Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Demam Karena Rindu


__ADS_3

Melihat dokter keluar, Becca dan Rio langsung berdiri menatapnya dengan pandangan mata terus memancarkan harapan terbaik untuk anaknya. Berat, cuma tidak ada pilihan untuk sang dokter mengatakan semua yang terjadi pada Yola.


"Dok, gimana anak saya?" tanya Rio, wajahnya terlihat sangat panik bercampur cemas.


"Yola baik-baik aja 'kan, Dok? Panasnya apakah udah turun, atau masih tetap sama, Dok? Terus kenapa anak saya tidak bangun, padahal tadi dia ngigau manggil-manggil nama temannya."


Becca mencecar sang dokter dengan pertanyaan yang membuatnya hanya melirik ke arah suster. Tidak ada yang harus disembunyikan, suka tidak suka dokter akan menjelaskan semua kondisi Yola meskipun, semua itu berat untuk diterima keluarga pasien.


"Bisa kita duduk dulu, Tuan, Nyonya. Supaya kita bisa sama-sama tenang, sekalian saya akan menjelaskan tentang hasil LAB yang sudah keluar," ucap dokter, langsung membuat Rio mempersilakan mereka duduk di ruang tengah.


Mereka semua duduk, kecuali Naku yang berdiri menggendong sang adik sesekali mengajaknya bercanda sambil memberikan mainan supaya tetap diam dan tidak rewel.


"Gimana, Dok? Apa hasilnya?" tanya Rio, penasaran.


"Sabar ya, Tuan Nyonya. Saya akan jelaskan pelan-pelan supaya tidak membuat kalian semua menjadi panik. Jadi, begini ...."


Dokter membuka amplop cokelat panjang yang masih tersegel, lalu menunjukkan pada keluarga pasien supaya mereka mengetahui bila hasil LAB tersebut adalah asli dan sama sekali tidak dibuka.


Rio mengangguk, membuat dokter langsung membuka amplop tersebut. Perlahan surat putih yang berisikan hasil LAB dibuka lebar, kemudian dokter membacanya secara teliti untuk menganalisa penyakit yang Yola derita.


"Secara keseluruhan dari hasil LAB semuanya normal saja, Tuan, Nyonya. Tidak ada penyakit yang kita bicarakan itu bahkan tidak ada virus juga di dalam da*rah. Saya pun bingung, kenapa panasnya tetap masih tinggi. Apakah sebelumnya Nona Yola baik-baik saja, atau memang ada gejala lain sebelum panasnya setinggi ini?"

__ADS_1


Rio dan Becca saling melirik satu sama lain, lalu menoleh ke arah dokter dengan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Dok. Awalnya semua baik-baik aja, tidak ada yang dikhawatirkan. Malam Yola masih sehat, masih aktif juga. Cuma, pas pagi badannya panas sekitar 36 derajat celcius. Saya kira hanya demam biasa kecapean atau apalah itu namanya anak-anak kalau lagi aktif banyak kegiatan di sekolah 'kan, wajar ya, Dok,"


"Anehnya, pas siang setelah Kakaknya pulang. Di situ kami baru tahu kalo panas Yola langsung tinggi sampai 42 derajat celcius. Sementara, beberapa menit lalu kami cek suhunya tetap seperti semula 36 derajat. Maka dari itu, secepat mungkin kami membawanya ke rumah sakit. Kami takut panas yang tinggi seperti ini bisa terjadi sesuatu pada Yola."


Penjelasan dari Becca mewakilkan jawaban dari semuanya. Jangankan keluarga Yola, dokter sendiri pun merasa bingung. Sebenarnya ada apa dengan Yola, kenapa dia mengalami panas tinggi sementara semua hasil LAB normal.


Dokter terdiam sejenak, memikirkan langkah apa yang harus mereka ambil untuk kesembuhan Yola. Jika semua ini didiamkan, dokter takut panasnya akan semakin tinggi hingga menimbulkan berbagai penyakit berbahaya.


"Tunggu, Tuan. Tadi saya dengar pasien sempat mengigau. Jika boleh saya tahu apa isinya?" tanya dokter, penasaran.


Rio langsung menjelaskan semuanya, membuat dokter mendengarkan setiap cerita yang disampaikan. Dari sini dokter dapat menyimpulkan apabila panas yang Yola alami hampir sama seperti anak kecil yang merindukan orang tuanya ketika ditinggal atau orng-orang yang dia sayangi.


"Baiklah, saya mengerti. Bagaimana jika Tuan dan Nyonya seger hubungi pria pernama Joey itu. Minta dia untuk melakukan video call kepada pasien meskipun, pasien tertidur lakukan saja. Siapa tahu pasien bisa merasakan jika seseorang yang dia rindukan dalam keadaan baik-baik saja. Cuma, kami tetap akan melakukan tes kedua kalinya untuk memastikan kalau ini hanya panas yang disebabkan oleh ikatan batin, bukan virus ataupun penyakit hipertermi yang sudah saya jelaskan itu," jelas dokter menatap semuanya secara bergantian.


"Mungkin begitu saja, Tuan, Nyonya. Saya pamit untuk mengurus pasien yang lain. Jika ada apa-apa, langsung hubungi kami. Permisi," sahut dokter langsung berdiri bersamaan dengan Becca dan Rio. Kemudian dia pergi keluar dari ruangan Yola bersama asistennya


Becca segera mengambil alih Juan dari Naku. Setelah itu, Naku dan Rio langsung menghubungi keluarga Joey yng tidak diangkat-angkat. Sampai seketika, suara ketukan pintu terdengar nyaring membuat Becca membuka pintu.


"Selamat sore, maaf kami baru menjenguk. Soalnya tadi Naila baru mengabarkan kami tentang kondisi Yola. Sekarang gimana Yola?" tanya Vivi, menggandeng Nuel.


"Ya, begitulah. Udah, ayo, masuk dulu, silakjlan."

__ADS_1


Becca tersenyum membuat keluarga Naila langsung masuk dan Vivi sedikit memberikan pelukan serta mencium pipi kanan-kiri sebagi sapaan terhadap sesama wanita. Sedangkan Leon menjabat tangan Rio dalam keadaan tersebut.


"Ehh, di mana Naila? Kok, tidak kelihatan?" tanya Leon, mencari putrinya.


"Lagi tidur di kamar, Om," jawab Naku, mendapatkan senyuman.


"Aduhh, anak itu bisa-bisanya tidur dalam keadaan seperti ini," ucap Vivi menggelengkan kepala.


"Udah gapapa, Naila kelelahan soalnya dari tadi Juan hanya mau sama dia. Ini baru mau sama aku, ayo, duduk dulu."


Semua duduk sesuai perintah Becca. Lalu, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Yola. Sementara itu, Naku tetap terus menghubungi keluarga Joey seperti apa yang disarankan oleh dokter.


Tak lama Naila bangun, lalu terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya dan Nuel yang sedang asyik bermain sama Juan di bawah beralas karpet. Naila langsung berjlan dan memeluk Vivi seperti biasanya ketik bangun tidur yang ingin dimanja.


Kurang lebih 10 menit berlalu, Naku masih harus terus mencoba bergantian dengan Rio untuk tetap menghubungi Joey. Namun, semua nomor tidak aktif membuat mereka semakin khawatir takut terjadi hal buruk terhadap keluarga Joey.


Akan tetapi, setengh jam kemudian. Ada panggilan masuk di ponsel Rio dari orang yang tidak dikenal. Sekali dua kali, Rio tidak ingin mengangkatnya takut jika itu hanya orang iseng. Cuma, setelah lima kali melakukan panggilan pada akhirnya Rio mulsi mengangkatnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun untuk memastikan apakah dia mengenalnya atau tidak.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2