dan powerfull, bhahah ...."


Rio membolakan matanya saat tahu kalau Ipul itu merupakan nama singkatan yang benar-benar menggoda.


"Njasss, kelas! Kalau burung Tuan namanya Ipul, terus burung Komandan siapa?" tanya salah satu anggota polisi.


"Gani. Gagah dan berani, chuaks haha ...." jawab Komandan, tertawa.


"Gila, berani gak tuh, bhaha ..." sahut anggota lainnya.


"Eitts, bukan Komandan doang ya. Kami pun punya julukan masing-masing!" ucap anggota satunya, penuh percaya diri.


"Apa, coba katakan nama burung kalian?" tanya Komandan, langsung membuat salah satu anggotanya segera mendekati satu persatu rekannya untuk menanyakan pada rekannya.


"Bre, Bre. Spill nama burung lu pada dong?"


"Gunawan. Gundul dan menawan."


"Njass, keren. Hahah ...."


"Bruno. Baru masuk udah bilang oh, no!"


"Imron. Item dan merona."


"Widihh, haha ...."


"Kagura. Kalem, gundul dan beraura."


"Jiahaha ..."


"Pedro. Pedes di jero."


"Udah kek mulut tetangga ya, Bro. Bhaaha ..."


"Gatot. Gagah dan berotot."


"Chuakks hahah ...."

__ADS_1


"Bekri. Bengkok ke kiri, hihi ...."


"Nji*irr. Gimana masuknya, Bro. Hahah ...."


"Sumagi. Suka minta lagi, hihi ...."


"Aduh, gak bahaya ta, haha ...."


"Murat. Imut dan berurat


"Ini, nih yang sulit haha ...."


"Kurama. Kuat, ramah dan berirama."


"Weew, ada temponya ya, Bro. Bhahah ...."


Lelucon itu membuat beberapa rekan polisi ada yang tertawa ngakak dan juga ada yang menangis. Sama seperti Becca, dia tertawa sambil mengeluarkan air matanya ketika mendengar nama-nama burung dari berbagai polisi.


Setelah kelucuan itu berakhir, Komandan polisi segera menasihati Rio dan Becca agar segera kembali pulang ke rumah untuk menuntaskan sesuatu yang Rio tahan.


Becca hanya mengangguk, di mana Rio sudah menahan rasa kesalnya. Selepas polisi itu pergi, Becca tertawa terbahak-bahak hingga membuat Rio semakin malu.


"Hyaaakk! Bisa diam tidak, kamu, Ca! Jangan sampai Ipul bangun yee, kalau udah bangun kau harus tanggung jawab!"


"Aaaa ... Tidak, tidak, tidak! I-iya, iya aku diem, nih. Aku diem! Udah ayo pulang, aku tidak mau sampai Ipul bangun di saat tidak tepat, bisa-bisa aku menjadi korban keamukan benda kecil, tumpul dan menggemaskan itu. Huaa ...."


"Becca!"


"Hahaha ... Ya-yaa, ma-maaf. Piss!"


Rio melirik tajam ke arah Becca, lalu dia membuang wajah malunya untuk menutupi darinya. Rasanya Rio sudah tidak tahan lagi, saat si Ipul sudah mulai memberontak ingin keluar dari sarangnya.


Hanya saja, dia harus menahan semua itu demi kenyaman satu sama lain. Rio hanya memfokuskan pikirannya pada laju mobil, meski sesekali dia melirik ke arah Becca yang sedang asyik dengan ponselnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2