
Di suatu tempat, tepatnya di dekat danau di mana Becca dan Rio pertama kali bertemu saat Becca dalam kondisi frustasi di sebuah BAR.
Entah mengapa, tempat ini terlintas di dalam ingatan Rio saat mencoba untuk mengingat tempat-tempat yang mereka kunjungi bersama.
Sesampainya di sana, Rio segera turun dari mobil. Dia begitu yakin akan keberadaan Becca. Dikarenakan jantungnya berdebar cukup kuat. Dan, benar saja. Saat mata Rio mulai beredar menatap seluruh parkiran. Dia menemukan mobil Becca terparkir jelas di ujung dengan di apit oleh mobil lainnya yang hampir mirip sama mobil miliknya.
Tanpa basa-basi, Rio segera berjalan menggunakan langkah panjangnya menelusuri danau tersebut secara cepat. Dari ujung kanan sampai ke kiri, tidak sedikit pun Rio menemukan keberadaan Becca di taman dekat tepi laut.
Sampai tidak sengaja, matanya melihat ke arah laut. Di mana Becca sedang menaiki perahu seorang diri yang lama kelamaan perahu berlabuh ke tengah-tengah perbatasan.
"Becca? Benarkah itu dia? Jika benar adanya, kenapa dia berani menaiki perahu sendiri ke tengah perbatasan? Apa dia tidak takut?"
"Ehh, tu-tuggu dulu! Sepertinya dia sedang menangis sambil menulis sesuatu di buku. Apa jangan-jangan dia sedang melakukan yang waktu itu kami lakukan bersama di sini?"
"Kalau begitu, aku harus menyusul Becca. Aku takut sesuatu terjadi padanya, intinya aku harus tetap berjaga-jaga agar Becca tidak berada dalam bahaya!"
Rio berbicara di dalam hatinya dengan keadaan cemas akan posisi Becca saat ini, lantaran Rio melihat perahu yang Becca naiki perlahan mulai berjalan sendiri menuju ke arah pembatas antara laut. Mungkin, semua itu di sebabkan oleh tekanan air atau angin laut yang terasa cukup kencang.
Tempat tersebut adalah tempat wisata pada umumnya. Akan tetapi, kali ini tidak banyak orang yang berkunjung ke tempat itu akibat hari ini merupakan hari biasa bukan hari libur. Jadi, Rio tidak ingin mengambil resiko kalau dia harus terdiam diri untuk menunggu Becca kembali ke pinggir laut.
Tanpa di sadari, Becca yang sedang fokus menuliskan semua unek-unek di hatinya tepat di atas kertas, karena rasa kecewanya terhadap sikap Naku dan juga Gala. Sama sekali, tidak menyadari apa bila air laut sudah masuk ke dalam perahunya sekitar mata kaki.
__ADS_1
Semua itu karena perahu yang di tumpangi Becca mengalami kebocoran yang cukup membuat air laut cepat sekali masuk ke dalam perahu.
Setelah selesai menuliskan semuanya, Becca segera memasukannya ke dalam botol lalu mengalirkannya secara perlahan ke arah laut sambil mendorongnya dengan memainkan air danau agar segera berjalan ke arah laut lepas.
Saat menyadari semua itu, wajah Becca seketika berubah menjadi bingung dan juga panik, "A-air apa ini? Perasaan tadi tidak ada, te-terus kenapa malah airnya bertambah banyak?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Becca bingung. Perlahan Becca berusaha untuk mengeluarin air di dalam perahunya menggunakan kedua tangan sambil matanya mulai mencari-cari di mana sumber masalah pada perahu tersebut.
"Astaga, kenapa airnya makin banyak! A-apa jangan-jangan, pe-perahunya bocor? Ji-jika benar, itu ar-artinya sebentar lagi a-aku akan teng-tenggelam bersama kapal ini?"
"Hyakk! E-enggak, ini tidak boleh terjadi! Aku harus berusaha mengeluarkan air yang ada di perahu ini secara perlahan sambil sesekali menjalankan perahunya menuju ketepian. Pokoknya, aku harus semangat. Intinya aku bisa selamat, titik!"
"Semangat, Becca. Semangat! Kau pasti bisa, ingat jangan panik, jangan panik! Semakin kau panik, maka keseimbangan perahu akan menjadi terganggu akibat pergerakanmu yang terlalu cepat!"
"Apa pun yang terjadi nantinya, setidaknya kamu sudah berusaha untuk menyelamatkan dirimu sekuat tenagamu. Jangan pernah putus asa, ingat! Tuhan akan selalu bersamamu, jika kamu sungguh-sungguh ingin hidup!"
Becca berbicara sambil terus mengeluarkan air di dalam perahu menggunakan kedua tangannya secara cepat, tanpa melakukan banyak pergerakan. Tidak terasa air matanya mulai membanjiri pipi Becca, ketika dia tidak tahu harus bagaimana mengeluarkan air yang terus naik.
Rasanya Becca benar-benar takut, kegelisan di wajahnya berhasil membuat Rio yang baru menaiki perahunya merasa cemas. Terlihat jelas dari gerak-gerik Becca, kalau dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Air yang Becca keluarin secara terus menerus dari dalam perahunya, berhasil membuat Rio langsung menyimpulkan apa bila perahu yang di tumpangi Becca mengalami kendala cukup serius.
__ADS_1
"Ca, hei! Aku di sini!" teriak Rio sekeras mungkin.
Becca yang mendengar sedikit samar panggilan tersebut langsung menoleh ke semua arah. Di mana matanya langsung menemukan Rio yang sedang melambaikan tangannya sambil melajukan perahunya untuk mendekatinya.
Jarak peratu Rio dengan Becca kurang lebih ada 10 sampai 15 meter. Jadi, Becca sedikit menyipitkan matanya untuk melihat seseorang yang memanggilnya.
"Ca, apa kamu dengar aku? Ini aku Rio!" teriak Rio terus mencoba secepat mungkin mendayung perahunya.
"Ka-kak Rio? Be-benarkah itu dia?" gumam kecil Becca, saat tidak percaya. Ketika lama kelamaan wajah Rio mulai terpampang, barulah Becca mempercayainya.
Becca melambaikan tangannya secara antusias sambil berteriak meminta tolong padanya. Akan tetapi, pergerakan Becca yang cukup menguras keseimbangan membuat perahu itu mulai oleng ke kanan dan ke kiri.
Sampai akhirnya, Becca yang lupa akan keseimbangan perahu yang sudah tidak baik-baik saja. Membuat keseimbangan mereka sudah tidak bisa di pertahankan, lalu Becca terjatuh ke laut bersamaan dengan perahu yang terbalik.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1