
"Hai, Cantik! Apakah bisa aku bantu?" ucap seseorang sambil tersenyum di hadapannya.
Naila terkejut oleh ke datangan seseorang yang sangat dia impikan, di mana seorang pria tampan hadir tepat di sebelahnya yang membuat Naila hampir saja meleleh bagaikan es batu di bawah terik matahari.
"O-oppa Jungkook? I-ini benarkah Oppa?" tanya Naila, wajahnya mulai memerah menahan malu.
"Ya, ini aku, Cantik. Aku hadir karena aku ingin membantumu, jadi katakan apa yang bisa aku bantu, hem?" tanya Oppa Jungkook terus mengukir senyuman imutnya bagaikan seekor kelinci.
Naila yang tidak kuat lagi menahan rasa bahagianya, langsung saja memeluk Oppa Jungkook sangat erat. Akan tetapi sorakan hingga tepukan tangan langsung menyadarkan Naila dan dia segera melepaskan pelukannya.
"Cie, ciee ... Naila meluk Naku, haha ...."
"Wah, PJ dong. Baso Pak Emin ya, nanti kita doain biar kalian langgeng terus. Oke?"
"Berita yang sangat langka, seorang Naku yang terbilang dingin dan tidak bisa di senggol saat di peluk oleh Naila langsng kaya patung, bhahaha ...."
__ADS_1
"Ekspresi wajahnya itu loh, gemes banget. Pengen deh rasanya mencubit ginjalnya, hihi ...."
Suara-suara itu berhasil membuyarkan imajinasi Naila, ketika dia membayangkan bila kehadiran Naku di sampingnya seperti hadirnya Oppa Jungkook kesayangannya.
Padahal nyatanya, Nakulah yang berada di sampong Naila dengan menanyakan kesulitan apa yang dia alami. Sementara Naila malah terdiam dan berbicara di dalam hatinya saat dia mengira bila Naku adalah Oppa Jungkook.
"O-oppa Naku? Nga-ngapain kamu di sini, ta-tadi bukannya Oppa Jungkok yang ada di sebelahku?" tanya Naila, wajahnya benar-benar terlihat polos.
"Oppa Jungkokk, mata lu soek!" seru Naku, kesal.
Berbeda sama Naku, dia terlihat sangat malu akibat ulah Naila yang sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia membayangkan idolanya di dalam keadaan yang dia sendiri pun sedang di bingunkan oleh kunci jawaban.
Akan tetapi, kelas kembali mulai tenang saat sang guru mencoba menenangkannya. Meskipun, Naila dan Naku wajahnya masih di penuhi oleh rasa malu.
"Lain kali, jangan kebanyakan nonton drakor atau band-band Korea. Kamu itu masih kecil, Naila. Tidak baik untuk perkembangan pikiranmu, untungnya Naku yang di bilang Oppa karena sekilas wajahnya sekilas mirip seperti orang luar negeri."
__ADS_1
"Lah, coba kalau si Budi itu yang kamu bilang Oppa Jungkook. Wah, yang ada kamu bisa kena tonjok Army. Idola kesayangannya di samakan sama Budi yang kulitnya coklat padam begitu. Udah macam es kul-kul!"
Semuanya tertawa puas saat wajah Budi di samakan oleh sang guru sama es kul-kul yang jualan di pinggir jalan. Di mana es kul-kul berasal dari buah-buahan yang di bekukan, kemudian di celupkan di coklat yang sangat lumer dan di berikan sedikit toping di atasnya. Sehingga jajanan tersebut begitu di gemari di kalangan anak-anak, sebagai pengganti es krim.
Sementara Budi hanya bisa tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat rasa malu. Bagaimana tidak malu, ketika kecil Budi terlihat seperti orang luar negeri yang putih, tetapi saat sudah mengenal permainan di luar rumah semua cuaca dia terjang habis-habisan. Tidak kenal hujan, badai atau pun gersang. Dia babat habis tanpa menyisakan waktu untuknya beristirahat atau sekedar tidur siang.
Beberapa menit kemudian, kelas menjadi hening. Waktu semakin berjalan, hampir semua murid menjadi ketar-ketir untuk mengerjakan soal yang sudah di berikan.
Berbeda sama Naku dan Naila, mereka sudah pergi meninggalkan kelas menuju kantin. Sepanjang mereka berjalan, Naila merasa senang. Bukan berarti dia senang sudah memeluk Naku, melainkan dia senang karena Naku selalu menjadi super heronya ketika dia berada di dalam kesulitan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung